Jum. Apr 19th, 2024
Asrama Thafidzul Qur'an PP. Nuruttaqwa (ket

 

Pondok Pesantren Nurut Taqwa adalah sebuah lembaga pendidikan keagamaan dengan konsep pendidikan pesantren modern, yakni memadukan pembelajaran salafy dan khalafy. Seperti umumnya pondok pesantren yang memiliki ciri khas atau keunikan, Nurut Taqwa juga menyimpan banyak keunikan, satu di antaranya adalah kepekaannya menjawab tuntutan dan realitas.

Hingga akhir era 2000-an, tak banyak pesantren yang mengajarkan bahasa komunikasi internasional (Bahasa Inggris), sehingga tak pelak jika pesantren masih didiskreditkan sebagai sebuah lembaga yang hanya fokus pada pembelajaran keislaman; fiqhi, tasawuf, tauhid, ilmu alat dan bahasa Arab. Pondok Pesantren Nurut Taqwa sangat menyadari pentingnya penguasaan terhadap bahasa asing, khususnya Bahasa Arab dan Inggris. Maka dibawah komando H. Barri Sahlawi Zain, MS.i didirikan sebuah Lembaga Pendidikan Bahasa Asing (LPBA) sebagai ektrakurikuler santri kali pertama.

Seiring dengan arus globalisasi dan ‘westrenisasi’ generasi Indonesia, termasuk para santri kian gandrung terhadap pelajaran-pelajaran umum. Sementara pada waktu yang bersamaan perhatian terhadap tradisi pesantren, khususnya pengembangan kemampuan membaca kitab kuning semakin memudar. Sebagai bentuk respon positif, Nurut Taqwa kembali mendirikan sebuah lembaga yang fokus membimbing para santri belajar kitab kuning. Lembaga itu kemudian dikenal dengan Lembaga Bimbingan Membaca Kitab (LBMK).

Lembaga Tahfidzul Quran adalah sebuah wadah yang didirikan sekitar empat tahun lalu setelah pihak pesantren melihat animo santri nurut taqwa teramat besar terhadap tradisi menghafal al Quran 30 juz. Hingga saat ini, tak kurang dari delapan puluh santri yang fokus menghafal al Quran tanpa mengenyampingkan statusnya sebagai siswa di lembaga formal. Pada tahun 2016 lembaga ini telah berhasil mewisuda lima santri hafal 30 juz. Tiga di antaranya mendapatkan beasiswa di Sekolah Tinggi Agama Islam At Taqwa Bondowoso, satu orang mendapatkan beasiswa di Turki (Hasil kerjasama dengan Kemenag RI) dan satu lagi meniti karir di dunia kerja.

Selain kegiatan tambahan di atas, pesantren yang didirikan tahun 1976 ini masih mengantongi banyak kegiatan lainnya yang tak kalah menarik, di antaranya Konfeksi dan Tata Boga, Beladiri Silat dan Karate Funakoshi, Pramuka, Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM), rebana dan Jurnalistik. Di samping itu, pesantren ini juga menghidupkan dunia literasi dan diskusi yang dimotori oleh kelompok Madilog. Kelompok ini rutin menggelar diskusi setiap jum’at untuk memperkaya khazanah keilmuan para aktivis santri.

“Siapa yang menanam maka ia yang akan menuainya”. Barangkali peribahasa tersebut mampu merepresentasikan apa yang berhasil diraih oleh Pondok Pesantren Nurut Taqwa saat ini. Berkat kerja keras dan kemauan kuat dari semua pihak, nurut taqwa berhasil menorehkan prestasi mulai kompetisi tingkat lokal, kabupaten hingga provinsi. Pada pertengahan hingga akhir bulan Februari lalu, sedikitnya ada tujuh prestasi yang torehkan siswa nurut taqwa; lima siswa MA-MTs berhasil menjadi juara pada Kejuaraan Karate Antar Pelajar SMAPRA CUP Se-Kabupaten Bondowoso-Situbondo dan Ananda Haikal Jinan (Utusan MI) masuk tujuh besar lomba Pidato Bahasa Inggris Aksioma Provinsi Jatim, serta ananda Yulistiana (Utusan MTs) sebagai harapan satu pada lomba catur aksioma tingkat provinsi 2017.

Meminjam adagium guru kami di UINSA (Prof. Dr. Moh. Ali Aziz), “Hidup adalah koma, bukan titik!” maka betapapun kebaikan dan prestasi yang diperoleh saat ini, tentu masih harus dikoreksi dan diperbaiki lagi untuk langkah berikutnya yang lebih baik.

Pasca membaca track record Pondok Pesantren Nurut Taqwa dari masa ke masa, tentu lembaga ini bisa menjadi pilihan alternatif yang tepat untuk anak dan keluarga kita. Semoga berkah dan bermanfaat. (anh)

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.