Sab. Sep 5th, 2026

Dalam lembar-lembar sejarah peradaban, kita sering kali mendapati kisah para tokoh besar yang dicatat secara detail sejak tarikan napas pertama mereka. Namun, ketika kita membuka kembali literatur Sirah Nabawiyah, mulai dari karya-karya klasik terawal seperti As-Sirah karya Ibnu Ishaq yang direvisi Ibnu Hisham, Thabaqat Al-Kubra karya Ibnu Sa’ad, hingga sintesis modern seperti Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Al-Mubarokfuri, sebuah pertanyaan mendasar kerap muncul dalam benak kita: mengapa riwayat mengenai detail masa kecil Nabi Muhammad SAW terasa begitu terbatas jika dibandingkan dengan fase kenabiannya?

Leluhur sejarah tidak banyak meninggalkan rekaman rinci tentang masa kanak-kanak beliau. Kelangkaan ini bukan tanpa alasan yang rasional. Pada konteks sosio-historis Makkah abad ke-6, Muhammad kecil lahir sebagai anak yatim dari keluarga Bani Hasyim yang bersahaja, di tengah masyarakat jahiliah yang belum membayangkan bahwa bayi tersebut kelak akan mengubah peta politik dan spiritual dunia. Para periwayat saat itu belum memiliki dorongan institusional untuk mencatat setiap gerak-gerik seorang anak kecil yang belum memangku jabatan atau pengaruh publik. Ibnu Jauzi dalam mahakarya sejarahnya, Al-Muntadzam fi Tarikh al-Muluk wa al-Umam, mengurai babak-babak kehidupan awal ini secara tematis dan bertahap, menegaskan bahwa fase-fase awal kehidupan beliau disusun dari fragmen-fragmen riwayat terpercaya yang difokuskan pada pertanda kenabian, ketimbang narasi biografis harian yang mendalam.

Meskipun narasi harian tersebut terbatas, sejarah merekam dengan sangat apik sosok-sosok wanita yang menjadi pilar pengasuhan awal beliau. Sosok pertama yang menyusui beliau setelah sang ibu, Aminah, adalah Tsuwaybah. Ia merupakan hamba sahaya milik Abu Lahab yang dibebaskan sebagai bentuk kegembiraan atas kelahiran keponakannya. Dalam literatur sirah, Tsuwaybah bukanlah sekadar inang pengasuh biasa. Dari rahim pengasuhannya, ia juga menyusui sosok-sosok penting lain yang kelak menjadi benteng Islam, seperti Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi) dan Abu Salamah bin Abdul Asad. Pertautan ini menjadikan Hamzah dan Abu Salamah sebagai saudara sepersusuan Nabi Muhammad SAW, melingkari masa kecil beliau dengan ikatan kekerabatan spiritual yang kokoh.

Setelah masa penyusuan singkat oleh Tsuwaybah, tradisi bangsawan Quraisy membawa Muhammad kecil ke pedalaman gurun di bawah asuhan Halimah binti Abi Dhu’ayb Al-Sa’diyyah dari kabilah Bani Sa’ad bin Bakr. Tradisi mengasingkan bayi ke padang pasir ini bertujuan agar sang anak tumbuh dengan bahasa Arab yang murni, terhindar dari penyakit perkotaan Makkah, serta memiliki ketahanan fisik yang kuat di bawah tempaan iklim gurun yang keras. Di pemukiman Bani Sa’ad inilah kelimpahan berkah mulai menaungi keluarga Halimah. Ternak-ternak yang tadinya kurus kering mendadak menghasilkan susu melimpah, dan tanah perkebunan yang gersang berubah menjadi subur sejak kedatangan anak angkatnya tersebut.

Di lingkungan pedalaman Bani Sa’ad pulalah terjadi salah satu peristiwa spiritual paling fenomenal dalam sejarah kenabian, yakni peristiwa pembelahan dada atau operasi kesucian. Saat Muhammad kecil sedang bermain bersama saudara sepersusuannya di balik tenda-tenda perkemahahan, Malaikat Jibril mendatangi beliau dalam wujud manusia. Jibril merubuhkan tubuh kecil itu, membelah dadanya, mengeluarkan organ hatinya, lalu membuang gumpalan darah hitam yang merupakan bagian dari potensi godaan setan. Hati tersebut kemudian dibersihkan di dalam bejana emas menggunakan air zamzam sebelum dikembalikan ke posisinya semula. Peristiwa ajaib ini membuat Halimah dan suaminya terperanjat ketakutan hingga memutuskan untuk segera mengembalikan Muhammad ke pangkuan ibundanya di Makkah.

Tak kalah penting dari Halimah adalah sosok Barakah binti Sa’labah, yang lebih dikenal dengan julukan Ummu Ayman. Ia adalah hamba sahaya peninggalan ayahanda Nabi, Abdullah bin Abdul Muthalib. Ummu Ayman adalah saksi kunci yang mendampingi Aminah dalam perjalanan ziarah ke Yatsrib (Madinah) hingga detik-detik kewafatan Aminah di Al-Abwa. Dengan penuh kasih sayang, wanita aborigin dari Abyssinia inilah yang memeluk, menghibur, dan membawa Muhammad kecil kembali ke Makkah untuk diserahkan kepada kakeknya, Abdul Muthalib. Kedekatan emosional ini begitu mendalam hingga di kemudian hari Rasulullah SAW kerap menyapanya dengan ungkapan penuh takzim, “Ummu Ayman adalah ibuku setelah ibu kandungku.”

Sepanjang pengasuhan para wanita mulia tersebut, fenomena-fenomena metafisik kerap menyertai langkah kaki Muhammad kecil. Berbagai riwayat sirah menceritakan bagaimana gumpalan awan putih tipis senantiasa berarakan di angkasa, menaungi tubuh beliau dari terik matahari gurun yang menyengat saat beliau berjalan atau menggembalakan kambing. Fenomena penauangan awan ini kelak menjadi salah satu penanda utama yang dikenali oleh pendeta Nasrani, Bahira, di Bushra, ketika melihat kafilah dagang Abu Thalib yang membawa Muhammad muda berhenti di bawah naungan pohon.

Selain naungan awan, jejak keberkahan fisik juga tercatat ketika Makkah dilanda musim kemarau panjang. Abdul Muthalib membawa cucunya yang masih kecil itu ke samping Ka’bah untuk berdoa memohon hujan. Hanya dengan merapatkan tubuh kecil Muhammad ke dinding Ka’bah dan mengadahkan tangannya ke langit, awan mendung mendadak berkumpul di atas Makkah dan menurunkan hujan lebat yang membebaskan penduduk kota dari ancaman kelaparan dan kekeringan.

Jika direfleksikan secara mendalam, keheningan narasi masa kecil Nabi Muhammad SAW sejatinya menyimpan pesan pedagogis yang sangat kuat. Allah SWT sengaja memelihara masa kecil beliau dari inguk-binguk publisitas manusia agar pertumbuhan jiwa dan pikirannya murni di bawah bimbingan langsung ilahi. Beliau tidak dibesarkan dalam kemewahan istana atau fasilitas pendidikan sekuler zaman itu, melainkan ditempa oleh kesederhanaan gurun, penderitaan menjadi yatim piatu, dan kasih sayang tulus dari wanita-wanita bersahaja seperti Tsuwaybah, Halimah, dan Ummu Ayman.

Pada akhirnya, puzel-puzel sejarah masa kecil Nabi yang berserakan di berbagai kitab klasifikasi sirah mengajarkan kepada kita bahwa keagungan tidak selalu ditandai oleh gempita awal kehidupan. Ketiadaan catatan yang mendetail tentang masa kanak-kanak beliau justru menegaskan bahwa kemuliaan Rasulullah SAW dibentuk bukan oleh rekayasa sejarah manusia, melainkan oleh skenario suci Sang Pencipta yang mempersiapkan jiwa terpilih untuk memikul risalah akhir zaman.

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses