Sore ini kita menjelajahi pemikiran Imam Ghazali melalui kitabnya, Ihya’ Ulumiddin, kitab ini adalah maha karya beliau yang wafat sekitar 1111 M yang membedah rahasia di balik ibadah lahiriah. Dalam bab Asrarus Shawm (Rahasia Puasa), Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar urusan menahan lapar, melainkan sebuah perjalanan vertikal menuju kejernihan jiwa yang memiliki tingkatan-tingkatan berbeda.
صَوْمُ الْعُمُومِ، وَصَوْمُ الْخُصُوصِ، وَصَوْمُ خُصُوصِ الْخُصُوصِ
“Puasa terbagi tiga: Puasa Umum (Awam), Puasa Khusus (VIP), dan Puasa Khususil Khusus (VVIP).”
Memasuki hari kedua belas Ramadan, kita perlu mengenali di kasta mana puasa kita berada. Tingkat pertama adalah Puasa Umum (Awam). Fokus utamanya adalah menjaga perut dari makanan dan kemaluan dari syahwat. Hal yang membatalkan puasa di level ini adalah segala sesuatu yang masuk ke lubang tubuh secara sengaja serta hubungan biologis. Level ini adalah standar minimal syariat; sah secara hukum, namun seringkali “kering” dari nilai spiritual.
Tingkat kedua adalah Puasa Khusus (VIP). Di sini, puasa bukan lagi sekadar urusan fisik, melainkan puasanya seluruh panca indra. Hal yang “membatalkan” (merusak pahala) puasa di level VIP ini adalah lisan yang ghibah atau berdusta, mata yang melihat hal yang membangkitkan syahwat, telinga yang mendengarkan keburukan, serta tangan dan kaki yang melangkah pada kemaksiatan. Al-Ghazali menekankan bahwa puasa level ini adalah puasanya orang-orang saleh.
Tingkat tertinggi adalah Puasa Khususil Khusus (VVIP). Ini adalah puasanya hati dari segala keinginan duniawi dan pikiran-pikiran selain Allah secara total. Hal yang “membatalkan” puasa di level VVIP ini adalah ketika hati sedetik saja berpaling dari mengingat Allah atau terlalu sibuk memikirkan urusan duniawi (selain untuk bekal akhirat). Inilah puncak puasa para Nabi dan hamba-hamba pilihan-Nya yang hatinya benar-benar “kenyang” dengan kehadiran Tuhan.
Tantangan bagi kita di fase ampunan ini adalah bagaimana agar tidak terjebak di level umum selamanya. Menurut Al-Ghazali, orang yang berpuasa di level umum namun panca indranya tetap “berpesta” maksiat ibarat orang yang berwudu namun dengan air kencing; sah secara fisik tapi menjijikkan secara hakikat. Kita diajak untuk mulai memuasakan lisan dari komentar buruk dan memuasakan mata dari pemandangan yang tidak bermanfaat.
Setiap tingkatan ini memiliki konsekuensi masing-masing. Di level Umum, yang dijaga adalah rasa lapar. Di level VIP, yang dijaga adalah perilaku dan adab. Sedangkan di level VVIP, yang dijaga adalah lintasan pikiran dan niat. Transisi dari level Umum ke VIP adalah langkah krusial yang harus kita tempuh agar puasa kita tidak berakhir sebagai rutinitas tahunan yang melelahkan fisik semata.
Secara spesifik, Imam Al-Ghazali merujuk pada hadis yang mengingatkan adanya lima hal yang bisa menggugurkan pahala puasa hingga tak bersisa kecuali lapar dan haus. Kelima hal tersebut adalah berdusta (al-kadzib), bergunjing atau ghibah, mengadu domba (an-namimah), sumpah palsu, dan memandang dengan syahwat. Meskipun secara fiqih puasa seseorang tidak batal karena lima hal ini, namun secara hakikat, puasa tersebut telah “bocor” dan kehilangan keberkahannya di hadapan Allah.
Imam Al-Ghazali juga mengingatkan pentingnya tidak makan berlebihan saat berbuka. Orang yang perutnya penuh saat berbuka sebenarnya belum merasakan hakikat puasa, karena ia hanya memindahkan waktu makan. Kekenyangan adalah musuh bagi kejernihan hati; ia bisa merobohkan benteng puasa VIP dan VVIP yang sudah kita bangun susah payah sejak terbit fajar.
Mari kita jadikan hari ke-12 ini sebagai momentum untuk “upgrade” kualitas puasa. Jika selama ini kita masih di level Umum, mari kita paksa diri menuju level VIP dengan menjaga lisan dan mata. Sebagaimana pesan dalam Ihya, puasa adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya. Mari kita jaga rahasia itu dengan kualitas terbaik agar ampunan yang kita cari benar-benar murni menyentuh jiwa. Sampai jumpa di edisi #Ngabubuwrite besok!

