Rab. Mar 4th, 2026

لَا يَصْلُحُ الدِّيْنُ إِلَّا بِالدُّنْيَا، وَلَا تَصْلُحُ الدُّنْيَا إِلَّا بِالدِّيْنِ

“Agama tidak akan tegak tanpa (keteraturan) dunia, dan dunia tidak akan menjadi baik tanpa landasan agama.”

Memasuki hari ketiga belas Ramadan, kita seringkali terjebak pada dikotomi antara ibadah dan urusan harian. Imam Al-Mawardi dalam kitab ini mengingatkan bahwa agama dan dunia adalah dua hal yang saling menguatkan. Ibadah puasa kita membutuhkan tubuh yang sehat dan ekonomi yang cukup, sementara kerja keras kita mencari nafkah membutuhkan kendali moral dari agama agar tidak menjadi keserakahan.

Al-Mawardi menekankan pentingnya menjaga kehormatan diri (muru’ah). Orang yang beragama harus memiliki etika yang baik dalam bermuamalah. Di tengah fase ampunan ini, kita diajak untuk melihat kembali bagaimana cara kita berinteraksi dengan sesama. Apakah kejujuran kita di pasar atau kantor sudah sejalan dengan kekhusyukan kita saat sujud di masjid? Kesalehan sejati adalah yang terpancar dalam adab keseharian.

Salah satu rahasia kesuksesan yang dibahas dalam kitab ini adalah kekuatan akal dalam mengendalikan hawa nafsu. Ramadan adalah madrasah terbaik untuk melatih akal agar tetap memegang kendali. Al-Mawardi berpendapat bahwa manusia yang memenangkan akalnya di atas nafsunya akan menemukan ketenangan hidup, sedangkan mereka yang diperbudak nafsu akan selalu merasa kurang meskipun dunia sudah di genggamannya.

Di hari ketiga belas ini, biasanya fokus kita mulai terbagi. Persiapan mudik, belanja baju baru, atau urusan dapur mulai menyita pikiran. Al-Mawardi memberikan solusi: jangan musuhi urusan dunia itu, tapi “warnai” dengan niat agama. Membahagiakan keluarga dengan persiapan lebaran adalah ibadah, asalkan dilakukan dengan cara yang benar dan tidak melalaikan kewajiban utama kepada Allah.

Kitab ini juga menyoroti pentingnya mencari teman yang saleh. Lingkungan sangat menentukan apakah kita akan tetap konsisten di fase kedua Ramadan ini atau justru ikut-ikutan “kendor”. Teman yang baik akan mengingatkan kita pada keseimbangan; saat kita terlalu ambisius mengejar dunia, ia mengingatkan akhirat. Saat kita lalai dalam urusan dunia hingga menyusahkan orang lain, ia mengingatkan tanggung jawab.

Imam Al-Mawardi juga mengingatkan bahwa ilmu tanpa adab adalah sia-sia. Di zaman sekarang, informasi agama sangat mudah didapat, namun adab dalam menyampaikan dan menerimanya seringkali hilang. Puasa seharusnya melembutkan watak kita. Jika puasa hanya membuat kita menjadi emosional atau merasa paling benar, berarti ada yang salah dalam cara kita memadukan ilmu dan adab.

Mari kita jadikan hari ke-13 ini sebagai momentum untuk menata ulang prioritas. Sebagaimana pesan dalam Adabud Dunya wad Din, jadikanlah dunia sebagai ladang persemaian yang dirawat dengan syariat. Dengan keteraturan dunia yang baik, ibadah kita akan lebih tenang. Dengan agama yang kuat, kesuksesan dunia kita tidak akan melalaikan.

Catatan Penulis: Maaf ya, edisi ke-13 ini tayangnya mepet banget sama tarawih. Tadi sempat ‘bergulat’ dulu sama urusan duniawi biar sesuai tema kitabnya, wkwkwk! Selamat ibadah tarawih semuanya!

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses