Tadi sewaktu duduk menyimak khutbah Jumat, pikiran saya mendadak terlempar jauh saat khatib mulai membahas tentang hari akhir. Ada satu detail yang terus mengusik rasa penasaran saya: sosok Malaikat Israfil dan mandatnya untuk meniup Sangkakala. Saya mulai bertanya-tanya, mengapa kiamat harus dimulai dengan sebuah tiupan? Mengapa suara?
Kalau saya renungkan dari sudut pandang fisika, suara sebenarnya adalah kekuatan yang sangat mengerikan jika skalanya melampaui ambang batas. Suara bukan sekadar apa yang kita dengar dengan telinga, melainkan gelombang mekanik yang membawa energi kinetik. Saya membayangkan tiupan Sangkakala itu sebagai sebuah gelombang kejut raksasa yang frekuensinya mampu meresonansi seluruh materi di alam semesta. Di laboratorium, kita tahu bahwa suara pada desibel tertentu bisa merobek jaringan tubuh atau bahkan menghancurkan molekul benda padat. Mungkin itulah rahasia di balik kekagetan massal atau fazaun adzim yang digambarkan dalam Al-Quran; sebuah simfoni kehancuran di mana frekuensi suara Sangkakala tepat mengenai frekuensi alami atom-atom penyusun dunia, hingga segalanya luruh dan tercerai-berai seketika tanpa sempat ada yang menghindar.
Pikiran saya pun semakin dalam tertambat pada dimensi waktu yang terasa begitu cair dalam narasi akhir zaman. Ada keanehan yang indah sekaligus mencekam saat membaca bahwa satu hari di sana sebanding dengan ribuan tahun di bumi. Secara otomatis, nalar saya langsung terhubung pada konsep relativitas dan dilatasi waktu yang dijelaskan Albert Einstein dalam bukunya, The Meaning of Relativity. Di dalam fisika, waktu bukanlah sesuatu yang kaku; ia bisa melambat atau melengkung drastis di bawah pengaruh medan gravitasi yang ekstrem. Saya membayangkan peristiwa kiamat sebagai sebuah titik singularitas, sebuah kondisi di mana hukum fisika yang kita kenal hari ini runtuh. Mungkin saat itu terjadi, semesta masuk ke dalam ruang-waktu yang begitu padat sehingga setiap detik yang dirasakan manusia merangkum sejarah ribuan tahun peradaban dunia. Kita seolah ditarik keluar dari garis waktu linear yang biasa kita jalani.
Hal ini mengingatkan saya pada nubuat ilmiah dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya ayat 104, yang menyebutkan tentang hari di mana langit digulung bagaikan menggulung lembaran-lembaran kertas. Dalam sains, fenomena ini sangat identik dengan teori The Big Crunch, sebuah hipotesis di mana alam semesta tidak lagi mengembang, melainkan mengerut kembali akibat tarikan gravitasi yang maha dahsyat hingga bumi dan langit memapat. Jika tiupan Sangkakala adalah pemicunya, maka secara kuantum kita sedang membicarakan tentang hilangnya gaya repulsif yang selama ini menahan galaksi agar tidak saling bertabrakan. Kiamat bukan lagi sebuah kekacauan tanpa arah, melainkan proses penggulungan ruang-waktu yang sangat matematis, sebuah transisi fase di mana materi kembali menjadi energi murni sebagaimana saat alam semesta ini pertama kali dilahirkan.
Lebih jauh lagi, jika kita membedah peristiwa ini melalui kacamata mekanika kuantum, sebagaimana disinggung secara filosofis oleh Fritjof Capra dalam The Tao of Physics, kiamat bisa dipahami sebagai runtuhnya fungsi gelombang semesta secara serentak. Jika selama ini dunia bekerja dalam ketidakteraturan yang teratur, suara Sangkakala mungkin bertindak sebagai pengamat agung yang memaksa seluruh partikel di alam semesta berhenti dari tarian superposisinya. Di titik itulah, realitas dunia yang selama ini saya anggap kokoh tiba-tiba lenyap, menyisakan kesadaran manusia yang ditarik masuk ke dalam dimensi yang lebih tinggi. Pada akhirnya, khutbah tadi menyadarkan saya bahwa kiamat bukan sekadar peristiwa mistis, melainkan sebuah pertunjukan agung tentang energi dan waktu; sebuah momen di mana suara menjadi pemutus rantai eksistensi, di mana seluruh energi dan waktu hancur lebur di hadapan Kekekalan Sang Pencipta.

