Jum. Feb 23rd, 2024
Tombol Pendidikan goyah

Penulis : As’ad. Aswari – Penggiat Pendidikan

Pendidikan adalah menjadikan manusia menjadi manusia, bagitulah kata Bung Karno bapak poklamator Republik Indonesia. Disinilah, peran penting pendidikan hadir dalam waktu yang sangat dibutuhkan, sehingga akan melahirkan kader-kader bangsa yang bernuansa kebangsaan yang peduli terhadap bangsanya (cintah tanah air). Sejauh ini, pendidikan harus dikoreksi ulang untuk perkembangan dalam melahrikan oktor-aktor kader yang sesuai dengan masanya.

Dengan demikian, fenomena sekolah lima hari, menjadi bumbu-bumbu racun yang mematikan bagi pendidikan yang berkembang di Indonesia. Terlebih lagi, sekolah Madrasah Diniyah (MD) yang dianak tirikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Medikbud).

Seharusnya, dalam mengembangkan pendidikan mereka tidak harus mengurangi hari yang sudah berjalan dengan baik, akan tetapi mengevaluasi atau mendongkrak kembali pendidikan yang sudah mapan, bukan sebaliknya (merobohkan) Nya, bahkan dilakukan dengan sadar. Memang, bapak mentri melakukan gerakan baru/dobrakan baru, akan tetapi dobrakan yang menyesatkan nafas pendidikan di Indonesia, sehingga melahirkan tekanan tombol pendidikan yang terlalu parah dan keras. Seperti halnya, seorang yang mengemudi motor yang melampui batas kecepatan diarahkan kejalan yang berbelok-belok, lalu rim diinjak terlalu ditekan, maka yang terjadi akan terjatuh, semoga tindakan bapak mentri tidak demikian.

Sejauh ini pula, organisasi terbesar di Indonesia (NU) pun membaikot menolak sekolah lima hari. Sebab, beribu-ribu MD yang sangat dirugikan oleh kebijakan bapak mentri, sehingga pihaknya memberikan alasan untuk tidak setuju terhadap sekolah lima hari. Karna, Indonesia merdeka salah satunya yang menjadi pemantik kemerdekaan adalah para santri yang bersekolah di MD.

Dobrakan Mendikbud, membuat resah, pilu dan bahkan pendidikan mengalami penyakit  flu, karna tersakiti oleh kebijakan yang menyesatkan anak bangsa. Mereka yang akan dikasik waktu 8 jam perhari, dan menghanguskan waktu MD. Sejalan dengan ini, timbullah pertanyaan kepada bapak Mendikbud “kemanakah arah pikirannya / keperduliannya terhadap MD (Madrasah Diniyah )?”, seakan bapak mentri menutup mata terhadap  duania keagamaan di Indonsia yang terkenal dengan Islam Nusantara.

Jika demikian memang terjadi, maka tamatlah usia pendidikan Indonesia yang tertanam dengan moral yang sejati. Sebab, moral yang sesungguhnya hanya dipelajari di MD. Langkah selanjutnya, dan yang sebenarnya adalah bapak mentri harus betul-betul mengetahui kapasitas potensi yang dimilki oleh para pendidik. Agar, apapun yang menjadi harapan seusuai tampa harus membumi hanguskan hari-hari yang sudah berjalan. (AA).

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.