Pernahkah terlintas mengapa saat menjelang berbuka, mata seolah lebih lapar daripada perut? Ada keinginan impulsif untuk menghabiskan semua jenis takjil, bahkan rasanya sanggup menghabiskan satu galon air sendirian. Secara psikologis, ini disebut dengan eyes over stomach syndrome atau proyeksi nafsu yang berlebihan akibat rasa haus dan lapar yang memicu otak untuk melakukan “balas dendam” (coping mechanism) atas kekurangan energi seharian. Namun, seringkali saat azan berkumandangkan dan satu gelas air masuk, keinginan besar tadi mendadak lenyap. Di sinilah puasa sebenarnya sedang mendidik kita tentang batasan antara kebutuhan dan sekadar keinginan.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu Tuhannya kelak. Kebahagiaan saat berbuka bukanlah tentang banyaknya makanan yang tersaji, melainkan tentang rasa syukur atas tuntasnya sebuah amanah ketaatan. Inilah mengapa disunnahkan untuk menyegerakan berbuka (ta’jil) dengan yang manis atau kurma, serta mengakhirkan sahur. Sunnah ini bukan sekadar teknis waktu, tapi bentuk kasih sayang syariat agar tubuh tidak terbebani secara berlebihan, sekaligus menjaga energi agar tetap produktif.
Kitab Nashoihul Ibad membawa perspektif yang lebih tajam mengenai makanan melalui kisah Nabi Ibrahim AS. Ketika ditanya mengapa Allah menjadikannya Khalilullah (kekasih Allah), beliau menjawab karena tiga hal, salah satunya adalah: “Aku tidak makan pagi dan tidak makan malam kecuali bersama tamu.” Nasihat ini sejalan dengan amalan yang mampu mengangkat derajat seseorang ke tingkat yang tinggi, yaitu menyebarkan salam, shalat di malam hari saat manusia terlelap, dan yang paling relevan dengan tema kita: memberi makan orang yang lapar (ith’amuth tho’am).
Memberi makan orang lain memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ada tiga golongan yang akan mendapatkan naungan Arsy Allah di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya: orang yang tetap berwudhu meski dalam keadaan sulit, orang yang melangkah ke masjid di kegelapan malam, dan orang yang memberi makan orang lapar. Di sini kita melihat sebuah kontras; saat nafsu kita mengajak untuk menimbun makanan bagi diri sendiri saat berbuka, syariat justru mengajak kita untuk berbagi kebahagiaan meja makan dengan mereka yang membutuhkan.
Lebih dalam lagi, Ibrahim Al-Nakha’i memberikan peringatan tentang penyebab hancurnya umat-umat sebelum kita. Beliau menyebutkan tiga perkara: fudhulul kalam (berlebihan dalam bicara), fudhuluth tho’am (berlebihan dalam makan), dan fudhulul manam (berlebihan dalam tidur). Sesuatu yang berlebihan, meski itu halal seperti makanan, dapat menumpulkan hati dan melemahkan fisik. Kebahagiaan sejati justru ditemukan oleh mereka yang memiliki hati yang berilmu, tubuh yang sabar (tahan uji), serta rasa qana’ah (merasa cukup) atas apa yang ada di tangan.
Pada akhirnya, Ramadan bukan sekadar memindahkan jam makan, tapi mengatur ulang pola interaksi kita dengan dunia. Menyeimbangkan antara tuntutan perut dan kebutuhan ruhani adalah kunci. Puasa mengajarkan bahwa kepuasan tidak selalu datang dari perut yang penuh, tapi dari pengendalian diri yang matang. Semoga di sisa Ramadan ini, kita tidak hanya sibuk mengejar keinginan “satu galon air”, tapi juga sibuk berbagi piring dengan sesama dan menjaga diri dari hal-hal yang berlebihan. Sampai jumpa di edisi #Ngabubuwrite besok.

