Sen. Sep 14th, 2026

Membayangkan Lomba Kelas Setiap Hari

Ada pemandangan yang tak biasa sewaktu saya menginjakkan kaki di koridor sekolah pada H+1 semarak lomba peringatan 17 Agustus kemarin. Koridor yang biasanya pengap oleh debu dan aroma keringat siswa mendadak berubah total. Memasuki area tiap kelas, hidung disergap oleh semerbak wangi pengharum ruangan berganti-ganti merek, mulai dari Stella hingga varian lainnya. Ruang kelas tampak begitu rapi, sudut-sudutnya bersih, tata letaknya presisi, dan secara keseluruhan sangat mengenakkan hati.

Melihat kondisi itu, terbersit sebuah lamunan spontan: andai saja atmosfer lomba kelas ini bisa terjadi setiap hari, atau setidaknya kondisi rapi dan harum ini bertahan sepanjang tahun ajaran. Tentu mood mengajar dan belajar bakal melesat 100 persen setiap hari. Namun, mungkinkah? Pada dasarnya, kerapian dan kebersihan lingkungan sekolah hanyalah masalah kebiasaan. Untuk membentuk habitus tersebut, diperlukan pembiasaan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan, minimal dari melatih diri sendiri terlebih dahulu.

Lantas, instrumen psikologis apa yang paling dibutuhkan? Jawabannya adalah perasaan tidak enak. Harus ada dorongan batin di mana seseorang merasa bersalah dan tidak nyaman jika melemparkan bungkus makanan sembarangan, meskipun saat itu tidak ada guru atau teman yang sedang melihatnya. Dalam tradisi spiritualitas Islam, konsep ini dikenal dengan istilah muraqabah, sebuah kesadaran eksistensial bahwa ada pengawasan yang maha melekat. Umat Islam sangat familier dengan istilah ini. Namun jika ditarik lebih jauh ke ranah sosiologis, muraqabah sejatinya tidak hanya berlaku antara hamba dengan Tuhannya, melainkan juga muraqabah terhadap makhluk, sesama manusia, dan alam lingkungan sekitar.

Selain rasa tidak enak yang mengendap di batin, masalah kedisiplinan fisik juga memegang peranan kunci. Saat rapat evaluasi di Madrasah Tsanawiyah kemarin, Kepala Madrasah sempat melontarkan gagasan menarik: bagaimana jika siswa dan guru tidak mengenakan sepatu saat memasuki ruang kelas? Sepatu luar diletakkan di rak depan agar lantai kelas bebas dari debu, lumpur, dan tanah yang terbawa dari luar.

Gagasan ini langsung mengingatkan saya pada salah satu adegan di film Fast and Furious: Tokyo Drift, di mana budaya sekolah di Jepang mewajibkan siswanya memiliki dua jenis alas kaki: sepatu luar dan sepatu khusus dalam gedung yang disebut uwabaki. Sepatu uwabaki ini hanya boleh dipakai di area dalam sekolah untuk menjaga sterilitas lantai. Di madrasah kita, meniru sistem uwabaki atau sekadar membiasakan siswa melepas sepatu di luar pintu tentu bukan masalah besar dan sangat realistis untuk diterapkan.

Tentu saja, membayangkan “lomba kelas setiap hari” bukan cuma soal enaknya pemandangan dan harumnya aroma ruangan. Ada realitas effort yang sangat menguras energi di baliknya. Saya melihat sendiri bagaimana perjuangan para wali kelas yang sibuk checkout berbagai ornamen dinding di toko oren, bolak-balik ke tempat percetakan untuk mencetak spanduk visual, hingga merapikan tata letak meja dan kursi. Effort-nya luar biasa besar dan patut diacungi jempol.

Sangat disayangkan jika keindahan hasil dedikasi itu harus sirna dan kembali kumuh pada H+7 setelah penilaian lomba selesai. Di sisi lain, tentu tidak mungkin menuntut para wali kelas dan siswa untuk mengeluarkan effort raksasa secara terus-menerus setiap hari. Yang kita butuhkan bukanlah kemewahan dekorasi yang dirombak saban minggu, melainkan konsistensi merawat. Cukup dengan menjaga kebersihan dasar, merawat pengharum ruangan bersahaja, serta menegakkan disiplin lepas sepatu, kenyamanan kelas ala 17-an sebenarnya sangat bisa kita nikmati setiap hari tanpa harus menguras dompet dan tenaga.

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *