Jum. Apr 19th, 2024

Anwari Nuril Huda

(Penerima Beasiswa Diktis Pascasarjana Studi Islam Interdisipliner

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Suasana menjelang Ramadan tahun ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya: dulu awak media massa dan pengguna media sosial heboh memberitakan meroketnya harga kebutuhan dapur, sementara saat ini semua harga relatif stabil dengan ketersediaan kebutuhan pangan melimpah. Tetapi rupanya masyarakat Indonesia dihadapkan pada persoalan yang sangat serius, aksi terorisme dan ancaman disintegrasi bangsa.

Hanya dalam kurun waktu kurang dari sepuluh hari telah terjadi pelbagai peristiwa mengerikan. Diawali dengan pembantaian oleh napi di Mako Brimob, aksi bom bunuh diri satu keluarga di Surabaya, pengeboman susulan di Polrestabes Surabaya, insiden penyerangan Markas Kepolisian Daerah Riau, dan deretan kasus lainnya benar-benar membuat masyarakat shock.

Kita mengecam keras segala bentuk teror dan terorisme. Namun perlu kita catat bahwa terorisme adalah kulminasi doktrin keagamaan menyimpang yang ditanamkan sekian lama. Karenanya menyudahi terorisme tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat dengan mengandalkan pembuatan undang-undang, pembentukan komisi antiteror atau sekadar kecaman. Upaya lain yang harus kita tempuh adalah menggunakan cara pencuci otak, yakni bersifat persuasif, radikal dan kontinu.

Islam Pesantren

Radikalisme bisa bersumber dari lemahnya pemahaman mengenai Islam dan indoktrinasi nilai keislaman menyimpang oleh ustadz radikal. Secara psikologis, kondisi ini membuka peluang besar untuk dipengaruhi atau mempengaruhi: cuci otak. Maka mutlak belajar Islam kepada orang yang tepat untuk memastikan ajaran yang disampaikan sesuai dengan ajaran ulama terdahulu, para sahabat dan Rasulullah. Dalam konteks ini Islam pesantren adalah jawabannya.

Tradisi pertalian dari seorang guru ke guru di atasnya masih terus dipraktikan di pondok pesantren Islam moderat Indonesia. Sebab pemahaman keagamaan yang baik hanya bisa dijamin melalui transmisi keilmuan dari guru yang jelas latar belakang dan keilmuannya. Dan tentu belajar ala Islam pesantren dapat juga disiasati dengan merekrut para guru berkualitas alumni pesantren ahlisunnah wal jamaah untuk mengajar di lembaga atau keluarga supaya terhindar dari doktrin ajaran Islam yang disesatkan.

Fungsi Keluarga

Kasus bom bunuh diri keluarga Dita Oepriarto di Surabaya adalah contoh nyata bagaimana sebuah keluarga memiliki peranan vital dalam pertumbuhan dan perkembangan anak baik secara fisik dan psikis. Setiap anak pasti melakukan imitasi dan identifikasi terhadap perilaku keluarganya dan riskan menerimanya sebagai kebenaran, termasuk radikalisme dan terorisme.

Memaksimalkan fungsi keluarga adalah cara efektif untuk memproteksi keluarga dari paham radikalisme. Orangtua dapat menyisipkan nilai-nilai keagamaan dan humanisme kapan saja mereka mau, seperti saat berinteraksi di rumah, menonton televisi bahkan saat bermain gawai. Selain itu fungsi afeksi keluarga juga merupakan komponen penentu karakter dan masa depan anak. Pada usia remaja, anak-anak membutuhkan tempat berkeluh-kesah, curhat dan berdiskusi. Mereka akan mencari tempat yang membuatnya nyaman. Pilihannya hanya dua; orangtua menjalankan perannya, atau membiarkan radikalis memanfaatkannya.

Politisasi Agama

Agama adalah persoalan yang bersifat privat, emosional, normatif dan sakral. Sementara politik memiliki karakteristik yang sangat berbeda baik secara definitif, orientasi maupun praktis. Syahdan akan timbul masalah serius ketika dua entitas tersebut dikelindankan tanpa batasan dan aturan main yang jelas. Masalah horizontal masyarakat akar rumput adalah bentuk nyata efek negatif politisasi agama.

Politisi dan agamawan seyogianya menjaga jarak dan bersikap bijaksana. Keduanya harus sadar status dan podium. Politik dan agama harus dijalankan pada rel masing-masing untuk menghindari bias makna. Penggunaan masjid sebagai mimbar politik, kampanye di majlis taklim atau menggunakan lembaga pendidikan agama untuk mendulang suara merupakan bentuk-bentuk yang harus dihindari oleh politisi agama karena disadari atau tidak hal ini akan memantik problem serius dalam sirkulasi keberagamaan.

Cuci Otak

Kita bersepakat bahwa pelaku bom bunuh diri telah melakukan kesalahan besar. Kita juga menyadari bahwa aksi tersebut adalah kebenaran versi mereka. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni beragama secara maksimal dengan jalan berbeda; kelompok pertama berani hidup sementara yang kedua berani mati. Satu hal kelebihan penganut Islam radikal adalah kemampuannya membentuk kaderisasi yang militan.

Oleh karenanya, tidak salah meminta mereka yang sudah insaf untuk berbagi pengalaman proses perekrutan dan penggodokan sehingga mampu menghasilkan kader yang solid dan militan. Pasalnya sebagus apapun materi yang kita miliki tanpa metode yang tepat hasilnya akan kurang maksimal. Kita punya materi dan mereka punya caranya. Bisa jadi jalan ini yang paling efektif untuk menyudahi terorisme. Dalam konsep manusia menurut Imam al Ghazali, radikalis dapat dikategorikan pada rajulun lā yadri wa lā yadri annahū lā yadri, manusia yang tidak tahu dan tidak menyadari bahwa dirinya tidak tahu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.