Rab. Feb 25th, 2026

Refleksi Tahun Baru ala Kitab Kuning

PAWAI OBOR TAHUN BARU ISLAM 1441

Selamat tahun baru, semarak perayaannya hampir riuh dimana-mana, dari acara pawai, lomba hingga yang bersifat seremonial seperti doa bersama dan lain sebagainya mewarnai momen pergantian tahun hijriah ini.

Tentu hal tersebut menjadi pembeda, antara pergantian tahun Hijriah dan tahun Masehi yang notabene diisi dengan hal-hal negatif. Meskipun tidak semua demikian. pernah viral, di suatu daerah di Indonesia malam pergantian tahun dikenal dengan malam pecah perawan.

Miris sekali, tentunya ada yang salah dengan sistem pendidikannya. Momen yang seharusnya merenungi apa saja yang perlu diperbaiki dari tahun sebelumnya dengan membuka lembaran pencapain baru, malah membuka lembaran dosa baru.

Semarak tahun baru juga tak hanya dirayakan oleh kalangan muda-mudi, orang tua juga merayakannya dengan menyelipkan sejumput harapan dalam setiap doa yang dihidangkan untuk segala kebaikan-kebaikan di tahun selanjutnya.

Diantara riuh semarak itu, penulis tertuju pada sebuah kitab tipis yang tergeletak di atas meja. Ditulis oleh Imam Ghazali, mungkin masih kalah tipis dengan buku yang ditulis oleh seorang tokoh Investor Saham disampingnya, dan mungkin lebih tipis dari karya Imam Ghazali tersebut yang hanya terdiri dari 10 halaman.

Dalam baris pengantarnya, beliau langsung menyadarkan pembacanya dari pikiran yang terlelap dalam ilusi motivasi. Beliau berkata,

Ketahuilah anak-anakku, intisari nasihat sudah terdapat dalam Al-Quran dan As-Sunnah, jika kedua hal tersebut sudah ada, mengapa kau masih membutuhkan kepada nasihatku?

Redaksi kalimat tersebut ditunjukkan kepada santrinya yang meminta nasihat dari Imam Ghazali, tentang intisari dari ilmu yang dia pelajari bertahun-tahun. Kadang kita mudah terlena dengan nasihat-nasihat yang lewat di beranda Media Sosial dan quotes-quotes populer. Beliau menyadarkan, bahwa nasihat yang pokok ada pada Al-Quran dan Sunnah. Pada baris selanjutnya beliau menegaskan,

Jika hal tersebut masih belum cukup, katakan kepadaku, apa yang sudah kamu peroleh dari tahun-tahun yang lalu?

Pertanyaan ini membutuhkan intropeksi diri. Tentu jawabannya berbeda pada setiap individu. Tahun ini aku sudah melakukan ini, itu dan lain sebagainya. Dari jawaban tersebut akan menghasilkan jawaban-jawaban yang membutuhkan evaluasi dan perbaikan. Evaluasi menjadi penting jika kemudian perbaikan dilakukan. Jika tidak? maka hasilnya sama saja.

Sama halnya rapat, ada hasil namun tidak diikuti evaluasi dan perbaikan, maka pada bahasan rapat selanjutnya akan membahas hal yang sama atau tidak jauh beda. Intropeksi adalah langkah awal untuk mengevaluasi diri seperti yang sering terdengar dalam senandung Tarhim Subuh di masjid-masjid,

حَاسِبُوا اَنْفُسَكُمْ قَبْلَ اَنْ تُحَاسَبُوا

Intropeksi dirimu sebelum dinterogasi.

Setelah intropeksi, diri akan menemukan apa yang perlu dibenahi kemudian dilakukan pembenahan. Hal ini juga selaras dalam trilogi istilah tasawwuf yang populer,

تَخَلِّى – تَحَلِّى – تَجَلِّى

Langkah awal yakni Takholli atau melepaskan diri dari hal-hal negatif, kemudian Tahalliy atau mengisi diri dengan hal-hal positif, kemudian akan mencapai Tajalliy atau puncak kearifan. Langkah dalam intropeksi sama halnya dengan Taubat dalam bab-bab pertama Ilmu Ahlak, hal ini akan menghasilkan perbaikan diri menjadi diri yang lebih baik.

Sebagaimana dalam salah satu keterangan hadis Nabi yang diriwatkan oleh Al-Hakim,

Orang yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia termasuk orang yang beruntung, dan barang siapa yang hari ini sama seperti hari kemarin, maka dia termasuk orang yang rugi dan barang siapa yang hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin, maka dia orang yang celaka.

Naudzubillah, jika momen pergantian tahun, ulang tahun atau bahkan hari-hari kita tidak dijadikan sebagai tolok ukur akan perubahan yang lebih baik, maka Tahun Baru akan sama seperti istilah fisika dalam teori relativitas, waktu itu relatif. Setiap hari tidak ada bedanya. Semoga kita menjadi seperti dalam adagium Arab populer,

كُلُّ عَامٍ وَانْتُمْ بِالْفِ خِيْرٍ

setiap tahun dan pembaca selalu dalam beribu-ribu kebaikan. Amin.

Selamat Tahun Baru Hijriah, 1447.

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses