Jum. Feb 23rd, 2024

Oleh : Dodik Harnadi

Munculnya berbagai gerakan ber’baju’ Islam, namun dengan menampilkan wajah Islam yang penuh kebencian, menjadi keprihatinan tersendiri di tengah upaya untuk menamilkan islam yang rahmatan lil-alamin. ISIS yang didirikan oleh Abu bakar al-Bahgdadi, sebelumnya Al-Qaedah dengan pelakon utamanya, Usamah bin Laden, adalah sekian dari model gerakan berbaju Islam, yang berita-berita kebrutalannya mendominasi pemberitaan seputar dunia Islam akhir-akhir ini.

Meskipun secara massif (en masse), gerakan tersebut mencuat di beberapa negara konflik di Timur Tengah yang jaraknya juga tidak dekat dengan Indonesia, namun efek gerakannya turut dirasakan oleh umat islam di Indonesia yang sedari awal senantiasa berusaha menampilkan wajah Islam yang moderet (tawassut) dan toleran (tasamuh).

Hal ini wajar, karena di era globalisasi tekhnologi saat ini, dunia seperti telah menjadi ‘global village’, dimana sekat-sekat teritorial seolah hilang, sehingga apa yang terjadi di belahan dunia tertentu akan langsung dirasakan juga di belahan dunia lainnya (a world without borders). Terlebih, ditengarai bahwa gerakan ISIS sudah masuk ke beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Timur, yang itu artinya kewaspadaan terhadapnya wajib kita tingkatkan.

Radikalisme Ber-jubah Islam

Bila kita telusuri sejarah Islam sejak masa sahabat hingga, maka sebetulnya akan kita jumpai bahwa munculnya sekelompok orang yang bersikap keras dan brutal dalam Islam sudah ada sejak masa silam. Hal ini setidaknya dapat kita lacak sejak munculnya firqah-firqah dalam Islam pasca meletusnya perang antara Sayyidina Ali Karramallahu wajhahu dengan Sayyidina Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Munculnya firqah-firqah dalam Islam, telah lama diprediksi oleh Rasulullah Muhammad SAW. Dalam sebuah hadits dijelaskan:

Dari Abi Hurairoh ra, beliau berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Orang Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, demikian juga orang Nasrani terpecah seperti itu. Dan ummatku akan terpecah jadi tujuh puluh tiga golongan.” (HR. Tirmidzi).

Hadits ini menjelaskan bahwa umat Islam akan terpecah ke dalam beberapa golongan. Tentu tidak semua golongan berada dalam jalan yang diridhoi Allah SWT. Bahkan Rasulullah secara eksplisit menyebutkan bahwa hanya akan ada satu golongan dari tujuh puluh tiga golongan tersebut yang akan selamat.

Prediksi rasul tersebut ternyata tidak meleset. Pasca wafatnya beliau, benih-benih perpecahan sudah mulai muncul, meskipun masih dalam kasus-kasus yang tidak begitu prinsip. Misalnya siapakah yang berhak untuk menggantikan posisi Nabi Muhammad sebagai pemimpin umat Islam.

Diantara firqah yang muncul tersebut, muncul kelompok Khawarij, sebagai salah satu firqah yang pertama kali menampilkan wajah Islam yang penuh dengan kebencian. Khawarij adalah pengikut Ali RA., yang tidak setuju dengan keputusan tahkim hingga kemudian membelot dan berbalik menentangnya.

Mereka mengkafirkan beberapa sahabat yang terlibat dalam peristiwa Tahkim. Merekalah kelompok yang berada di balik pembunuhan Sayyidina Ali dengan eksekutornya bernama Abdurrahman bin Muljam. Sebelumnya, mereka telah menyusun agenda untuk membunuh tiga sahabat utama yang terlibat dalam tahkim, yaitu Sayyidina Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Sayyidina Amru bin Aash dan sayyidina Ali sendiri.[1]

Dengan demikian, khawarij telah meninggalkan jejak terorisme dalam Islam yang meskipun secara institusional atau madzhab telah punah, namun jejak-jejak pemikirannya tetap laten hingga kini. Dalam membangun ajarannya, khawarij tumbuh dalam situasi yang penuh dengan kebiasaan mudah mengkafirkan dan memurtadkan kalangan yang tidak sepaham dengan mereka, bahkan di kalangan sesama khawarij sendiri.[2]

Moderasi adalah Aswaja

Dari 73 golongan yang terbentuk dalam Islam, Rasulullah menyatakan bahwa satu golongan akan selamat. Ketika ditanya perihal firqah najiyah tersebut, Rasulullah menjawab bahwa mereka adalah “orang yang mengikuti apa yang aku dan sahabatku lakukan hari ini (ma ana alaihi al-yauma wa ashabi). Dalam versi lain disebutkan bahwa firqah najiyah adalah al-jamaah.[3]

Namun demikian, Ahlussunnah wal Jamaah bukanlah sebuah mazhab baru dalam Islam sebagaimana pendahulunya. Ahlussunnah wal Jamaah adalah metode beragama yang sudah dipraktekkah oleh para generasi salaf. Imam Asy’ari adalah tokoh yang paling getol dalam menghidupkan metode tersebut, sehingga nama ASWAJA lebih lekat kepada beliau.

Sebagaimana dijelaskan :

“ Apabila dikatakan istilah Ahlussunnah wal Jamaah, maka yang dimaksud dengannya adalah pengikut Imam Asy’ari dan Imam Maturidi[4]

Hanya saja dalam perkembangan sejarahnya, masing-masing golongan mengaku sebagai golongan yang selamat. Dan secara spesifik, mereka mengklaim sebagai Ahlussunnah wal Jamaah. Setidaknya, konstalasi dinamika paham Aswaja hingga kini dihiasi oleh pertarungan dua paham besar saat ini,  Asy’ariyah yang merupakan mainstream, serta Aliran Wahabi di sisi lain.

