Jum. Apr 19th, 2024

 Selama dua hari terhitung sejak tanggal 27-28 Februari, saya diundang Dema FTIK IAIN Purwekerto untuk mengikuti acara Semiloka Sastra dan Launching Buku Antologi Puisi Penyair se Asean berjudul Requiem Tiada Henti. Saya mendapatkan undangan itu, setelah penyelenggara memasukkan puisi saya berjudul “Perahu Zaman” dalam daftar konstributor buku antologi puisi tersebut. Selain itu, puisi salah satu santri penggiat Sanggar Seni Cemin merangkap Mahasiswa Semester 4 Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) IAI Ibrahimy Muhammad Ali Akbar juga masuk sebagai konstributor dengan puisinya berjudul.. Ada 1000 lebih yang masuk ke meja panitia sebelum akhirnya dileksi menjadi 100 puisi.

Hari Pertama : Taarufan, Pentas Puisi, dan Diskusi Sastra Tanah Air

Saya tiba dilokasi acara sekitar pukul 10.00 siang di Kampus IAIN Purwekerto. Panitia mengarahkan  untuk melakukan registrasi. Kemudian saya dihantarkan ke Wisma Wijaya Kusuma Lokasi Wisata Baturraden untuk menyusul para penyair lainya yang sudah tiba lebih awal. Setelah menunggu beberapa saat,  acara dimulai dengan perkenalan masing-masing penyair yang berkesempatan datang. Acara dipandu oleh Penyair Muda yaitu Yanwi Mudrikah penulis buku puisi Rahim Embun dan Menjadi Tulang Rusukmu.

Acara ta’arrufan berjalan penuh keakraban dan kehangatan. Dalam pertemuan itu, Mba’ Yanwi diminta membacakan puisi kemudian dilanjutkan pembacaan puisi Raedu Basha. Seusai istirahat, sholat, dan makan. Para penyair ditemani panitia diarahkan untuk mengikuti rangkaian acara selanjutnya yaitu pembacaan puisi di aula yang terletak di Lokasi Wisata Baturraden yang berada di atas bebukitan.

Secara bergiliran, para penyair membacakan puisi masing-masing dengan gaya khasnya sambil menikmati secangkir kopi dan kue. Pemandangan terlihat kabut sesekali gerimis mengguyur menambah suasana semakin berkesan. Setelah cara itu, para penyair kembali ke lokasi wisma. Sehabis melaksanakan shalat. Kami berkumpul untuk merembukkan dan membicarakan perkembangan sastra tanah air di daerah masing-masing. Kegiatan itu dipandu penyair muda yang juga perintis Pondok Pena Pondok Pesantren Mahasiswa An Najah Purwekerto Mas Dimas Indiana Senja.

Masing-masing penyair mendapat giliran menguraikan kegiatan sastra di daerah masing-masing. Dengan gaya masing-masing mereka mengungkap pengalaman ataupun kenyataan perjalanan dan perkembangan sastra. Ternyata mayoritas konstributor yang puisinya terpilih berlatar belakang pondok pesantren terutama Pesantren Madura terutama  Pondok Pesantren An Nuqayah Madura atau Pesantren Jawa berkultur Madura seperti Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Kenyataan itu membuat para penyair dari daerah lain terkesima dan cemburu terhadap kultur sastra yang membudaya di Madura. “ Berarti ini reunian teman-teman Madura!’’ ucap salah satu dari mereka disambut gelak tawa.

Dimas Indina Senja yang memandu acara diskusi malam itu menguraikan tentang tradisi ACC Puisi dilingkungan  IAIN Purwekerto yang digawangi Penyair Abdul Wahid BS selaku salah satu dosen disana. Tradisi itu dirasa efektif memacu semangat bersastra. Penyair-penyair muda banyak dilahirkan dan berhasil mengorbitkan karya-karyanya di media nasional.

Mendapat giliran bicara, pertama kali saya memperkenalkan Buku antologi puisi WAA Ibrahimy nama pena K.H.R. Ahmad Azaim Ibrahimy Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo terbaru “Jalan Ini Rindu” yang tergolong buku antologi puisi langkah dalam khazanah buku antologi puisi di tanah air karena puisi yang ada diinterpretasi para penyair kawakan. Mereka adalah Ahmadun Yosi Herfanda, Arsyad Indradi, Autar Abdillah, Ayah O’ong, D. Zawawi Imron, Emha Ainun Najib, Jamal D. Rahman, Kusprihyanto Namma, Mathori A Elwa, M. Faizi, Sosiawan Leak, Taufiq Ismail, W Hariyanto, dan Zainul Walid. Sedangkan K.H. Ahmad Mustafa Bisri memberikan prolog sedangkan Sutardji C. Bachri (Presiden Penyair) memberikan epilog.

Saya juga menceritakan kegiatan kesenian dan sastra di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah khususnya yang diseriusi Sanggar Seni Cermin yaitu Sekolah Deklamasi yang dibentuk sejak tahun 2010. Saat itu, saya masih menjadi pengurusnya. Pada tahun 2012, Sanggar Seni Cermin mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Jawa Timur sebagai Komunitas Seni berprestasi

Mengenai kegiatan literasi di Kota Republik Kopi atau Kota Tape, saya tidak banyak mengulas karena kenyataannya memang belum maksimal dan terekspos. Pondok Pesantren Nurut Taqwa khususnya MA Nurut Taqwa berupaya menghidupkan kegiatan kesenian dan sastra. Saat ini MA Nurut Taqwa membentuk forum yang diberi nama Majelis Diksi (Diskusi Karya Puisi) yang secara khusus mendalami puisi dan diikuti sekitar  6 orang. Sedangkan secara umum, siswa-siswi diarahkan mengikuti kegiatan Jurnalistik di bidang sastra sebagai kegiatan ektrakurikuler.

Diskusi semalaman

Seusai acara penutupan diskusi malam itu, Saya melanjutkan diskusi dengan salah satu Penyair Nasional dan menjadi salah satu juri Filterasi yaitu Irna Novia Damayanti. Penyair Kelahiran Purbalingga itu sempat mengoreksi puisi-puisi siswa MA Nurut Taqwa yang kebetulan saya bawa.  Setelah dirasa cukup, Ia memberikan komentar kalau puisi yang ditulis siswa secara pembendaharaan kata sudah bagus namun mengenai kulitas puisinya, Ia menyebutkan kalau yang ditulis itu masih belum bisa dikatakan puisi,  tapi sekedar kata-kata mutiara yang maknanya cendrung terabaikan.

Lebih lanjut, Mba’ Irna juga berbagi pengalamannya di dunia kepenyairan sehingga ia banyak mewarnai media-media massa nasional. Mengenai proses kreatif, ia menceritakan kalau pernah menulis puisi sehari 5 puisi selama kurang lebih 6 bulan. Selain itu,  Ia diantara mahasiswi yang mengikuti tradisi ACC Puisi yang dimotori penyair kenamaan Abdul Wahid, BS. Santri Pesantren Mahasiswa An Najah itu dalam perjalanan akademisinya  sempat tertunda wisuda Sarjana strata. Akan tetapi usahanya menggeluti kepenulisan mengantarkannya meraih penghargaan Apresiasi Pendidikan Islam (API) dari Kementerian Agama Republik Indonesia dalam kategori Penulis Aktif Media tingkat mahasiswa se-Indonesia. “ Ini barangkali hikmahnya!” tuturnya.

Ketika saya meminta kesediannya untuk mengoreksi puisi-puisi siswa MA Nurut Taqwa, ia mengiyakan saja.  Menjelang subuh kami meluangkan waktu istirahat untuk mengikuti acara hari berikutnya di Aula IAIN Purwekerto.

Hari Kedua: Semiloka dan Launching Puisi Requiem Tiada Henti

Didampingi panitia, para penyair menuju ke kawasan kampus IAIN Purwekerto untuk menghadiri acara Semiloka dan Launching Puisi Requiem Tiada Henti diangkut bus mini miliknya kampus. Sesampainya di kampus, para penyair diarahkan untuk foto bersama di depan gedung rektorat. Suasana sangat meriah dengan persembahan kesenian tradisional angklung menyambut tamu baik nara sumber maupun peserta. Para undangan dan peserta melakukan registrasi untuk mengambil konsumsi yang disediakan panitia. Saya memilih duduk bersama penyair asal Bangkalan Ahmad Subki satu-satunya penyair yang konsisten memakai sarung walaupun menghadiri forum resmi.

Sepasang mata dihinggapi rasa kantuk yang luar biasa dahsyatnya. Saya dan Mas Subki memilih meninggalkan ruangan untuk sekedar menikmati makanan dan bebera batang rokok untuk mengusir rasa ngantuk yang ada.  Tak beberapa lama, kami memasuki ruangan. Acara dimulai dengan penampilan kesenian hadrah, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars IAIN Purwekerto, sambutan atas nama  panitia,  pengurus Dema FTIK, dan Pihak Rektorat mengalir sesuai susunan acara dari MC.

Acara Semiloka dipandu moderator Penyair Dimas Indiana Senja dengan penyaji materi Prof. Dr. Maman S. Mahayana Kritikus Sasta. Selain itu, Ada Bapak Abdul Wahid, B.S. Dosen IAIN sekaligus Penulis Buku Puisi Sajak-Sajak NUN

Pak Maman banyak menyampaikan materi perjalanan sastra dari masa ke masa. Termasuk bagaimana sastra pesantren banyak mewarnai dan aset kesusasteraan nasional. Dosen UI tersebut juga memotivasi bagaimana penyair kembali kepada sumber yaitu Al qur’an dan Hadist. “ Kalau mau menulis puisi baca qur’an terlebih dahulu” tuturnya menegaskan.

Mengenai bagaimana cara membuat puisi yang baik, Juri Festival Buku Puisi Yayasan Hari Puisi itu mengajarkan bagaimana penyair senantiasa banyak baca buku. Selain itu, ia juga menyayangkan banyaknya pemuda-pemudi sudah membanggakan orang luar daripada orang Indonesia sendiri. Tak hanya itu, Pak Maman juga memberikan informasi terkait program Yayasan Hari Puisi yaitu Apa dan Siapa Penyair Indonesia.Abdul Wahid BS lebih banyak mengulas tentang tradisi ACC puisi di lingkungan IAIN Purwekerto yang itu banyak memberikan efek positif bagi mahasiswa.

Memasuki sesi kedua, peserta terlebih dahulu dihibur pentas seni,  kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi yang kembali disampaikan Pak Maman S. Mahayana dengan dimoderatori Dimas Indiana Senja. Peserta di sesi ini terbatas undang VIP dan penyair yang menjadi konstributor Antologi Puisi Requiem Tiada Henti. Dalam sesi ini lebih kepada pendalaman materi sekaligus beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan kesusateraan secara global.

Sehabis acara,  dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan melayani peserta yang minta tanda tangan kepada para penyair yang ada. Pada pertemuan itu Abdul Wahid B.S memberikan antologi puisi terbarunya berjudul Sajak-Sajak NUN. Bersambung……

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.