Air mata sering kali dianggap sebagai tanda kelemahan, padahal dalam perjalanan spiritual, ia adalah bahasa rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Memasuki hari ketujuh Ramadan, jiwa kita seharusnya mulai lebih peka. Dalam bab Suba’i kitab Nashoihul Ibad, dijelaskan bahwa ada tujuh macam tangisan yang masing-masing memiliki makna dan “harga” yang berbeda di hadapan Allah SWT.
Pertama adalah tangisan karena penyesalan atas dosa. Ini adalah air mata pembersih yang mampu memadamkan api kesalahan masa lalu. Kedua, tangisan karena takut akan siksa. Ketiga adalah tangisan karena khawatir akan tertutupnya hati atau suul khatimah, sebuah ketakutan yang dialami oleh para kekasih Allah yang tidak pernah merasa aman dari bolak-baliknya hati. Tangisan-tangisan ini adalah bentuk perlindungan jiwa.
Keempat adalah tangisan karena kerinduan kepada Allah. Ini adalah level yang lebih tinggi; air mata yang jatuh bukan karena takut dihukum, melainkan karena rasa cinta yang meluap. Kelima adalah tangisan karena takut dijauhkan (hijab) dari Allah. Bagi seorang hamba yang sudah merasakan nikmatnya ibadah, tidak ada siksaan yang lebih berat daripada merasa jauh dari perhatian Tuhannya.
Keenam adalah tangisan karena menyesali waktu yang terbuang sia-sia. Di hari ketujuh ini, poin ini terasa sangat menyentil; sudahkah seminggu ini kita maksimalkan, atau air mata ini jatuh karena kita sadar Ramadan sedang berlari meninggalkan kita sementara kita masih diam di tempat? Dan ketujuh adalah tangisan karena terharu akan rahmat dan kebaikan Allah yang begitu luas, padahal kita merasa tidak layak menerimanya.
Syekh Nawawi menjelaskan bahwa air mata yang tulus adalah tanda bahwa hati tidaklah keras. Hati yang membatu tidak akan pernah bisa mengeluarkan tetesan air mata meskipun ia dihantam dengan berbagai nasihat. Rasulullah ﷺ pun pernah bersabda bahwa ada dua jenis mata yang tidak akan disentuh api neraka, salah satunya adalah mata yang menangis karena takut kepada Allah.
Ramadan adalah musim hujan bagi hati yang gersang. Jika selama seminggu ini kita belum mampu meneteskan air mata, baik karena sesal, rindu, atau takut, maka cobalah untuk “menangis karena ketidakmampuan kita untuk menangis”. Jangan biarkan tujuh hari ini berlalu tanpa ada satu tetes pun air mata yang menjadi saksi ketaatan kita di pengadilan-Nya kelak. Mari kita lembutkan hati, karena di balik setiap tetesan itu ada ampunan yang mengalir. Sampai jumpa di edisi #Ngabubuwrite besok!