Wahabi adalah gerakan purifikasi keagamaan yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab di Najad, Arab Saudi. Wahabi merupakan nisbat kepada nama sang pendiri, serta dalam praktek keagamaannya banyak mengacu kepada paradigma pemikiran Syekh Muhammad Ibnu Taimiyyah al-Harrani.

Lalu apakah Wahabi itu Asawaja? Imam al-Shawi menjelaskan, bahwa Wahabi tidaklah termasuk al-jamaah sebagaimana dalam hadits tentang firqah najiyah di atas. Bahkan, dalam ungkapannya, al-Shawi menyamakan wahabi dengan kelompok khawarij yang secara tipikal, mudah mendistorsi dalil-dalil al-Quran dan Hadits, serta mudah menghalalkan darah dan harta sesama muslim.[5]

Penting untuk diketahui, Aswaja adalah paham yang moderat (tawassut). Aswaja adalah apa yang berasal dari Rasul dan para sahabat. Diteruskan kemudian kepada tabiin, dan tabiin tabiin sampai para ulama di kemudian. Dengan demikian, untuk menjadi Aswaja maka ikutilah apa yang menjadi jalan para ulama.

Imam hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali adalah sunni. Dan mayoritas para pembesar ulama adalah sunni. Mereka senantiasa berlaku tawassut. Perbedaan bagi mereka adalah rahmat selama terjadi dalam hal-hal yang partikular (furu’). Kelompok-kelompok radikal dalam Islam sama sekali tidak mencerminkan moderasi yang menjadi ciri aswaja. Demikian juga wahabi yang mudah menganggap siaapun yang berbeda dengan mereka sebagai pelaku bid’ah, musyrik dan sebagainya, tidaklah mencerminkan spirit moderasi Islam aswaja.

Akar ideologi mereka  adalah khawarij, yang menganggap halal darah setiap muslim yang tidak sejalan dengan penafsiran mereka. Khawarij sekarang adalah mereka yang mengajak kembali kepada al-Quran dan Hadits, lalu mengkafirkan saudara se-Islam yang menurut mereka tidak sejalan dengan al-quran Hadits.

Radikalisme dalam agama akan tetap hidup, selama ideologi tertentu yang anti toleransi dan moderasi masih diinternalisir oleh sebagian orang. Khawarij, Wahabi dan termasuk ISIS serta al-Qaedah, adalah bentuk-bentuk gerakan yang ideologi mereka berakar pada pandangan intoleran dan ekslusif, serta jatuh ke dalam klaim kebenaran (truth claim) yang berlebihan. Bahkan, terselubung banyak agenda di balik jubah keislaman yang ditampilkan. Karena itu, berbagai gerakan berbau neo khawarij adalah gerakan yang sangat kompleks, tidak semata-mata merupakan aktualisasi ajaran agama. Mereduksinya kepada sekedar motivasi agama, hanya akan mencederai wajah Islam yang toleran dan ramah.


[1] Syekh Alwi bin Muhammad bin Ahmad Balfaqih, Min A’qab al-Bidh’ah al-Muhammadiyah, hal. 197

[2] Abu bakar al-Baghdadi, Al-Farqu baina al-Firaq, hal. 20

[3] Hadits terakhir adalah hadits Abu Daud dan Imam Ahmad dari Muawiyah bin Abi Sufyan

[4] Sayyid bin Muhammad bin Muhammad al-Huseini, Ithaf al-Sadah al-Muttaqin, juz 2 hal. 6

[5] Imam al-Shawi, Hasyiyah al-Allamah al-Shawi ala tafsir al-jalalyn, juz 3, hal. 307

Postingan terkait..

9 thoughts on “MENGURAI AKAR RADIKALISME BER-JUBAH ISLAM”
  1. Tulisan ini cukup membantu kita memahami peta gerakan Islam kontemporer.

    Radikalisme memang cukup mengkhawatirkan. Karena, selangkah lagi ia bisa berubah menjadi terorisme. Orang yg radikal memang belum tentu teroris. Tapi teroris sdh pasti radikal.

    Maka menghadapi gerakan semacam ini kita tidak punya banyak pilihan. Penguatan paham Aswaja adalah salah satu alternatif yg perlu terus digalakkan.

    Dengan cara itu anak cucu kita kelak bisa terbentengi dari paham2 ekatrim.

  2. Radikalisme dlm bentuk yang berbeda tidak asing di tengah keseharian kita, arogansi kekuasaan yg sering dibungkus atas nama agama menjadi hal yg seolah lumrah dan sah, semoga kita tetap bisa berfikir obyektif.

  3. Radikalisme dlm bentuk yang berbeda tidak asing di tengah keseharian kita, arogansi kekuasaan yg sering dibungkus atas nama agama menjadi hal yg seolah lumrah dan sah, semoga kita tetap bisa berfikir obyektif.

  4. berpikir radikal dalam mengambil keputusan sangatlah diperlukan,but Radikalism tidaklah pas untk kita yg bermanhaj ahlus sunnah.berpikir Radix yang disertai objektifitas i’tidal dalam bermanhaj dan disertai keteguhan iman yang terdalam…pada masanya umat islam akan menjadi insan- insan yang bermartabat dengan segala dimensinya. seperti yang di Nukil Makna Qiyas yang disampaikan oleh KH.Musta’in Romli >Otak Boleh London…Tp Hati Harus Tetap Terpaut Ke Masjidil Haram>>>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.