Puasa mengajarkan kita bahwa rasa lapar akan hilang setelah beberapa teguk air dan sesuap nasi saat azan Maghrib tiba. Namun, dalam kitab Nashoihul Ibad bab kedelapan, Syekh Nawawi menukil sebuah realitas tentang sisi dalam manusia yang memiliki sifat “tak pernah kenyang”. Ada delapan golongan yang digambarkan akan selalu merasa lapar, apa pun yang telah mereka dapatkan.
Empat yang pertama berkaitan dengan kebaikan dan kemuliaan: Mata yang tidak pernah kenyang melihat keindahan ciptaan Allah, bumi yang tidak pernah kenyang menerima hujan, telinga yang tidak pernah kenyang mendengar ilmu, dan orang berilmu yang tidak pernah kenyang menambah pengetahuannya. Ini adalah “lapar yang positif”. Semakin diisi, ia justru semakin luas kapasitasnya. Orang yang haus akan ilmu, misalnya, setiap kali ia mendapat jawaban, ia justru akan melahirkan sepuluh pertanyaan baru.
Namun, empat berikutnya adalah peringatan tentang “lapar yang berbahaya”: Perempuan yang tidak pernah kenyang terhadap laki-laki (syahwat), pencari dunia yang tidak pernah kenyang akan harta, kubur yang tidak pernah kenyang menerima jenazah, dan api yang tidak pernah kenyang membakar apa yang dilemparkan ke dalamnya. Kelompok kedua ini adalah pengingat bahwa jika kita memberikan ruang bagi nafsu dan ambisi duniawi untuk memimpin, kita tidak akan pernah sampai pada titik “cukup”.
Syekh Nawawi ingin menekankan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang selalu mencari kepuasan. Masalahnya bukan pada rasa laparnya, melainkan pada apa kita “memberi makan” jiwa tersebut. Jika kita memberi makan telinga dengan ilmu dan hati dengan zikir, maka lapar tersebut akan membawa kita pada kedekatan dengan Sang Pencipta. Namun, jika kita memberi makan jiwa dengan ambisi duniawi, kita hanya akan seperti orang yang meminum air laut; semakin diminum, semakin haus.
Di hari kedelapan Ramadan ini, ketika fisik kita merasakan lapar yang bisa dipadamkan dengan takjil, mari kita tinjau kembali lapar batin kita. Sudahkah kita merasa “kenyang” dan malas dalam menuntut ilmu? Atau justru kita masih merasa “lapar” yang luar biasa terhadap urusan dunia hingga melupakan esensi puasa itu sendiri?
Puasa adalah momen untuk menyapih ( فطام ) jiwa dari ketergantungan pada hal-hal yang membinasakan. Mari kita arahkan rasa lapar kita kepada hal-hal yang diridhai-Nya, lapar akan ampunan, lapar akan hikmah, dan lapar akan pertemuan dengan-Nya kelak. Karena hanya di sisi-Nya lah, jiwa yang haus akan menemukan ketenangan yang sejati. Sampai jumpa di edisi #Ngabubuwrite besok!

