Dzul-Hijjah atau lebih dikenal dengan bulan haji, penuh dengan ibadah atau ritual yang tidak hanya melibatkan kemampuan fisik, tapi juga materi. Katakanlah Ibadah Haji, Rasulullah ﷺ dalam salah satu hadisnya menambahkan in-istatha’ta ilaihi sabiila, arti sederhananya jika mampu perjalanannya. Sebab biaya yang dikeluarkan cukup besar, plus waktu tunggu hingga puluhan tahun.
Begitu juga dengan Kurban, Jika Ibadah Haji sebuah bentuk kewajiban, sementara Kurban adalah bentuk kecintaan. Cinta memang membutuhkan banyak pengorbanan selain waktu dan tenaga, uang contohnya. Tapi apa yang tidak jika untuk sebuah perhatian yang diharapkan dari sang Kekasih. Dalam Ibadah Haji dan Kurban, banyak sekali napak-tilas dari sebuah keluarga yang dicintai oleh Allah ﷻ, yakni Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan putra mereka Nabi Ismail Alaihimus-Salam.
Nabi Ibrahim adalah sosok yang dermawan, dalam sebuah keterangan disebutkan bahwa ketika beliau berkurban, tidak tanggung-tanggung dapat mencapai ratusan hingga bahkan ribuan ekor. Kedermawanan ini yang membuat Nabi Ibrahim mendapat julukan Khalilullah atau Ibrahim Al-Khalil yang berarti orang yang dicintai. Dalam riwayat lain, beliau rela berjalan berpuluh-puluh meter hanya untuk mencari teman makan. Sifat dermawan atau suka memberi membuat seseorang disayangi oleh orang-orang sekitar. Karena tabiat manusia, al-Insanu Abdul Ihsan, manusia adalah budak kebaikan. Seperti yang disabdakan oleh Nabi ﷺ, hendaknya kamu saling memberi, maka kamu akan saling mengasihi. dalam hadis lain, senyum di wajah saudaramu adalah sedekah.
Siti Hajar, adalah sosok istri dan ibu yang luar biasa. Bagaimana tidak, beliau menerima ketika harus ditinggalkan di sebuah padang tandus tanpa tanaman apapun, dan hanya berbekal doa suaminya,
وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“dan rizqi-kan mereka berupa buah-buahan agar mereka bersyukur” – QS. Ibrahim: 37
serta kisah heroiknya mencari air untuk putranya yang sedang kahausan hingga muncullah Jibril dengan sumur Zamzam. Nabi Ismail pun sama. Ketika Nabi Ibrahim mengutarakan mimpi nadzarnya, beliau menjawab
يا أَبَتِ افْعَلْ ما تُؤْمَرُ، سَتَجِدُنِي إِنْ شاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“wahai ayahku, lakukan apa yang diperintahkan, insyaallah engkau akan mendapatkanku sebagai orang yang sabar” – QS. Ash-Shaffat: 102
Ketaatan yang diwariskan oleh kedua orang tuanya, Nabi Ibrahim dan Siti Hajar, membentuk pribadi Nabi Ismail yang saleh. Tak ayal, jika di dalam Al-Quran surat Maryam ayat 54, Allah menyebut Nabi Ismail secara khusus,
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا
“dan ingatlah dalam cerita Ismail, dia sesungguhnya termasuk orang yang menepati janji dan juga seorang Rasul dan Nabi”
kelanjutan redaksi ayatnya,
وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا
“dia memerintahkan keluarganya untuk Shalat dan menunaikan Zakat, dan dia disisi Tuhan-Nya adalah orang yang diridhoi”
Imam Qurthubi, dalam tafsirnya menyebutkan bahwa menepati janji adalah ahlak seorang utusan dan dengan ini juga, seorang mukmin hendaklah selalu menepati janjinya. Karena kesabaran beliau, Nabi Ismail, dalam memenuhi janji yang telah ditetapkannya serta dibuat oleh ayahnya bersama Allah ﷻ, hingga Allah ﷻ secara khusus menyebut beliau sebagai orang yang menepati janji di dalam Al-Quran. Ibnu Katsir juga berpendapat sama, Rasulullah ﷺ . pernah ingin membaiat seseorang, hingga beliau harus menunggu selama beberapa hari untuk orang tersebut karena orang yang ingin dibaiat tersebut lupa. Kemudian dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ menggambarkan keluarga Nabi Ismail yang penuh dengan kasih sayang.
Rasulullah bersabda dalam riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah,
رحم الله رجلا قام من الليل فصلى ، وأيقظ امرأته ، فإن أبت نضح في وجهها الماء ، رحم الله امرأة قامت من الليل فصلت ، وأيقظت زوجها ، فإن أبى نضحت في وجهه الماء
“Allah ﷻ senantiasa menyayangi seorang lelaki yang bangun di malam hari, serta membangunkan istrinya, maka jika masih belum bergeming, seraya memercikkan air di wajahnya, Allah ﷻ senantiasa juga menyayangi seorang perempuan yang bangun di malam hari, kemudian membangunkan suaminya seraya memercikkan air jika masih belum bergeming dari tidurnya”
ikhtitam, semoga pembaca juga selalu mendapat kasih sayang Allah ﷻ.
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

