Rab. Mar 4th, 2026

#Ngabubuwrite Edisi 10: Audit Aset Spiritual

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أَضْيَعُ الْأَشْيَاءَ عَشَرَةٌ: عَالِمٌ لَا يُسْأَلُ عَنْهُ، عِلْمٌ لَا يُعْمَلُ بِهِ، وَرَأْيٌ صَوَابٌ لَا يُقْبَلُ، وَسِلَاحٌ لَا يُسْتَعْمَلُ، وَمَسْجِدٌ لَا يُصَلَّى فِيْهِ، وَمُصْحَفٌ لَا يُقْرَأُ فِيْهِ، وَمَالٌ لَا يُنْفَقُ مِنْهُ، وَخَيْلٌ لَا تُرْكَبُ، وَعِلْمُ الزُّهْدِ فِي بَطْنِ مَنْ يُرِيْدُ الدُّنْيَا، وَعُمُرٌ طَوِيْلٌ لَا يَتَزَوَّدُ فِيْهِ لِسَفَرِهِ.

Sayyidina Utsman bin Affan ra. berkata: “Sepuluh hal yang paling sia-sia adalah: (1) Ulama yang tidak ditanya ilmunya, (2) Ilmu yang tidak diamalkan, (3) Pendapat benar yang tidak diterima, (4) Senjata yang tidak digunakan, (5) Masjid yang tidak dipakai shalat, (6) Mushaf (Al-Qur’an) yang tidak dibaca, (7) Harta yang tidak diinfakkan, (8) Kuda yang tidak ditunggangi, (9) Ilmu zuhud di dalam hati orang yang ambisi dunia, dan (10) Umur panjang yang tidak digunakan mencari bekal perjalanan (akhirat).”

Menutup sepuluh hari pertama Ramadan sekaligus mengakhiri tadarus kita terhadap kitab Nashoihul Ibad, Sayyidina Utsman bin Affan ra. memberikan sebuah tamparan lembut namun telak melalui “Daftar Sepuluh Kesia-siaan”. Beliau tidak sedang membicarakan benda yang hilang, melainkan tentang potensi yang terbuang. Dalam kacamata Syekh Nawawi Al-Bantani, kemubaziran terbesar seorang hamba bukanlah saat ia kehilangan harta dunia, melainkan saat ia memiliki instrumen menuju Allah namun membiarkannya berdebu tanpa guna.

Mari kita jujur pada diri sendiri di penghujung fase Rahmat ini. Berapa banyak dari kita yang memiliki Mushaf yang tidak dibaca atau Masjid yang tidak disinggahi? Al-Qur’an dan Masjid adalah dua dermaga ketenangan, namun seringkali kita lebih memilih tenggelam dalam riuh rendah dunia. Sayyidina Utsman mengingatkan bahwa membiarkan Mushaf tertutup rapat di rak buku adalah bentuk pengabaian terhadap surat cinta Sang Pencipta. Begitu pula dengan Ilmu yang tidak diamalkan; ia ibarat lentera di tangan orang buta, ada cahayanya, tapi tidak menuntun jalannya.

Poin yang sangat tajam dalam maqolah ini adalah tentang Ilmu zuhud di hati orang yang ambisi dunia. Seringkali kita fasih bicara tentang kesederhanaan dan akhirat, namun praktiknya kita masih sikut-sikutan mengejar jabatan dan materi. Ilmu zuhud yang hanya di lisan adalah kesia-siaan yang nyata karena ia hanya menjadi bahan perdebatan, bukan bahan perbaikan. Di sini kita belajar bahwa sinkronisasi antara apa yang kita tahu dan apa yang kita mau adalah kunci agar hidup tidak menjadi pajangan belaka.

Selanjutnya, Sayyidina Utsman menyinggung tentang Senjata yang tidak digunakan dan Kuda yang tidak ditunggangi. Di zaman modern ini, “senjata” kita bisa berupa kecerdasan, pengaruh, atau teknologi. Jika semua itu tidak digunakan untuk membela kebenaran atau menebar manfaat, maka ia hanyalah beban sejarah. Kita memiliki semua “alat” untuk menjadi hamba yang hebat, namun seringkali kita membiarkan alat-alat itu berkarat karena kemalasan dan ketakutan yang tidak beralasan.

Puncak dari kegelisahan Sayyidina Utsman adalah tentang Umur panjang yang tidak dijadikan bekal. Kita sudah sampai di hari kesepuluh, artinya sepertiga Ramadan sudah kita lalui. Jika umur yang tersisa tidak segera kita konversi menjadi amal salih untuk “perjalanan panjang” nanti, maka kita sedang melakukan kerugian yang tak bisa ditebus. Umur adalah modal utama yang tidak bisa di-top-up atau dicicil; ia terus berkurang seiring detak jantung, dan menyia-nyiakannya adalah bentuk kezaliman terhadap diri sendiri.

Sebagai penutup perjalanan kita di kitab Nashoihul Ibad ini, mari kita berkomitmen agar sepuluh hal ini tidak lagi menjadi penghuni “daftar sia-sia” dalam hidup kita. Jadikan ilmu kita berbuah amal, jadikan harta kita jembatan surga, dan jadikan sisa umur kita sebagai bekal terbaik. Terima kasih telah menemani kolom Zainuri menyelami mutiara-mutiara Syekh Nawawi selama sepuluh hari ini. Mulai besok, kita akan berpindah ke hamparan ilmu di kitab yang lain, namun semangat perbaikannya harus tetap menyala. Sampai jumpa di edisi #Ngabubuwrite fase Maghfirah besok!

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses