Jum. Apr 19th, 2024

Oleh: Anwari Nuril Huda*

Puasa adalah salah satu ritual keagamaan yang selalu menarik untuk dilihat dari berbagai demensi, misalnya kesehatan, sosial maupun spiritual. Secara medis puasa dapat menekan timbulnya beberapa penyakit ringan maupun mematikan; secara sosiologis, ritual ini membangun dan mengembangkan kepekaan sosial berupa simpati dan empati terhadap sesama; sementara dari sudut pandang agama, puasa dinilai sebagai salah satu media komunikasi langsung dan spesial antara seorang hamba dengan sang khalik. Bahkan dalam studi agama-agama, puasa tidak melulu dilakukan oleh umat muslim, hampir semua agama langit maupun agama bumi melakukannya, tentu dengan cara dan aturan tersendiri.

Puasa Perspektif Fiqih dan Tasawuf

Dalam pengertian yang sederhana, puasa bermakna menahan. Sementara secara syara’ adalah mencegah makan dan minum sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari di ufuk barat dengan niat khusus, dilaksanakan pada hari yang diperbolehkan berpuasa, serta memenuhi syarat rukun tertentu.[1] Dengan demikian, para ahli hukum Islam (fuqaha) bersepakat bahwa apabila seorang muslim memenuhi aturan di atas (minimal), maka puasanya dianggap sah.

Sedikit berbeda dengan cara pandang ulama fikih, para ahli tasawuf (sufi) Islam mengklasifikasikan orang yang berpuasa menjadi tiga stratifikasi; awam, kahwas dan khawas al khawas. Setiap bagian memiliki aksesibilitas dan kualitas berbeda. Secara fisik, antara puasa perspektif fikih maupun tasawuf tidak jauh berbeda, bahkan terbilang sama. Faktor yang menjadi pembeda antara keduanya adalah kondisi hati dan situasi budi pekerti. Tasawuf sudah tidak lagi membahas manusia secara fisik. Sebab pada tahapan ini, manusia semestinya telah ‘selesai’ pada urusan fikih (fisik). Sederhananya, akhlak manusia adalah satu-satunya tolok ukur pembeda dan penentu kategori puasa.

Puasa Media Sosial

Adalah Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir al Khubawiy satu di antara sekian banyak tokoh yang membagi tingkatan puasa menjadi tiga kelas. Pada tingkatan pertama, puasa orang awam, hampir setiap orang Islam mampu menjalankannya dengan baik, bahkan anak kecil yang baru belajar puasa sekalipun. Itu sebabnya penulis lebih suka menyebut puasa ini dengan kelas standar. Syaikh Al Khubawiy menjelaskan bahwa puasa kelas awal ini adalah terpeliharanya syahwat perut dan alat vital, “Kaffu al bathni wa al farji ‘an qadlai al syahwati”.[2]

Kelas kedua adalah khawas. Dalam kitab yang sama, Syaikh al Khubawiy mengatakan “Kaffu al jawarih ‘an al atsami”, memelihara anggota badan dari perbuatan dosa. Sedikitnya ada lima hal, yaitu: menundukkan pandangan dari maksiat; menjaga lisan dari gosip, adu domba, atau pun berkata bohong; menghindari pendengaran dari sesuatu yang dimakruhkan; memelihara anggota badan dari sesuatu yang makruh dan syubhat saat berbuka puasa; bahkan yang terakhir seseorang juga dilarang untuk berlebihan saat berbuka puasa meskipun dengan barang halal nan baik.

Puasa kategori ini memiliki tantangan berlipat-lipat ketimbang tingkatan pertama. Pasalnya, sulit sekali berpuasa dengan kualitas kedua pada zaman di mana facebook, BBM dan WhatsApp telah menjadi kebutuhan primer manusia. Media sosial memberikan kesempatan kepada warganet untuk merespon segala bentuk postingan sekaligus menyediakan kolom komentar. Ironisnya, jamak kita temui komentar sarkasme yang berujung saling hina dan saling kafir-syirikkan antar sesama ketimbang komentar yang membangun dan mendamaikan.

Puasa ketiga adalah khawas al khawas. Jika puasa model pertama berada di ranah kemasan, sedangkan kedua adalah isi, maka yang terakhir merupakan inti, “Shaum al qalb an al himami al dun-yawiyah wa al afkar al dun-yawiyyah wa kaffahu ‘amma siwa Allah bi al kulliyah”, memelihara hati dan pikiran dari duniawi serta bermesraan dengan selain Allah.

Pada satu sisi kita bisa menikmati impak positif perkembangan teknologi informasi. Sementara pada sisi yang lain, kemajuan IT juga berimplikasi pada penyandraan dan pertaruhan kualitas kehambaan seseorang. Pasalnya, dengan alasan promosi, para provider layanan, deal maker maupun produsen, senantiasa mempertontonkan gambar atau video vulgar untuk menarik perhatian netizen. Memang tidak semuanya, tapi kebanyakan. Bahkan gambar yang seperti itu juga muncul pada situs atau aplikasi yang positif sekalipun. Tidak cukup di situ, wisata kuliner yang menggugah selera juga acapkali menghiasi beranda facebook atau pun instagram yang kemudian di-share melalui wa, BBM, twitter dan sebagainya menjadi tantangan tersendiri.

Maka mungkinkah kita mampu berpuasa dengan kondisi hati dan pikiran hanya kepada Allah, sementara pada saat yang sama kita sibuk mencari resep special untuk menu buka puasa, kepikiran setelan baju yang cetar membahana dan sibuk berkomentar sana-sini? Maka jawabnya, “Sulit tapi mungkin!”

Saat ini berpuasa tidak hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menghindari segala bentuk postingan negatif, penyebaran informasi hoax dan ujaran kebencian. Akhirnya, jika kita tidak bisa puasa media sosial secara total, minimal kita menggunakannya dengan cara bijak dan profesional.

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.

*Guru Bimbingan Konseling MA Nurut Taqwa

[1] Imam Ibrahim Al Bajuri, Hasyiyah ‘ala Syarhi Ibni al Qasim al Gazzi ‘ala Matni al Syuja’, Juz I, (Surabaya: Nurul Huda, tt.), hal. 286

[2] Ustman bin Hasan bin Ahmad al Syakir al Khowbawiyyi, Dzurratu al Nashihin fi al Wa’dzi wa al Irsyad, (Surabaya: Nurul Huda, tt.), hal. 12

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.