Jika kita membuka kembali lembar-lembar sejarah literatur dan pemikiran, kita akan mendapati bahwa tradisi silang pendapat melalui tulisan bukanlah barang baru. Generasi emas di masa lalu, baik di panggung peradaban Islam maupun era pergerakan nasional Indonesia, adalah para petarung tulisan yang sangat produktif. Namun, ada satu perbedaan mendasar yang memisahkan mereka dengan dinamika media sosial hari ini: para pendahulu kita memproduksi karya dan polemik pemikiran, sedangkan hari ini ruang publik kita disesaki oleh ujaran kebencian dan konten sampah.
Mari kita tengok bagaimana para ulama klasik atau tokoh pergerakan berdebat. Ketika Imam Al-Ghazali merasa ada penyimpangan dalam pemikiran filsafat pada zamannya, beliau tidak melemparkan makian murahan; beliau menulis mahakarya Tahafut al-Falasifah (Kekacauan Para Filsuf). Ketika Ibnu Rusyd hendak menjawab kritik tersebut, beliau membalasnya dengan argumen filosofis yang tak kalah tajam dan elegan melalui Tahafut at-Tahafut. Di Indonesia, kita mengenang bagaimana Soekarno, Natsir, dan Tan Malaka saling berbalas artikel di koran-koran zaman kolonial. Mereka berbeda ideologi secara tajam, tetapi ketajaman itu dituangkan dalam sintesis ide, kedalaman retorika, dan literasi yang memukau.
Lantas, mengapa generasi hari ini terkesan begitu mudah memproduksi hujatan dan konten tanpa bobot?
Penyebab utamanya terletak pada pergeseran medium dan insentif teknologi. Di era lalu, untuk menerbitkan sebuah tulisan, seseorang harus melewati proses penyaringan yang ketat: merenungkan gagasan, menguji referensi, mengendapkan emosi, hingga melewati meja redaksi penerbit atau surat kabar. Ada ruang jeda antara emosi dan eksekusi. Tulisan yang lahir adalah hasil pengendapan nalar.
Sebaliknya, arsitektur media sosial modern dirancang untuk memangkas ruang jeda tersebut. Karakter dasar platform digital adalah kecepatan dan instanitas. Algoritma media sosial tidak peduli pada kedalaman argumen atau kebenaran ilmiah; algoritma hanya peduli pada engagement (keterlibatan pengguna). Celakanya, emosi manusia yang paling mudah memicu engagement tinggi adalah kemarahan, kebencian, dan kontroversi dangkal. Kebencian dikapitalisasi menjadi angka views, dan hujatan dialihfungsikan menjadi monetisasi.
Kondisi ini diperparah oleh hilangnya daya tahan mental dalam memproses teks-teks panjang dan rumit. Generasi hari ini dimanja oleh informasi serba singkat, video durasi 15 detik, utas pendek, dan judul-judul clickbait. Ketika kemampuan membaca dan mengendapkan informasi menurun, kapasitas nalar kritis ikut tumpul. Manusia yang tumpul nalarnya tidak lagi memiliki amunisi argumen untuk berdebat secara sehat; satu-satunya senjata yang tersisa di jemarinya adalah makian, perundungan, dan stigma.
Fenomena ini adalah tragedi kebudayaan yang nyata. Tulisan yang seharusnya menjadi alat untuk mencerahkan batin, memperhalus budi, dan membangun peradaban, kini direduksi menjadi sekadar “peluru” untuk menjatuhkan lawan bicara. Kita menyaksikan melimpahnya informasi, tetapi mengalami kekeringan kebijaksanaan.
Untuk keluar dari kubangan konten sampah ini, kita harus mengembalikan etos “menghujat dengan karya”. Jika kita tidak sepakat dengan suatu pemikiran, lawanlah dengan tulisan yang lebih jernih. Jika kita melihat ketidakadilan atau kebodohan di ruang publik, koreksilah dengan data dan kedalaman analisis. Kualitas sebuah generasi tidak diukur dari seberapa riuh mereka berteriak di kolom komentar, melainkan dari seberapa kokoh karya dan gagasan yang mereka tinggalkan untuk masa depan.

