Sen. Mei 18th, 2026

Kita Butuh Ruang Akademik Ga Sih?

modern open office workspace with cubicles
Photo by DOAN THANH BINH on <a href="https://www.pexels.com/photo/modern-open-office-workspace-with-cubicles-36631703/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Ada pemandangan yang sangat mengiris hati jika kita mau sedikit meluangkan waktu menengok ke area belakang institusi pendidikan kita. Bayangkan sebuah kursi belajar yang seharusnya menjadi tempat lahirnya generasi mandiri, justru teronggok sebatang kara di tengah sawah. Tak jauh dari sana, sebuah meja tampak separuh tenggelam di aliran sungai belakang sekolah, sementara papan tulis terlepas merana dan pintu kelas copot dari engselnya. Pemandangan ini bukan sekadar urusan estetika yang rusak, melainkan simbol nyata dari runtuhnya kepedulian terhadap aset pendidikan.

Melihat fenomena ini, ingatan saya melayang pada sistem yang ada di perguruan tinggi. Di kampus, kita mengenal sebuah unit bernama ruang akademik atau bagian sarana prasarana. Di sanalah tempat para petugas yang secara profesional dibayar dan diberi tanggung jawab penuh untuk memastikan roda fasilitas kampus tetap berputar. Mereka mengelola, merawat, dan memastikan semua inventaris kelas berada di tempat yang semestinya setelah digunakan.

Hal-hal yang mereka urus sekilas tampak sangat sepele dan remeh di mata sebagian orang. Tugas mereka adalah memastikan remote AC tidak terselip, proyektor kembali ke kotaknya, dan stopkontak tidak jebol setelah dipakai. Di akhir jam perkuliahan, merekalah yang memastikan setiap pintu kelas terkunci rapat, lampu-lampu dipadamkan, dan kipas angin berhenti berputar. Ini adalah rutinitas harian yang terdengar membosankan, namun memiliki dampak yang luar biasa besar bagi keamanan aset.

Melihat efektivitas sistem tersebut, rasanya akan sangat bagus jika konsep “ruang akademik” atau unit khusus manajemen fasilitas ini juga diadopsi di lingkungan madrasah kita. Selama ini, urusan mengunci kelas, mematikan kipas angin, atau merapikan bangku di madrasah sering kali dianggap sebagai urusan “bersama” yang ujung-ujungnya malah tidak ada yang mengurusi karena saling mengandalkan. Akibatnya, fasilitas cepat rusak dan inventaris sekolah raib tanpa ada yang tahu siapa yang harus bertanggung jawab.

Jika kita mau menengok ke luar negeri, sekolah-sekolah di Jepang terkenal tidak hanya karena kedisiplinan muridnya, tetapi juga karena sistem manajemen inventaris kelas yang sangat ketat. Setiap ruang kelas memiliki penanggung jawab khusus, baik dari unsur staf maupun organisasi siswa, yang wajib memastikan seluruh fasilitas kembali dalam kondisi steril dan aman sebelum gerbang sekolah dikunci. Sistem yang jelas membuat aset sekolah mereka bertahan hingga puluhan tahun.

Pemandangan bangku di sawah atau pintu yang terlepas di madrasah adalah tamparan keras bahwa kita butuh perubahan tata kelola. Madrasah tidak boleh lagi dikelola dengan pola “yang penting jalan”, tanpa adanya pengawasan aset yang disiplin. Dengan mengadopsi sistem ruang akademik yang memiliki petugas khusus untuk mengontrol fasilitas, madrasah bisa menghemat anggaran perawatan dan mengajarkan kultur tanggung jawab kepada seluruh warga sekolah.

Jadi, kalau ditanya “kita butuh ruang akademik ga sih di madrasah?”, jawabannya jelas: sangat butuh atau memaksimalkan tugas bagian sarana dan prasarana. Keberadaan unit dengan sistem seperti ini adalah benteng pertama yang menjaga agar investasi fasilitas pendidikan tidak berakhir menjadi rongsokan di parit belakang sekolah. Sudah saatnya kita memperlakukan meja, kursi, dan gedung madrasah dengan rasa hormat yang sama seperti kita menghargai ilmu yang kita pelajari di dalamnya.

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses