Kiai Bahauddin bin Nur Salim atau yang sering dikenal dengan sapaan Gus Baha. Meskipun ada banyak Gus yang menuai polemik di media sosial, tetapi Gus yang satu ini memang cenderung dikenal akan keluasan pengetahuannya. Saya tidak akan menulis biografi beliau, karena itu tidak lebih berarti dari banyak sekali ilmu-ilmu segar dan solusi mudah dalam beragama yang beliau utarakan dalam banyak potongan video.
Gayanya pun cukup sederhana, baju putih, peci nasional dan sandal jepit. Tak pernah sekalipun melihat beliau menenteng Smartphone dalam pengajiannya karena menurut Gus Kautsar, beliau memang enggan memilikinya walaupun bisa saja. Dalam banyak komentar yang ditulis oleh netizen dalam klip video ceramah beliau, setelah mendengarkannya beragama menjadi semakin ringan dan tak terasa sebagai tekanan.
Ulama memang seharusnya demikian, seperti jargon Pegadaian “Menyelesaikan masalah tanpa masalah”. Beliau juga pernah mengisi kajian-kajian berbasis tanya jawab, dan terbukti, solusi yang diberikan sangat diterima oleh nalar dan tidak terkesan memaksa. Saya membaca tulisan Al-Jazairi yang berjudul Jawahirul Kalamiyyah, bahwa dalam urusan-urusan yang furu‘ atau detail implementasinya, Ulama yang kompeten untuk memberikan jawaban dipersilahkan untuk berbeda pendapat karena hal tersebut merupakan rahmat sedangkan umat, dianjurkan untuk memilih solusi yang paling mudah.
Satu diantara banyak hal yang ditentang beliau, adalah paham ke-aku-an dalam beragama. Ketika seseorang memilih beragama tidak berdasarkan Al-Quran, Sunnah atau bahkan pemahaman para Ulama. Sebagian orang berdalih, kenapa harus ikut ulama jika bisa membaca sendiri Al-Qur’an dan Haditsnya? Pemahaman miring semacam ini yang perlu diluruskan.
Memang iya, Al-Quran bisa dijangkau dengan pikiran telanjang melalui terjemahan dalam bahasa masing-masing manusia, namun makna yang tersirat di dalamnya, tersimpan dalam memori para ulama yang merupakan pewaris para Nabi. Pemahaman tersebut disampaikan melalui transmisi keilmuan atau sanad dari guru ke guru.
Gus Baha pun berkata, “Memang agama ini milik mbahmu, sehingga kamu berkata menurut saya”. Sekarang ini, dimana banyak sekali para dai atau orang yang berbicara agama seakan-akan mengerti padahal sebernanya mereka tidak mengerti apa-apa. Salahkah? tentu tidak, namun jika tidak didasari ilmu, itu malah menjadi masalah. Seperti yang disebutkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, mereka akan memberikan fatwa, maka mereka sesat dan menyesatkan.
Jika kita tidak mampu menggali hukum sendiri, maka hukum taklid menjadi wajib. Taklid tidaklah menunjukkan kelemahan seseorang, karena tidak semua orang memiliki porsi pribadi untuk menggali hukum secara mandiri dalam artian tidak semua orang diwajibkan menjadi seperti Imam Syafi’i, maka solusinya adalah bertanya kepada yang lebih tahu. Allah berfirman, maka bertanya kepada ahlud-dzikr jika kamu tidak mengetahui. Imam At-Thabari dalam Jami-ul Bayan Fi Takwilil Quran menyebut ahlud-dzikr disini diantaranya adalah orang yang berilmu.
Semoga bermanfaat,
Tabik,
bin husein.

