Kam. Okt 1st, 2026

Sudah sejauh apa AI memberikan dampak pada keseharian kita? Sangat jauh. Artificial Intelligence kini merangkak jauh sangat cepat. Lahir berbagai macam model AI yang sudah mumpuni dalam mengerjakan banyak tugas, memecahkan masalah kompleks, membuat gambar, video, suara hingga mengerjakan hal-hal teknis.

AI lahir dari proses latihan berbagai macam data kompleks yang dikumpulkan untuk memberikan pemahaman yang dibutuhkan. Dari data-data tersebut, ia dapat memproduksi kata hingga menjadi jurnal dengan bahasa di atas rata-rata dilengkapi data yang tidak ada duanya. Ya, mereka tidak bisa berpikir dari nol layaknya manusia? AI adalah bentuk terlatih dari sebuah sistem atau program.

Gabe Newel di intro videonya saat promosi Code.org taun 2015 kemaren bilang, menjadi seorang programmer adalah mengajarkan benda terbodoh di dunia (komputer) untuk berpikir. AI adalah penjelmaan dari “Super” komputer itu. Ambil contoh Claude.AI, jenis AI yang menduduki peringkat pertama sebagai model ter-cerdas yang pernah dibuat harus dilatih dengan jutaan buku dari Library Genesis sebelum akhirnya mereka didenda sekitar 1.5 miliar dolar atau kisaran 27 triliun rupiah. Ia juga secara diam-diam melaksanakan proyek Panama, yakni membeli buku-buku bekas, menyalin isinya dengan scanner berkecepatan tinggi dan menghancurkannya.

Gemini, AI dari Google lahir dengan kekayaan data dari Google Data Centre yang melimpah. Namun masih belum mampu menyaingi Claude serta berada di bawah OpenAI yang melahirkan ChatGPT yang populer itu. Kemudian hadir DeepSeek yang memberikan harapan kepada para pengembang di luar sana bahwa China dapat membangun AI berkualitas hanya dengan modal yang minim. wkwkwk. Lahir Qwen, AI milik Alibaba Cloud, anak perusahaan Alibaba Group yang didirikan Jack Ma. Elon Musk, pemilik SpaceX dan Tesla pun tidak tinggal diam, Ia juga merilis AI versi mereka, Grok.

Tapi dari lusinan AI yang ada, mereka merilis-nya secara gratis seperti Google Gemini, Meta AI (Whatsapp, Facebook dan Instagram) , DeepSeek, ChatGPT dan lain sebagainya, padahal untuk memberikan sebuah jawaban dari pertanyaan

“Hai, Gemini”

Itu membutuhkan token yang perlu dibayar. Kenapa bisa gratis? Jawabannya ada di data. Kita tidak begitu peduli atau sedikit apatis? Tapi mereka menganggap apapun yang kita tanyakan, berikan dan minta AI untuk melakukannya akan menjadi bahan latihan mereka. Paham gak?

So itu daya jual mereka, sampe disini gitu aja soal AI. Ada yang rela gratisin AI pada dasarnya gak gratis, kita membayar dengan data yang kita berikan kepada mereka. Hehehe. Nope, ini bukan tulisan dari seorang yang paranoid soal teknologi, but that’s how it works!

Selamat Hari Kamis!

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..