Jum. Apr 24th, 2026

Refleksi Hari Santri: Antara Tantangan Modernitas dan Marwah Adab

Selamat hari santri wahai semua santri di Indonesia. Meskipun untuk sampai pada momen satu dekade Hari Santri penuh dengan air mata, hal tersebut tidak boleh menjadi batu sandung yang menghalangi langkah pengabdian santri selanjutnya kepada bangsa. Mulai dari musibah yang menimpa Al-Khoziny yang menjadi panggung pemberitaan hingga pendiskreditan para kiai dan pesantren.

Hanya karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Satu kasus mampu mencederai banyak kebaikan yang telah dilakukan. Pesantren dan segala hal di dalamnya adalah hal yang saat ini ramai diperbincangkan, mulai dari platform ini dan itu. Mulai dari yang menghujat, hingga pembelanya.

Kita bisa apa? Mungkin kita perlu merenungi pepatah Arab yang digunakan Cak Nur dalam bukunya, Bilik-Bilik Pesantren:

الإنسان عدو ما جاهله

(Manusia menjadi musuh dari apa yang tidak diketahuinya).

Jelas hal yang tidak terbantahkan, orang yang belum pernah menjadi santri kemudian datang dengan klaim bahwa merunduk dan berjalan ngesot di depan Kyai adalah bentuk dari feodalisme. Mereka merendahkan tradisi yang didasarkan pada pokok-pokok etika tanpa terlebih dahulu mereguk setetes hikmah dari Kitab Ta’limul Muta’allim-nya Syaikh Zarnuji. Fatalnya, atas nama Jurnalistik mereka merefleksikan pesantren hanya dalam perspektif diri mereka sendiri, di tengah umat yang sedang bersedih.

Situasi ini memang terasa memilukan. Namun yang pasti, Kyai, Santri, dan Pesantren harus berbenah. Seperti kata Cak Nur, keinginan untuk mempertahankan fokus keagamaan beriringan dengan hasrat mengejar Modernitas sering kali menjadikan arah pesantren semakin tidak jelas. Gejala ini beliau sebut “Modernity Complex”, atau meminjam istilahnya Gus Dur dengan sedikit perubahan, menjadi “Pesantren yang bukan-bukan”—yang mana pesantren tidak cukup disebut modern hanya karena belajar Bahasa Inggris di dalamnya.

Namun, pesantren saat ini sudah banyak membuat perubahan dari apa yang telah disebutkan Cak Nur. Santri sudah banyak beradaptasi dengan segala kemungkinan dan tuntutan zaman. Bukan hal yang tabu lagi, santri kini ikut mencalonkan diri sebagai pemimpin daerah, menjadi PNS, hingga melanjutkan kuliah ke berbagai perguruan tinggi bukan cuma di dalam negeri, tapi juga di luar. Santri sudah berkiprah di dalam tubuh Polri, TNI, dan lain sebagainya.

Pesantren adalah penjaga tradisi sekaligus agen perubahan. Semoga dalam kesempatan Hari Santri 2025 ini, santri lebih banyak lagi berkontribusi kepada negeri, lebih banyak lagi, dan lebih baik lagi. Amin.

Selamat Hari Santri!

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses