Rab. Feb 25th, 2026

Tradisi Tampa-an dan Euforia Menyambut Ramadhan

Thailand breakfast hawker Halal stall selling all kinds of foods in Aonang, Krabi.

Malam menjelang 1 Ramadhan selalu memiliki aroma yang berbeda di lingkungan pondok pesantren. Bukan sekadar pergantian kalender, melainkan sebuah simfoni kegembiraan yang membuncah. Di tengah riuhnya knalpot sepeda motor walisantri yang berdatangan, tampak pemandangan yang menghangatkan hati: momen tampaan massal. Menurut penulis, secara etimologis, istilah “tampaan” merupakan serapan dari bahasa Madura, yakni dari kata verbal ditampa atau nampa yang berarti diterima. Dalam konteks ini, tampaan bukan sekadar perpindahan fisik barang kiriman dari orang tua ke tangan santri, melainkan sebuah simbol filosofis tentang penerimaan dan sambutan hangat akan datangnya bulan suci Ramadhan.

Tradisi mengirimkan bekal besar-besaran dari orang tua kepada santri menjadi penanda bahwa gerbang bulan mulia telah terbuka. Halaman pesantren biasanya penuh dengan hiruk-pikuk wali santri dan tumpukan kiriman, mulai dari lauk pauk kering, kurma, hingga camilan untuk penyemangat tadarus. Bagi para santri, tampaan adalah bentuk dukungan moral dari rumah agar mereka bisa beribadah dengan tenang selama sekian hari dalam bulan puasa di pondok. Senyum mereka merekah bukan hanya karena logistik yang terpenuhi, tapi karena mereka merasa didampingi oleh doa keluarga dalam menempuh perjalanan spiritual.

Euforia yang tercipta di pondok pesantren malam itu adalah manifestasi nyata dari hadis populer yang sering disampaikan para kiai: “Barangsiapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka.” Kegembiraan para santri ini adalah bentuk pengamalan langsung dari hadis tersebut. Mereka sadar bahwa terpilih untuk kembali menemui bulan ampunan adalah anugerah besar. Ekspresi bahagia saat membongkar kiriman bersama teman sekamar adalah bukti bahwa semangat Ramadhan telah merasuk ke dalam jiwa sejak malam pertama.

Yang unik dari momen ini adalah kerelaan untuk berbagi yang begitu kental. Di pondok pesantren, santri yang menerima kiriman melimpah tidak akan menikmatinya sendiri. Di sudut-sudut kamar, terlihat lingkaran-lingkaran kecil santri yang makan bersama, saling mencicipi kiriman satu sama lain. Inilah kebahagiaan ganda: bahagia secara batin karena menyambut bulan ibadah, dan bahagia secara sosial karena mempererat ukhuwah melalui tradisi berbagi.

Malam itu, asrama tidak hanya terang oleh lampu-lampu, tetapi juga oleh pancaran energi positif para santri. Dengan bekal yang cukup dan hati yang penuh suka cita dalam “nampa” atau menerima bulan suci, mereka siap melangkah memasuki madrasah Ramadhan. Bagi seorang santri, kegembiraan dalam menyambut dan menerima Ramadhan dengan tangan terbuka adalah langkah awal menuju kemenangan yang hakiki.

Selamat Menyambut Ramadhan –

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses