Ingatan saya melompat ke masa-masa menjadi santri aktif dulu. Setiap malam Jumat Legi, suasana pesantren berubah menjadi lebih khidmat. Teman-teman akan sibuk menyiapkan botol-botol air dengan tutup terbuka, diletakkan rapi di depan mimbar. Kami duduk melingkar, ngalap berkah sembari mendengarkan Cak Sutiarno membacakan bait-bait Al-Lujainud Dani, kitab manaqib legendaris tentang Sang Sultanul Auliya. Saat itu, kami lebih banyak terpukau pada sisi “sihir” dan keramatnya.
Namun, beberapa saat lalu, saya kembali membuka kitab tersebut. Membacanya baris demi baris bukan lagi sebagai rutinitas ritual, melainkan upaya memahami jejak hidup seorang sufi legendaris penggagas Tarekat Qadiriyah. Jejak keilmuannya ternyata jauh lebih luas dari sekadar cerita mistik; ia abadi dalam kitab-kitab berat seperti Al-Ghunyah, Sirrul Asrar, hingga Fathur Rabbani.
Di balik kemasyhurannya sebagai “Raja Para Wali”, Syekh Abdul Qadir adalah seorang intelektual raksasa. Di madrasah yang beliau ampu, beliau memberikan kuliah untuk belasan mata pelajaran setiap harinya—mulai dari tafsir, hadis, hingga fikih. Kapasitas ini membuktikan bahwa kewaliannya berakar kuat pada kedalaman ilmu, bukan sekadar laku batin.
Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang memiliki ketegasan luar biasa, terutama menyangkut prinsip kebenaran. Dalam pandangan politiknya, beliau tidak pernah membebek pada penguasa. Beliau adalah pengkritik tajam bagi penguasa yang zalim, namun tetap dengan wibawa seorang ulama. Ketegasannya ini tak lepas dari bimbingan spiritualnya yang disebut-sebut bersumber langsung dari Nabi Khidir AS, memberikan beliau perspektif “hakikat” yang tidak dimiliki banyak orang di zamannya.
Masyarakat Jawa dan Madura mungkin sangat akrab dengan ritual Ser Jailani, sebuah tradisi yang terinspirasi dari kisah beliau menghidupkan kembali ayam yang sudah tinggal tulang-belulang. Kisah itu populer sebagai simbol mukjizat, namun jika kita gali lebih dalam lewat kitab-kitabnya, pesan aslinya adalah tentang “menghidupkan hati yang mati”.
Bagi kita, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani adalah bukti nyata bahwa puncak tertinggi dari seorang sufi bukanlah kemampuan terbang atau menghidupkan tulang, melainkan keteguhan memegang syariat di satu tangan dan hakikat di tangan lainnya. Beliau bukan sekadar nama dalam Hadhrah Fatihah pembuka doa, tapi ia adalah standar bagi siapa saja yang ingin menyeimbangkan antara kecerdasan akal dan kebersihan ruhani.

