Rab. Sep 30th, 2026

Ditengah kesibukan akhir-akhir ini, saya teringat satu adagium yang disampaikan oleh guru sosiologi saya saat masih duduk di kelas 2 MA,

الاسلام محجوب بالمسلم

Islam terhalang oleh umat islam itu sendiri. Di pesantren, saya bertemu dengan banyak orang (bertemu secara keilmuan: karyanya), diantaranya Syaikh Nawawi Banten, Ibn Hajar Asqalan, Ibn Hajar Haitami, Suyuthi, Mahalli, Al-Ghazali dls. yang karyanya mudah didapatkan. Ketika kuliah, saya bertemu dengan orang-orang baru seperti Abdul Wahab, As-Syaukani, Syakrawi, Muhammad Abduh, Rashid Ridha dls, yang notabene karyanya masuk dalam kategori Modernis atau tajdid dalam istilah SKI dulu. hehehe.

What the point? Keterbatasan akses pada sumber bacaan. Perpustakaan itu penting, sungguh mengharukan keberadaan sebuah lembaga pendidikan tanpa diisi oleh sebuah perpustakaan dimana orang-orang penting dari lintas generasi bisa bertemu. Umat islam yang saat ini dinilai oleh para mujadid terkubur dalam liang kejumudan, memang seharusnya dibangunkan oleh gagasan-gagasan terbaru, keterbukaan cara berpikir terhadap lingkungan dan perkembangan, mempelajari politik dan tidak lagi menganggapnya sebagai hal yang kotor.

Penulis teringat dawuh pengasuh, Kiai maksum, jadi apapun kamu, hendaklah bersama dengan taqwa. Ketaqwaan ini yang membedakan. Maka tak ayal, pesantren sering diserang sebagai markas keterbelakangan karena hal-hal demikian. Meskipun pada dasarnya, itu bukan alasan untuk menyatakan pesantren terbelakang, tetapi sebagai bentuk melindungi dari pemikiran-pemikiran yang mengedepankan semangat kritis sembari merelatifkan sesuatu yang dianggap sakral dalam Islam.

Momen maulid contohnya, apa esensi dari perayaan event tersebut jika tidak bukan untuk meneladani Nabi Muhammad SAW. Apa ada orang-orang yang membaca Maulid Diba’ hingga khatam daripada sekedar geleng-geleng kepala karena irama nyayian penabuh rebana? Apa ada mereka yang membacakan siroh Nabi secara ekslusif untuk mengingat bahwa apa yang penting bagi seorang muslim mengetahui siapa Nabinya, kapan dan dimana lahir serta wafatnya dan sekelumit kecil dari kehidupannya?

Kemudian JIL datang, mereka berkoar-koar bahwa Muhammad seharusnya dikritisi karena dia juga manusia, bukan hanya dikagumi. Bagi yang mampu berpikiran dingin seperti Sidogiri, akan membalas secara argumentatif, tapi bagi yang tidak tahu apa-apa atau minim literasi? apa yang dikatakannya tentu melampaui akhlak seorang muslim. Terus siapa yang salah? wkwkwk.

Tulisan semacam ini lahir dari bacaan buku-buku ringan, penulis membaca mereka yang menyerukan ijtihad di zaman ini, pembaharu islam dan semacamnya seperti Khaled Abou Fadl, Nasr Hamid, Fathi Osman, Amid Said, Abid Al-Jabiri yang karya-karyanya baru dijumpai di perpustakaan kampus. Tulisan ini tidak lahir dari mimpi semalam, wkwkwk. Penulis juga tidak bisa memaksa teman-teman osim untuk menulis OPINI dan artikel ketika mereka ditanyakan dan menjawab? Opini itu kayak gimana pak? what the hell. wkwkwk.

Tulisan ini lahir setelah membaca, dan bagaimana bisa lahir sebuah tulisan jika tidak ada yang dibaca? halu. hehehe. Khaled Abou Fadl misalnya, di dalam The Search for Beauty in Islam: A Conference of the Books memaparkan bahwa kehidupan sarjana islam zaman dulu dipenuhi dinamika keilmuan, buku dan perdebatan di antara sarjana lain, bagaimana ke-empat madzab yang diakui di dunia pesantren bisa silang pendapat tanpa harus adu jotos. Tulisan ini misalnya, adalah salah satu contoh bagaimana Ibn Rusyd dan Alghazali bisa berkelahi dalam pemikiran.

Akhir kata, sebagaimana kata Tan Malaka, sosok yang penulis jumpai saat geliat diskusi di pondok masih membara seperti LKDSI, dan Kamus, beliau berkata “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.”, tapi siapa yang mau mengurangi jatah makan untuk beli buku? wkwkwk.

Wassalam

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..