Masih dari sepetak kamarku, dimana aku bergumul dengan ratusan orang dari lintas generasi yang mencoba mengatakan dan menawarkan ide-ide mereka. Tapi malam ini agak berbeda, Dr. Khaled Abou Fadl mengenalkanku cara berinteraksi dengan mereka, menghadirkan sosok-sosok di balik tulisan yang berjalan melintasi dimensi waktu.
Meskipun akhir-akhir ini aku sering mendengarkan bisik-bisik podcast dari Dr. Fahruddin Faiz yang biasa aku dengarkan saat masih kuliah, tetapi itu tidak cukup untuk membuatku mengerti tentang cinta-cinta yang merasuki jiwa-jiwa yang mengubah gelora asmara menjadi untaian prosa, bait pujian dan sastra super tebal.
Pada rak kitabku nomor 3, disitu mereka bersama, Sayyid Jazuli, Al-Bushiri, Al-Barzanji dan Habib Ali Al-Habsyi yang haulnya dilaksanakan beberapa hari yang lalu. Mereka sengaja aku biarkan tertidur miring pada penghujung rak karena memang bentuknya yang mungil dan tidak sama seperti kitab-kitab yang lain. Mungkin memang berbeda, karena mereka menulisnya tidak dengan rasionalitas atau sehabis perdebatan, tetapi setelah merajut perasaan hingga melahirkan sastra berkelas itu.
Benar gak sih? Sayyid Jazuli contohnya. Saat di daerah sekitarnya tidak ada timba sumur atau alat untuk mengambil air, tiba saja seorang anak kecil meludah dan airnya pun melompat ke permukaan sumur. Beliau heran? Wahai anak kecil, bagaimana bisa kamu melakukannya? Dia mengejek sayyid Jazuli ala soft-spoken, orang yang ngaku banyak bersolawat tapi masih bertanya bagaimana caranya? wkwkwk. Dia menjawab, wahai sayyid, bibirku selalu basah dengan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. bagaimana denganmu?
Halus, tapi menjadikan Sayyid Jazuli menulis kitab khusus untuk Shalawat, hingga lahirlah Dala-ilul Khayrat. Berbeda dengan Al-Bushiri, sakit stroke membuatnya hampir mustahil beraktifitas banyak, ia hanya terbaring di tempat tidur dari hari ke hari. Namun, di saat-saat itu, beliau merangkai bait demi bait pujian kepada Nabi, hingga hampir tuntas, Nabi mendatangi beliau dalam mimpi, menyelimuti Al-Bushiri dengan selimut. Lantas beliau langsung sembuh ketika bangun tidur.
Mimpi? Ya. Melalui mimpi. Aku tidak mau berdebat soal, benarkah cerita itu? Di awal kalimat sudah ditegaskan, kitab-kitab ini lahir bukan dari hasil perdebatan pikiran, tetapi dari pergulatan rasa. Kenapa tidak kita nikmati saja bagaimana indahnya Nabi melalui bait Al-Bushiri tatkala berkata:
وهو الذى تم معناه وصورته – ثم اصطفاه حبيبا برئ النسم
Yang pantas dijadikan kekasih hanya Nabi, ia yang sempurna baik dalam rupa dan dirinya.
كَالزَّهْرِ فِي تَرَفٍ وَالْبَدْرِ فِي شَرَفٍ – وَالْبَحْرِ فِي كَرَمٍ وَالدَّهْرِ فِي هِمَمِ
Beliau (Nabi) mirip dengan sekuntum mawar dalam keindahan wajahnya, umpama purnama dalam kemulyaannya, ibarat laut kedermawanannya dan keteguhannya sepanjang waktu. Di dalam bait lain,
كَأَنَّهُ وَهُوَ فَرْدٌ فِي جَلَالَتِهِ – فِي عَسْكَرٍ حِينَ تَلْقَاهُ وَفِي حَشَمِ
Seolah-olah beliau, ketika sedang sendirian dalam keagungannya, berada di tengah-tengah pasukan tentara yang besar dan para pengawal saat engkau menemuinya. Tetapi ada saja, bait terakhir ini sering disalahartikan, Al-Bushiri masih tetap dicap kafir karena cuplikan terakhir ini terkesan menafikan keagungan Tuhan. Wkwkwk. Bahasa cinta tidak dapat diterjemahkan bebas kepada orang yang tidak mencintai, tetapi beliau tidak sendirian. Al-Barzanji juga sama, beliau dituduh Syi’ah hanya karena mengungkapkan cintanya dalam bait-bait Maulid Barzanji itu, padahal beliau adalah mufti Syafi’i di Madinah.
Kadang cinta itu tidak dapat dilihat dengan mata kepala, tetapi mata hati. Jika demikian bagaimana cara memberitahu orang lain jika tidak dengan bait-bait yang terkesan dilebih-lebihkan itu. Habib Ali Al-Habsyi pun begitu, Simtud Dhuror lahir karena perasaan yang sama seperti Al-Jazuli, Al-Bushiri, Al-Barzanji dan lain-lain, jika tidak, mana mungkin haulnya bisa didatangi ribuan orang yang ingin membaca Maulid Simtud Dhuror bersama beliau.
Bincang ini terjadi pada malam senin, esok paginya, beliau, Sang Nabi lahir, seperti yang dikatakan oleh Al-Barzanji,
فلما اشتد بها الطلق بإذن رب الخلق وضعت الحبيب صلى الله عليه وسلم
ساجدا ، شاكرا ، حامدا
كانه بدر فى تمامه

