Rab. Feb 25th, 2026

#Ngabubuwrite Edisi 04: Empat Kebaikan yang “Lebih Utama”

Seringkali kita terjebak dalam pemahaman bahwa kebaikan itu sifatnya standar. Padahal, dalam kitab Nashoihul Ibad, dijelaskan bahwa ada derajat “lebih baik” dalam sebuah kebaikan tergantung pada siapa yang melakukannya. Ada empat hal yang menurut Syekh Nawawi dikategorikan sebagai ruba’iyat (hal yang berjumlah empat) yang indah, namun memiliki sisi lain yang jauh lebih indah dan utama.

Pertama, sifat malu. Malu bagi pria adalah sebuah kebaikan, namun sifat malu pada perempuan jauh lebih indah dan utama karena menjadi perisai kehormatannya. Kedua, keadilan. Berlaku adil adalah kewajiban setiap orang, namun keadilan yang dilakukan oleh seorang pemimpin memiliki dampak yang jauh lebih besar dan lebih dicintai karena ia mampu mengubah tatanan banyak orang. Ketiga, taubat. Taubat dari orang tua yang sudah berumur tentu sangat baik, namun taubatnya seorang pemuda di masa jayanya adalah keajaiban yang luar biasa, karena ia mampu menekan ego dan nafsu mudanya demi ketaatan.

Poin keempat yang paling menarik untuk kita renungkan di Ramadan ini adalah perihal kedermawanan. Dermawan bagi orang kaya itu baik dan wajar, namun kedermawanan orang miskin jauh lebih menakjubkan di hadapan Tuhan. Di sini, saya teringat akan dawuh Gus Baha’ yang sering memberikan perspektif cerdas mengenai logika sedekah ini.

Menurut Gus Baha’, seringkali orang miskin lebih mudah berbagi daripada orang kaya karena perbedaan skala “dunia” yang mereka miliki. Beliau mencontohkan, ketika seseorang masih miskin dan hanya memiliki dua ekor ayam, ia biasanya tidak keberatan menyembelih satu ekor untuk dibagikan kepada tetangganya. Secara matematika langit, orang tersebut telah menyedekahkan 50% dari seluruh kekayaan dunia yang ia miliki. Pengorbanan mentalnya jauh lebih besar.

Sebaliknya, bagi orang yang sudah kaya raya, logika ini sering kali berubah. Seseorang yang memiliki 10 ekor sapi mungkin akan berpikir beribu kali untuk menyedekahkan 5 ekor sapi (50% hartanya) meskipun secara nilai materi itu sangat besar. Keterikatan hati terhadap harta yang banyak seringkali menjadi beban yang lebih berat. Inilah mengapa kedermawanan orang miskin disebut lebih utama; mereka memberi di saat mereka pun sebenarnya membutuhkan, tanpa menunggu “lebih” untuk menjadi “baik”.

Ramadan mengajarkan kita untuk tidak menunggu kaya untuk menjadi dermawan, tidak menunggu tua untuk bertaubat, dan tidak menunggu menjadi pejabat untuk berlaku adil. Kebaikan tidak diukur dari seberapa besar nominal atau kedudukan kita, melainkan dari seberapa besar ketulusan dan pengorbanan yang kita letakkan di dalamnya. Jangan sampai kita menunda kebaikan hanya karena merasa kapasitas kita belum maksimal, karena bisa jadi “sedikit” milik kita hari ini adalah “segalanya” dalam timbangan-Nya. Sampai jumpa di edisi #Ngabubuwrite besok!

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses