Sab. Mei 2nd, 2026

Konseling Pra-Lulus: Menakar Kebutuhan Siswa Antara Lanjut Studi atau Menikah

Graduating students mortarboards

Tiba-tiba saya teringat momen saat di Surabaya dulu. Waktu itu ada sebuah seminar pra-lulus yang membahas tuntas tentang apa yang harus dilakukan setelah ijazah di tangan. Menariknya, dalam dunia konseling, kita juga mengenal istilah “konseling pra-nikah”. Namun, kalau istilah itu mentah-mentah saya bawa ke hadapan anak-anak kelas XII Aliyah saat ini, rasanya kurang pas. Kenapa? Karena kenyataannya, banyak dari mereka yang masih punya api semangat untuk mengejar kursi di perguruan tinggi, bukan pelaminan.

Urgensi konseling pra-lulus ini sebenarnya menjadi jembatan krusial. Kita tidak bisa menutup mata bahwa persimpangan jalan setelah lulus sekolah menengah seringkali sangat membingungkan. Berdasarkan data BPS tahun 2025, tingkat penyelesaian SMA/SMK/MA di Indonesia berada di angka 73,90%. Angka ini menunjukkan bahwa meski mayoritas berhasil lulus, tantangan sebenarnya baru dimulai setelah perpisahan sekolah. Memilih antara lanjut studi atau menikah bukan lagi sekadar pilihan pribadi, tapi seringkali benturan antara idealisme dan tuntutan ekonomi.

Mari kita bicara soal tren pendidikan perempuan saat ini. Ada pergeseran menarik yang saya amati; perempuan Indonesia kini semakin “melek” pendidikan. Data terbaru tahun 2025 mencatat sekitar 11,98% perempuan sudah menyelesaikan pendidikan tinggi, dengan angka partisipasi sekolah yang perlahan tapi pasti terus meningkat. Di balik statistik itu, ada ambisi besar. Banyak siswi kita yang mulai berpikir bahwa gelar sarjana adalah bentuk kemandirian sebelum nantinya memutuskan untuk membangun rumah tangga.

Namun, realitanya tidak selalu linear. Di sisi lain, potret pernikahan di usia muda masih cukup nyata. Sekitar 19% pemuda Indonesia tercatat menikah di bawah usia 19 tahun pada tahun 2025, dengan mayoritas adalah perempuan. Seringkali, pilihan menikah muda diambil bukan karena kurangnya minat belajar, melainkan karena terbatasnya akses biaya atau tekanan lingkungan. Di sinilah peran konseling pra-lulus menjadi vital: membantu mereka memetakan potensi, apakah mereka memang butuh “kursi kuliah” atau sudah siap dengan “kursi pelaminan”.

Menariknya, atensi perempuan terhadap dunia kerja juga semakin tinggi. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan pada Agustus 2025 mencapai 56,63%. Artinya, lebih dari separuh perempuan usia produktif ingin berdaya secara ekonomi. Fenomena ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi bagi perempuan bukan hanya untuk gaya-gayaan, melainkan investasi human capital agar mereka memiliki posisi tawar yang kuat di pasar kerja maupun dalam pengambilan keputusan di keluarga kelak.

Jadi, dalam sesi konseling di madrasah, saya lebih suka menyebutnya sebagai “Menakar Kebutuhan”. Kita duduk bersama, melihat statistik diri sendiri: apakah mental sudah siap untuk tanggung jawab rumah tangga, atau adakah mimpi yang masih ingin dikejar di ruang kelas universitas? Tidak ada pilihan yang sepenuhnya salah, asalkan diputuskan dengan kesadaran penuh, bukan karena ikut-ikutan tren atau sekadar menghindari kebosanan di rumah.

Pada akhirnya, tugas kita sebagai pendamping bukan untuk menentukan jalan mereka, tapi memastikan mereka punya “peta” yang jelas. Baik itu ijazah sarjana maupun buku nikah, keduanya menuntut kesiapan. Dengan memberikan perspektif yang santai namun berbasis data, kita berharap lulusan Aliyah kita tidak hanya sekadar lulus, tapi benar-benar “siap” menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses