Rab. Feb 25th, 2026

Rindu di Awal Maghrib: Meja Makan dan Kursi-Kursi yang Berganti Wajah

Ada getaran yang berbeda setiap kali suara beduk Maghrib bertalu di bulan Ramadhan. Bagi banyak orang, itu adalah suara kemenangan. Namun bagi sebagian yang lain, awal Maghrib adalah waktu di mana rindu justru terasa paling menyesakkan. Di sela-sela aroma kolak dan manisnya kurma, mata kita sering kali secara tidak sadar mencari sosok-sosok yang dulu pernah ada.

Dulu, meja makan terasa sangat penuh. Suasana berbuka begitu riuh dengan tawa Nenek yang selalu memastikan semua cucunya mendapat bagian takjil terbaik. Lalu, puasa berikutnya datang, dan kursi Nenek mendadak kosong. Piring kesayangannya masih ada di rak, tapi pemiliknya telah tiada. Kita belajar menelan rindu bersama segelas air putih, mencoba membiasakan diri bahwa doa-doa kini harus menyeberang alam untuk sampai kepadanya.

Waktu terus berjalan tanpa permisi, dan terkadang ia berjalan sangat kejam. Pada puasa selanjutnya, giliran Ayah yang tak lagi tampak di kepala meja. Bagian yang paling mengikis hati adalah saat usai berbuka, ketika kita berdiri untuk salat Maghrib berjamaah. Rumah mendadak sunyi karena tak ada lagi lantunan Fatihah dengan irama khas Ayah yang mengimami kita. Keheningan itu seolah berteriak bahwa sosok yang biasanya menuntun sujud kita, kini telah beristirahat di bawah nisan.

Kehidupan terasa begitu kuat mengikat rindu, hingga terkadang kita merasa meja makan ini akan terus berkurang penghuninya sampai hanya menyisakan kita sendirian dalam kesepian.

Namun, di tengah duka yang perlahan memudar menjadi kenangan, kehidupan menunjukkan sihirnya yang lain. Allah tidak hanya mengambil, Ia juga mengirimkan pengganti. Di kursi yang dulunya kosong, kini hadir sosok istri yang menyiapkan hidangan dengan penuh kasih, meneruskan jejak pengabdian yang pernah kita lihat dahulu. Tak lama kemudian, hadir pula suara tangis dan tawa mungil dari seorang anak yang duduk di pangkuan. Anak yang belum mengerti apa itu puasa, namun kehadirannya cukup untuk menambal lubang besar di hati kita.

Inilah siklus yang Tuhan gariskan. Kepergian orang tua memang menyisakan ruang hampa yang perih, namun kehadiran keluarga baru adalah cara semesta memberitahu bahwa kasih sayang tidak boleh mati. Kini, giliran kita yang berdiri di depan, mencoba menguatkan suara saat membaca Fatihah untuk mereka yang menjadi makmum kita, persis seperti yang dulu dilakukan Ayah.

Rindu di awal Maghrib mungkin tidak akan pernah hilang. Ia hanya akan berubah bentuk, dari tangis menjadi doa, dan dari kehilangan menjadi kekuatan untuk merawat mereka yang kini ada di depan mata. Kita belajar bahwa meski wajah-wajah di kursi itu berganti, hangatnya iman dan kasih sayang harus terus berlanjut.

Ramadhan dalam sekian hari lagi adalah cara waktu memberitahu: bahwa yang pergi meninggalkan doa, dan yang datang membawa harapan. Syukuri setiap napas di meja makanmu hari ini, sebelum satu per satu dari kalian hanya menjadi kenangan di waktu Maghrib.

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses