Dalam berinteraksi dengan sesama, sering kali kita tidak sadar bahwa sikap kita terhadap orang lain menentukan siapa sebenarnya diri kita. Sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w. memberikan sebuah rumus kehidupan yang sangat presisi tentang relasi sosial. Beliau berkata:
“Berilah kebaikan kepada siapa saja yang engkau kehendaki, maka engkau akan menjadi pemimpinnya (pribadi yang disegani). Mintalah (bergantunglah) kepada siapa saja yang engkau kehendaki, maka engkau akan menjadi tawanannya. Dan merasa cukup-lah (tidak butuh) dari siapa saja yang engkau kehendaki, maka engkau akan menjadi setaranya.”
Maqolah ini adalah tentang menjaga Izzah (kehormatan diri). Kalimat pertama mengajarkan bahwa kemuliaan tidak datang dari jabatan, tapi dari seberapa banyak manfaat yang diberikan. Saat seseorang memberi (baik itu ilmu, bantuan, atau sekadar senyuman), secara alami ia memiliki derajat yang lebih tinggi di mata orang lain. Dalam psikologi sosial, memberi menciptakan otoritas moral yang tak terbantahkan.
Namun, Sayyidina Ali juga memberikan peringatan keras pada kalimat kedua. Saat seseorang mulai menggantungkan harapan dan meminta-minta kepada manusia, saat itulah ia menyerahkan “lehernya” untuk diikat. Meminta di sini bukan sekadar soal uang, tapi juga soal validasi dan perhatian. Semakin kita haus akan pemberian orang lain, semakin kita kehilangan kemerdekaan diri dan menjadi “tawanan” dari ekspektasi mereka.
Level ketiga adalah tentang kemerdekaan yang hakiki: merasa cukup (Istighna). Menjadi setara bukan berarti memiliki harta yang sama banyaknya dengan orang lain, melainkan memiliki mentalitas yang tidak merasa rendah di hadapan si kaya dan tidak merasa sombong di hadapan si miskin. Di bulan Ramadan ini, rasa lapar sebenarnya sedang melatih mentalitas Istighna kita; bahwa kita hanya butuh Allah, dan kepada-Nya pulalah sebaik-baiknya tempat meminta.
Dalam kitab Nashoihul Ibad, konsep ini dipertegas dengan penjelasan bahwa orang yang paling bahagia adalah mereka yang memiliki rasa qana’ah (merasa cukup) atas apa yang ada di tangannya. Ketika hati sudah merasa cukup, ia tidak akan mudah tergoda untuk menjadi “tawanan” bagi kepentingan orang lain hanya demi keuntungan sesaat.
Melalui pesan Sayyidina Ali ini, kita diajak untuk meninjau kembali: di posisi mana kita hari ini? Apakah kita menjadi pemimpin bagi orang lain melalui kebaikan, menjadi tawanan karena ketergantungan, atau menjadi pribadi yang merdeka karena merasa cukup? Ramadan adalah momen terbaik untuk memutus tali “tawanan” itu dan mulai membangun kemuliaan dengan memberi. Sampai jumpa di edisi #Ngabubuwrite besok!

