Kam. Okt 22nd, 2026

Menghindari Labelling Pada Anak Didik

Karena si “A” sering tidur di kelas, seorang guru kemudian menjulukinya “Tukang Tidur”, sebab si “B” sering melanggar peraturan, seorang guru kemudian melabelinya “Langganan Pelanggaran”. Kategorisasi tersebut dikenal dengan labelling, ibarat produk jualan, di lemari toko, label harga ditempel biar pembeli gak bingung. Di kardus paket, label ‘Fragile’ ditempel biar kurirnya hati-hati. Tapi di dalam kelas, label yang ditempel guru ke jidat murid sering kali cuma berfungsi satu hal: membunuh masa depan si anak secara pelan-pelan. Tapi ini bukan tentang jualan,

Labelling di lingkungan ajar dan sekolah sangat tidak baik, atau bahkan wajib dihindari. Melabeli anak didik dengan yang tidak baik, probabilitas kepercayaan pada hal tidak baik tersebut akan meningkat, kita kenal istilah itu dengan “San-Misan”. Maksudnya?

Siswa “A” sebab dilabeli sebagai langganan pelanggaran di sekolah kemudian menganggap dirinya tidak perlu lagi basa-basi, sok asik dan berwajah manis di depan guru, jika ingin melanggar, ia akan melakukannya dengan senang hati. Sebab apa? dia berpikir, ah, guru “B” sudah melihatku sebagai orang yang gemar melanggar peraturan. Ini musibah, justru sebab label tersebut ia (terpaksa) merasa bangga akan kenakalannya.

Dalam kitab Ta’limul Muta’allim-nya Syaikh Zarnuji, sebagai guru, diwajibkan menggunakan mata kasih sayang dalam membimbing dan membina anak didik, bukan dengan mengejeknya. Mengejek tak selalu tentang kelainan fisik, tetapi ketika siswa berbuat tidak baik, lantas guru mengejeknya dengan memberikan label misalnya, itu juga sama. Tulisan ini lahir dalam renungan dangkal penulis di gang sempit sebelah timur kantor diniyah bahwa Jangan buru-buru menyebut anak nakal sebelum kita memahami perilakunya dan mencari tahu apa yang membuatnya bertindak demikian.

Terimakasih!

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..