Reshuffle kabinet Prabowo saat ini membawa nama-nama baru, membuang nama-nama yang terlalu asik dan dielu-elukan netijen sekaligus memunculkan pikiran-pikiran anyar tentang orang-orang yang dulu diharapkan bisa stand on side berseberangan dengan pemerintah. Ini bukan tulisan analitik tentang politik, tetapi hanya refleksi dari kejadian heboh yang masih hangat-hangat t*i. wkwkwk. Lebih ke why? sehingga pikiran-pikiran reflektif harus terbayang di atas motor membuat penulis kadang melakukan analisa me-to-me untuk sekedar menghubungkan semua kejadian itu.
Pembaca pasti tau, judul ini adalah celetukan netizen tentang seseorang yang dulu sangat vokal menentang pemerintah, menguliti kebijakannya dan kini, ia adalah minhum atau bagian dari pemerintahan itu sendiri. Salahkah? easy vroh!. Sekarang gimana? meskipun banyak yang kecewa akan masuknya sosok Rocky Gerung ke dalam lingkaran istana, kita harus mengetahui, why? Wantimpres seperti yang banyak disebutkan oleh berita “Semacam oversight committee…”. Who knows! intinya, kedatangannya ke istana menjadikan hari patah hati aktivis Indonesia. Hahaha.
Sebetulnya kalau mau ditarik ke belakang, pola ini sama sekali tidak baru. Dunia politik kita itu ibarat komedi putar: panggungnya muter di situ-situ aja, cuma kostum pemainnya yang ganti-ganti. Yang hari ini berapi-api teriak dari luar pagar, besok pagi bisa aja lagi asik ngopi di dalam ruang ber-AC sambil diskusi soal oversight committee.
Secara pragmatis, kekuasaan itu memang magnet paling kuat. Logika politik paling mendasar itu sederhana: kalau cuma bisa teriak dari luar, suara kita cuma jadi bisingan angin yang gampang diabaikan. Tapi begitu dapat akses ke dalam, ada ilusi, atau mungkin harapan jujur, bahwa perubahan bisa dieksekusi lewat pulpen keputusan. Entah itu motivasi murni buat fix the system from inside, atau cuma sekadar rasionalisasi manis pas tawaran posisi sudah menyapa. Hehehe.
Tapi yang bikin miris sebenarnya bukan keputusan si tokoh. Yang bikin kasihan itu kita: netizen dan barisan pendukung yang hobi banget menitipkan idealismenya ke pundak manusia lain.
Kita ini sering lupa kalau Rocky Gerung, Anies, atau siapa pun figur publik yang pernah kita dewa-dewakan sebagai pahlawan oposisi, pada dasarnya adalah politisi dan pengamat yang juga punya kalkulasi hidup. Begitu mereka manuver, kita yang menangis bombay di pojokan sambil posting meme “hari patah hati aktivis”. Padahal mereka di sana mungkin lagi toast cangkir teh hangat.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib dari abad ke-7 sudah ngasih peringatan paling presisi yang relevan sampai era reshuffle kabinet hari ini: bahwa menaruh harapan pada manusia itu jalan pintas menuju kekecean yang paling hakiki.
Jadi, pelajaran penting dari semua dinamika heboh ini sebetulnya bukan soal kenapa mereka akhirnya mau masuk lingkaran Istana. Tapi soal kapan kita berhenti jadi penonton yang terlalu gampang terbawa perasaan.
Biarkan mereka bertugas di Wantimpres atau jabatan apa pun itu. Tugas kita sebagai orang biasa ya tetap sama: menyalakan akal sehat sendiri, ngopi yang tenang, dan ngetawain komedi politik ini di atas motor saat jalan pulang. Karena pada akhirnya, idealisme yang paling aman dari kata sold out adalah idealisme yang tidak pernah kita titipkan ke panggung politik orang lain.
Selamat Hari Senin, dan jangan lupa tetep kritis!

