قال عليه السلام إنكم أصبحتم في زمان كثير فقهاؤه قليل خطباؤه قليل سائلوه كثير معطوه العمل فيه خير من العلم وسيأتي على الناس زمان قليل فقهاؤه كثير خطباؤه قليل معطوه كثير سائلوه والعلم فيه خير من العمل
Nabi pernah bersabda, Kamu berada di zaman dimana banyak sekali orang yang alim, sedikit orang yang berkhutbah dan meminta serta banyak orang yang memberi. Mengamalkan ilmu di zaman ini lebih baik dari ilmu. Dan akan datang suatu zaman, dimana sedikit sekali orang alimnya, banyak yang berkhutbah, sedikit yang memberi dan banyak orang yang meminta-minta, pada zaman ini ilmu lebih baik daripada mengamalkannya.
Hadits yang disinggung oleh Imam Az-Zabidiy dalam takhrij hadits Kitab Ihya’ Ulumiddin, menjelaskan dua zaman yang berbeda. Zaman keemasan, adalah zaman mereka para sahabat, tabiin dan tabiit-tabiin. Dimana, ajaran Islam didapat dari sumber mata-air langsung yang menututi dari mata ke mata, yakni Nabi Muhammad. Pada zaman tersebut, tidak banyak orang yang berdakwah dalam hal ini disebut Khutaba-a yang merupakan bentuk plural dari Khatib, minim sekali orang yang meminta-minta serta banyak orang yang memberi. Beliau menegaskan, bahwa mengamalkan ilmu pada zaman tersebut, lebih baik daripada memilikinya.
Penulis teringat dengan kisah Amirul Mukminin, Umar bin Khattab diawal masuk Islam. Karena saking giatnya dalam mengamalkan Ilmu, beliau pun langsung bergegas mengejar ketertinggalannya dalam urusan beribadah kepada Allah atas para sahabat-sahabat yang senior. Bilal bin Rabah, seorang budak Abbisiniah atau Ethiopia, yang walaupun statusnya mantan budak Umayyah bin Khalaf, tetapi suara sendalnya telah lebih dahulu berada di Surga. Sangat jarang sekali diriwayatkan bahkan hingga abad ke 4 hijriah, dai-dai yang dikenal kecuali Nabi Muhammad SAW dan para sahabat senior. Ini membuktikan, bahwa zaman itu sangat minim orang yang berdakwah.
Juga, sedikit orang yang meminta dan banyak yang memberi. Seperti halnya Abu Bakar As-Shiddiq, beliau memerdekakan budak lemah yang nilainya hampir sekelas pemain bola, Bilal bin Rabah. Umayyah bin Khalaf, meminta tebusan sekitar 9 uqiyah emas. 1 uqiyah senilai 31,7475 gram emas yang jika dirupiahkan perkiraan 64 juta lebih dengan total Rp. 579.026.825,- untuk harga seorang Bilal bin Rabah. Ada banyak budak lain yang rela dibayar mahal oleh Abu Bakar hanya demi mengamalkan QS. Al-Baqarah: 261.
Kemudian di zaman kita, berbanding terbalik dari zaman itu. Pada hakikatnya, قَلِيل فقهاؤه atau minimnya orang yang alim di zaman ini bukan karena kurangnya orang yang pintar, namun karena wafatnya orang yang alim dan membawa segudang pengetahuan bersamanya ke dalam liang lahad. Nabi Muhammad merupakan kota pengetahuan sedangkan pintunya adalah Ali bin Abi Thalib. Dari seorang Nabi Muhammad melahirkan insan-insan yang didikannya luar biasa, kemudian dari Ali bin Abi Thalib melahirkan peradaban yang menyebar hingga ke seluruh dunia. Hal ini senada dengan hadits yang diriwatkan oleh Abdullah bin Amr, bahwa jika Allah ingin menghendaki untuk mencabut ilmu dari suatu kaum, maka ia akan mewafatkan para ulama. dst.
Saat ini, kita dihadapkan pada fakta dalam kalimat selanjutnya كثير خطباؤه atau banyaknya orang berdakwah. Realitanya, FYP itu benar-benar membuat orang kehilangan arah. Tren yang silih berganti membuat orang harus beradaptasi dengan banyak hal, bukan hanya gaya hidup tapi juga dengan pikiran dan pemahaman yang berbeda-beda secara cepat. Banyak ustadz dan ustadzah dadakan yang muncul kemudian memberikan statemen yang berbeda dengan konsensus para ulama.
Perpaduan yang kompleks akan minimnya orang yang alim dan banyaknya para dai dengan tidak dibekali pemahaman yang cukup akan menimbulkan banyak sekali keresahan. Seseorang yang ditokohkan, ucapannya mampu menggerakkan massa, jika tidak ditatar dengan pemahaman baiknya atau pentingnya menjaga umat agar tetap aman, maka setiap ucapannya hanya akan menjadi biang perpecahan, kontroversi dan sumber ujaran kebencian (hate speech).
Mama Ghufron contohnya, saya tidak ingin menyinggung sisi personalnya, namun pemikirannya. Jika benar dirinya mampu berbahasa Suryani, dialek Aram kuno dan bahasa-bahasa hewani lainnya, tentu merupakan hal yang luar biasa. Namun dengan mengungkapkannya di Media Sosial, itu hanya menjadi petaka bagi dirinya dan kebanyakan orang akan menganggap Mama Ghufron sebagai sosok yang halu dan menciptakan mob mentality dan berujung pada cyberbullying. Dalam banyak potongan video, ia juga kerap kali melontarkan Hadits Nabi yang dalam pengucapannya berbeda dengan bahasa Arab lumrah, terlepas dari kontroversinya, ia juga memiliki Universitas dan puluhan jamaah pengajian.
Selanjutnya قليل معطوه atau sedikit orang yang memberi dan كثير سائلوه banyak yang meminta. Lagi-lagi kita dihadapkan pada perkembangan zaman yang acap kali dijadikan alat untuk menetralisir rasa malu. Tren meminta-minta di dunia maya diminati banyak orang. Bukan lagi duduk di pinggir jalan dengan seonggok kaleng kosong, namun dari rumah dan hape canggih berjaringan wifi. Saya tegaskan disini, tidak semua orang, namun beberapa diantaranya demikian.
Beda cerita dengan orang yang sengaja melakukan live-streaming untuk berjualan, karena digital juga menjadi portal akan penjualan yang cross-border, penjual bebas menawarkan ke siapa saja yang memiliki akses digital, batasnya mungkin hanya ke alam ghaib. Ini bernilai positif, dan sangat positif. Sama halnya juga dengan yang melakukan live-streaming guna menghilangkan penat, menghibur diri dan mengurangi stress, juga mungkin dapat dibenarkan.
Konteks hadist diatas, adalah meminta-minta tanpa bekerja. Abu Hurairah meriwayatkan satu hadist dalam Musnad Ahmad,
مَنْ فَتَحَ عَلَى نَفْسِهِ بَابَ مَسْأَلَةٍ، فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ
Barang siapa yang membuka pintu meminta-minta, maka Allah akan membukakan pintu kefakiran. Saya juga teringat pepatah hadits lawas ketika masih berada di sekolah dasar, Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Pada zaman ini, ilmu lebih diprioritaskan daripada mengamalkannya. Kita dituntut untuk menjadi alim sealim-alimnya.
Teringat dengan pesan Al-Maghfurlah Kiai Maksum, “sengak cong, pabennyak nyare elmu, mumpong ghik ngude”. Hal ini senada dengan pesan Imam Syafii, Belajarlah sebelum kamu memimpin, karena ketika kamu memimpin, tidak akan ada kesempatan lagi untuk belajar. Terngiang juga jargon yang sering dilontarkan Pak Erfan ketika masih menjadi siswa MA, “Long-Life Learning“, belajar hingga akhir hayat. Ilmu menjadi penting sebagai filter dari segala distorsi konten digital yang terkesan dangkal, tidak sejalan dengan pemahaman dan provokatif.
Tabik,
bin Husain

