Jum. Apr 17th, 2026

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَهُ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ ذُرِّيَّةَ الشَّيْطَانِ تِسْعَةٌ: زَلِيْتُوْنُ، وَوَثِيْنُ، وَلَقُوْسُ، وَأَعْوَانُ، وَهَفَّافُ، وَمُرَّةُ، وَمُسَوِّطُ، وَدَاسِمُ، وَزَلَنْبُوْرُ.

“Dari Umar bin Khattab ra. sesungguhnya beliau berkata: Keturunan setan itu ada sembilan: Zalitun, Wathin, Laqus, A’wan, Haffaf, Murrah, Musawwit, Dasim, dan Zalanbur.”

Memasuki hari kesembilan Ramadan, perjuangan kita bukan lagi sekadar melawan rasa lapar fisik, melainkan menjaga kualitas batin dari “gangguan halus”. Dalam bab Tisa’i kitab Nashoihul Ibad, Sayyidina Umar bin Khattab ra. membocorkan strategi besar musuh abadi kita. Beliau merinci sembilan nama keturunan setan yang masing-masing memiliki “spesialisasi” tugas untuk menjerumuskan manusia, seperti sebuah korporasi dengan divisi-divisi yang sangat spesifik.

Pertama ada Divisi Pasar (Zalitun) yang bertugas menggoda pedagang agar berbuat curang atau mengurangi timbangan. Lalu Divisi Musibah (Wathin) yang khusus menggoda manusia saat tertimpa ujian agar tidak rida pada takdir. Ada juga Divisi Ibadah (Laqus atau Walhan) yang bertugas menggoda orang yang sedang bersuci atau shalat agar merasa was-was. Sementara Divisi Birokrasi (A’wan) adalah penggoda para penguasa agar bertindak zalim.

Yang perlu kita waspadai di bulan puasa ini adalah Divisi Gaya Hidup (Haffaf) dan Divisi Hiburan (Murrah) yang membuat kita melalaikan zikir demi kesenangan duniawi. Ada pula Divisi Informasi (Musawwit) si penyebar berita bohong (hoaks) dan Divisi Rumah Tangga (Dasim) yang bertugas merusak keharmonisan keluarga dengan memancing amarah di antara suami-istri. Terakhir adalah Divisi Provokasi (Zalanbur) yang khusus memicu pertengkarang di tempat-tempat umum.

Di antara kesembilan divisi tersebut, ada dua yang paling rentan menyusup ke dalam keseharian kita saat berpuasa, yaitu Divisi Dasim dan Divisi Musawwit. Dasim bekerja sangat halus; ia memanfaatkan kondisi fisik kita yang sedang lemas dan lapar untuk memicu sumbu amarah yang pendek. Sedikit saja ada gesekan di rumah tangga atau ketidaksenangan pada masakan berbuka, Dasim akan membisikkan kata-kata tajam yang bisa menghanguskan pahala puasa kita dalam sekejap. Ia tahu bahwa merusak kedamaian antara suami, istri, dan anak adalah cara tercepat untuk meruntuhkan keberkahan sebuah rumah yang sedang diisi dengan ibadah.

Sementara itu, Divisi Musawwit kini memiliki “kantor” di genggaman tangan kita melalui layar ponsel. Ia bekerja lewat informasi palsu, ghibah digital, dan konten-konten provokatif yang memancing kita untuk berkomentar buruk atau menyebarkan berita yang belum tentu benar. Puasa bukan hanya soal menjaga perut dari makanan, tapi juga menjaga jempol dari fitnah. Musawwit sangat lihai membuat kita merasa sedang “berdakwah” atau “membela kebenaran”, padahal kita sedang terjebak dalam pusaran hoaks dan kebencian yang ia rancang dengan rapi.

Sembilan divisi ini adalah pengingat bahwa musuh kita bekerja secara sistematis. Mereka masuk melalui celah-celah aktivitas harian kita, mulai dari cara kita berbelanja, bereaksi terhadap masalah, hingga cara kita berinteraksi di media sosial. Puasa yang kita jalani seharusnya menjadi perisai (junnah) yang membuat sembilan divisi ini sulit menemukan celah untuk “masuk kantor” di hati kita.

Menariknya, di tengah kepungan sembilan divisi setan ini, Gus Baha sering mengingatkan bahwa senjata paling ampuh untuk meruntuhkan moral pasukan setan adalah dengan menjadi hamba yang bahagia. Menurut beliau, titik kelemahannya setan adalah saat melihat seorang mukmin merasa cukup, ceria, dan rida dengan ketetapan Allah. Sebaliknya, bahan bakar utama setan untuk bekerja adalah kesedihan yang berlarut-larut, rasa sesak dada, dan keputusasaan. Ketika kita sedih dan merasa hidup ini tidak adil, di situlah semua divisi setan, mulai dari Wathin hingga Dasim, menemukan celah paling lebar untuk menyusup. Maka, berpuasalah dengan hati yang gembira; sebab tawa syukur seorang hamba adalah “teror” mental yang paling ditakuti oleh seluruh keturunan setan.

Di hari kesembilan ini, mari kita periksa pintu mana yang paling sering terbuka. Apakah kita masih sering terpancing emosi oleh si Dasim saat di rumah? Atau masih sering terjebak hoaks kiriman si Musawwit? Mengenal nama dan divisi mereka bukan untuk ditakuti, melainkan agar kita lebih waspada. Senjata paling ampuh adalah dengan memperbanyak zikir dan menjaga kejernihan hati agar tetap dalam bimbingan-Nya. Sampai jumpa di edisi #Ngabubuwrite besok!

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses