Rab. Feb 25th, 2026

#Ngabubuwrite Edisi 06: Enam Kunci Kebebasan

Memasuki hari keenam, angka ini seolah mengajak kita membuka bab Sudasi dalam kitab Nashoihul Ibad. Di sana, terdapat sebuah maqolah yang sangat kuat tentang enam perkara yang jika dilakukan, maka seseorang telah menutup pintu neraka dan membuka lebar pintu surga bagi dirinya. Enam poin ini bukan sekadar daftar tugas, melainkan peta jalan hidup yang sangat logis.

Pertama dan kedua adalah tentang pengenalan: Mengenal Allah lalu menaati-Nya, serta mengenal setan lalu mendurhakainya. Syekh Nawawi menjelaskan bahwa tidak cukup hanya tahu bahwa Allah itu Tuhan jika kita tidak tunduk pada aturan-Nya. Begitu pula dengan setan; banyak orang tahu setan itu musuh, tapi tetap menjadikan bisikannya sebagai panduan hidup. Mengenal musuh artinya memahami tipu dayanya agar tidak terjebak di lubang yang sama.

Ketiga dan keempat berbicara tentang visi: Mengenal akhirat lalu mencarinya (mempersiapkan bekal), serta mengenal dunia lalu meninggalkannya (tidak diperbudak olehnya). Di bulan Ramadan ini, kita sedang dilatih untuk “meninggalkan” dunia sejenak, menahan makan, minum, dan syahwat yang merupakan simbol kesenangan dunia, demi mengejar kenikmatan akhirat yang lebih kekal. Ini adalah latihan agar dunia hanya ada di tangan kita, bukan merajai hati kita.

Kelima dan keenam adalah tentang prinsip: Mengenal kebenaran lalu mengikutinya, serta mengenal kebatilan lalu menjauhinya. Di zaman sekarang, batas antara haq (benar) dan bathil seringkali menjadi abu-abu karena tertutup oleh opini dan tren. Namun, bagi mereka yang mau belajar, kebenaran itu sebenarnya terang benderang. Mengetahui kebenaran tanpa mengikutinya hanya akan membuahkan penyesalan, sebagaimana mengetahui kebatilan namun tetap mendekatinya hanya akan mendatangkan celaka.

Jika kita perhatikan, enam poin ini adalah sebuah siklus utuh. Kita tidak bisa hanya memilih satu dan mengabaikan yang lain. Ketaatan kepada Allah menuntut ketidakpatuhan kepada setan. Fokus pada akhirat menuntut kita untuk tidak terobsesi pada dunia. Dan mengikuti kebenaran menuntut keberanian untuk meninggalkan kebatilan.

Ramadan di hari keenam ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya pada diri sendiri: dari enam kunci ini, mana yang paling sering terlepas dari genggaman kita? Apakah kita masih sering “berkompromi” dengan setan karena merasa dunia terlalu manis untuk ditinggalkan? Semoga di sisa bulan suci ini, kita diberikan kekuatan untuk menggenggam keenam kunci tersebut erat-erat hingga pintu kebahagiaan itu benar-benar terbuka untuk kita. Sampai jumpa di edisi #Ngabubuwrite besok!

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses