Jika ada yang menonjol dari Indonesia dalam dunia maya, maka hal tersebut adalah netizen yang adidaya. Beberapa pekan lalu, seorang turis Brazil kehilangan nyawa setelah terjatuh di Gunung Rinjani, usaha yang dilakukan oleh Agam, cs. Menuai banyak sekali pujian, bahkan hingga mendapat donasi berupa uang hingga jutaan rupiah. Ironinya, beberapa orang brazil memberikan penilaian yang tidak baik pada Gunung Rinjani dengan macam-macam ulasan. Tidak tinggal diam, netizen indonesia yang digadang-gadang sebagai netizen terbar-bar didunia pun menilai balik Hutan Hujan Amazon. wkwkwk.
Meskipun Indonesia sering mendapat rating rendah dalam budaya membacanya, tetapi hal ini berbanding terbalik dalam dunia maya. Pada tahun 2023, tingkat melek digital di Indonesia sekitar 58 persen, yang berarti meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. PISA menempatkan Indonesia pada posisi 71 dari 81 negara, UNESCO menyebutkan bahwa diantara 1000 orang indonesia, hanya 1 yang memiliki minat baca meskipun hal ini bertentangan dengan penilitian CEOWORLD yang mengatakan bahwa Indonesia menempati posisi 31 dengan penduduk paling rajin membaca buku dari 102 negara.
Literasi digital membutuhkan kecepatan dalam membaca, mengevaluasi dan banyak hal lainnya. Volume informasi yang dihasilkan tidaklah sama dengan koran, dalam digital satu waktu kita dapat membaca puluhan informasi dari sumber yang berbeda. Hal ini menuntut otak untuk memproses informasi beragam dalam waktu yang sangat singkat. Jika literasi umumnya saja terabaikan, seperti membaca buku, koran maka menghadapi dunia digital tidak lebih dari mengkonsumsi informasi sampah setiap harinya.
Saya masih ingat betul, entah MTs atau MA pada zaman dulu ketika masih mondok menyediakan panel koran di halaman dan sering saya nikmati betul. Di zaman yang mudah seperti saat ini, hal-hal semacam itu perlu untuk membentuk siswa yang terdidik secara literal dan digital. Karena apa? akses yang susah bisa menjadi alasan. Tan Malaka pernah berujar, Selama perpustakaan dapat dibangun, di sana pula semangat revolusioner dapat dikobar-kobarkan.
Harapan besar saya pada perpustakaan yang akan dibangun ini, agar bisa menjadi wadah akan kehausan informasi siswa. Kembali pada topik tulisan, bahwa orang yang memegang smartphone belum tentu penggunanya smart. wkwkwk. lelucon yang sadis namun kenyataannya demikian, saya pernah membaca buku Azrul Ananda, anaknya Dahlan Iskan bahwa orang saat ini lebih jago membuat status dan caption daripada menulis artikel panjang.
Literasi Digital bukan hanya tentang cara bermain media sosial, tapi ada komponen-komponen penting di dalamnya. Diantaranya seperti yang disebutkan sebelumnya, pengolaan informasi yang melimpah ruah. Kemudian, Etika Digital.
Etika Digital, mungkin tidak ada dalam kitab kuning, tapi dampaknya itu luar biasa. Hal ini berkaitan dengan bagaimana kita berkomentar, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dari konten-konten negatif, juga menghargai privasi orang lain. Ini yang tidak dimiliki oleh kebanyakan netizen Indo yang kuasa, wkwkwk. Seringkali kekesalannya direfleksikan dalam komentar yang tanpa sengaja, itu sangat menyinggung pembacanya berbuah hate-speech, bullying dan lain semacamnya.
Ketiga adalah keamanan digital, perampokan di dunia maya terkenal lebih sadis daripada di dunia nyata dan lebih rumit. Hanya karena kesalahan pengguna, membagikan kode rahasia, nomor kartu kredit bahkan email dan nomor hp kepada orang yang tidak dikenal, berakhir dengan raibnya uang jutaan rupiah di mobile banking dan lain sebagainya. Literasi digital menjadi penting, untuk mengetahui tindakan yang mencurigakan guna menghindari dari bahaya digital seperti perampokan mbanking, pemerasan dan lain-lain.
Mengetahui hal-hal sederhana diatas mungkin cuma dasar, dan ada banyak lagi yang semakin meningkatnya tahun perlu tingkat adaptasi pada teknologi yang makin tinggi. Sekedar uang digital seperti QRIS masih banyak orang bingung, apalagi beranjak pada QRIS Tap dan Biometrik Payment, yang mana orang Indo masih lebih enak memegang uang tunai daripada versi elektronik. wkwkw.
Semoga tetap terlindungi, amin.
bin Husein.

