Rab. Mei 22nd, 2024

Kiai Maksum, Kitab Bidayah Berjalan.

KH. MAKSHUM ZAINULLAH

Al-Maghfurlah KH. Ahmad Maksum Zainullah, memang telah wafat, namun beliau masih ada dan hadir dalam hati para pecintanya, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, bahwa wali Allah tidaklah meninggal, melainkan hanya pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Jika bertanya pada alumni dan orang-orang yang pernah berjumpa dengan beliau, tentunya jawaban yang datang adalah kenangan tentang ahlak mulia beliau.

Penulis masih ingat betul, di tahun 2009 yakni awal nyantri di Pondok Pesantren Nurut Taqwa, beliau mulang kitab Bidayatul Hidayah karya Abu Hamid Al-Ghazali. Walau nampak sederhana, namun kitab ini adalah kitab suluk yang luar biasa. Sedikit tentang kitab tersebut, Kitab Bidayah ibarat catatan sehari-sehari seorang muslim, Imam Ghazali menulisnya dengan begitu detil dari bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur.

Berikut doa-doa yang disunnahkan untuk dibaca dalam kondisi-kondisi tertentu. Tak hanya ibadah yang dilihat oleh mata dan dilakukan oleh anggota tubuh, beliau menambahkan tentang aktivitas-aktivitas hati yang perlu dilakukan dan diwaspadai, seperti anjuran untuk bersikap tawadhu dan larangan bersikap sebaliknya. Mengamalkan semua yang terdapat dalam kitab tersebut mungkin akan membawa kita selangkah menjadi manusia paripurna.

Bapak penulis yang merupakan santri Al-Maghfurlah Kiai Maksum hingga tahun 1995, sering berucap bahwa beliau adalah bentuk pengamalan dari kitab yang sering diampunya, Bidayatul Hidayah. Salah satu contohnya adalah ketika beliau memerintahkan santri untuk kerja bakti guna mengangkut batu dari Sungai di belakang Pondok, Bapak yang waktu itu berada di belakang beliau sedang menggotong batu, tak nampak sekalipun menoleh ke kanan dan kiri.

Hal tersebut seperti yang didawuhkan oleh Imam Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah, jika engkau berjalan, maka usahakan untuk tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Ini baru cara beliau berjalan, jangan bertanya tentang hal lain, yang beliau sering contohkan kepada santri, seperti Sholat dan Puasa. seperti yang sering penulis perhatikan ketika masih nyantri, setelah shalat maghrib beliau tidak pernah meninggalkan shalat Awwabin 20 rakaat di masjid. Allahu Yarham.

Robbi Fan-Fa’na Bibarkatihim – Wahdinal Husna Bihurmatihim

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.