Bulan Ramadan seringkali menjadi momentum untuk kembali menata hati yang mungkin selama setahun terakhir mulai berdebu. Sebagai teman menunggu waktu berbuka, kolom #Ngabubuwrite hadir setiap hari untuk membedah poin-poin penting dari kitab Nashoihul Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani. Mengawali edisi perdana ini, ada satu tema krusial yang perlu menjadi perhatian bersama: kecenderungan manusia dalam menyepelekan sesuatu, terutama dosa-dosa yang dianggap remeh.
Dalam kitab tersebut, terdapat sebuah maqolah (perkataan) yang menjadi peringatan keras: “Tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus, dan tidak ada dosa besar jika disertai dengan istighfar.” Pesan ini secara telak menghantam kebiasaan menganggap enteng kesalahan, seolah-olah tumpukan debu yang dibiarkan bertahun-tahun tidak akan pernah menjadi gunung yang menyesakkan dada. Padahal, pengulangan atas hal kecil justru seringkali menjadi awal dari kerusakan yang permanen.
Maksiat bisa diumpamakan ibarat api yang menyentuh sebatang kayu yang mulus. Jika api itu masih kecil, mungkin ia hanya meninggalkan bekas hitam tipis yang mudah dibersihkan, cukup diamplas sedikit dengan penyesalan dan amal baik, maka kayu itu bisa kembali indah. Namun, jika api kecil itu disepelekan dan dibiarkan terus membara, maka kayu itu lama-kelamaan akan terbakar habis. Masalahnya, kayu yang sudah berubah menjadi arang tidak akan pernah bisa kembali putih sekeras apa pun ia digosok. Begitulah gambaran hati; ia bisa berubah wujud menjadi gelap total hingga sulit menerima hidayah kembali jika terus-menerus memupuk noda yang dianggap sepele.
Fenomena hari ini justru menunjukkan hal yang lebih memprihatinkan, di mana maksiat bukan lagi dilakukan dengan sembunyi-sembunyi karena malu, melainkan dengan rasa bangga seolah itu adalah sebuah pencapaian. Syekh Nawawi mengingatkan sebuah konsekuensi yang sangat menggetarkan: “Barang siapa bermaksiat dalam keadaan tertawa (bangga), maka Allah akan memasukkannya ke neraka dalam keadaan menangis. Dan barang siapa taat sembari menangis (karena rendah hati), maka ia akan masuk surga dalam keadaan tertawa.” Rasa bangga saat berbuat salah adalah alarm nyata bahwa hati mulai mati rasa terhadap kehadiran Sang Pencipta.
Sifat menyepelekan ini sebenarnya berakar dari satu penyakit kronis, yaitu kesombongan. Inilah satu-satunya maksiat yang nyaris mustahil diampuni jika tidak segera disadari karena pelakunya seringkali merasa tidak butuh ampunan. Ingatlah bagaimana Iblis yang dulunya ahli ibadah harus menerima laknat abadi hanya karena satu kesalahan: menyepelekan Nabi Adam AS. Baginya, Adam hanyalah “tanah” yang tak sebanding dengan “api” miliknya. Ketika seseorang mulai menyepelekan kesalahan atau merendahkan orang lain, secara tidak sadar benih kesombongan Iblis sedang dipelihara di dalam dada.
Sebagai penutup, ada satu nasihat indah dalam kitab ini yang patut direnungkan: “Sungguh berbahagia orang yang akalnya menjadi pemimpin dan hawa nafsu jadi budaknya, dan celakalah orang yang hawa nafsunya menjadi pemimpin sementara akalnya menjadi tawanan.” Akal yang sehat adalah ia yang mampu melihat akibat jangka panjang dari setiap tindakan, bukan yang tertipu oleh kesenangan sesaat. Jika hari ini nafsu masih sering “memerintah” akal untuk membenarkan kesalahan, maka Ramadan inilah saat yang tepat untuk membalikkan posisi tersebut.
Menjadikan nafsu sebagai pelayan bagi ketaatan adalah sebuah keharusan sebelum kayu hati benar-benar berubah menjadi arang yang legam. Mumpung perjalanan Ramadan masih di awal, noda-noda kecil itu perlu segera “diamplas” dengan istighfar sebelum ia mengerak dan sulit dibersihkan. Sampai jumpa di edisi #Ngabubuwrite besok, semoga setiap huruf yang dibaca menjadi langkah kecil menuju pembersihan diri yang hakiki.

