Sen. Apr 13th, 2026

يَنْبَغِيْ أَنْ يَخْتَارَ الْأَعْلَمَ، وَالْأَوْرَعَ، وَالْأَسَنَّ

“Hendaknya (seorang murid) memilih guru yang paling alim, paling wara’ (menjaga diri dari syubhat), dan yang lebih tua (bijaksana).”

Memasuki hari keenam belas Ramadan, saya termenung membaca kembali kriteria guru dalam kitab Ta’limul Muta’allim. Syekh Az-Zarnuji menetapkan standar yang sangat tinggi: Al-A’lam (paling alim), Al-Aura’ (paling wara’), dan Al-Asann (paling bijak). Sebagai seseorang yang berdiri di depan kelas, pertanyaan besarnya bukan lagi “Sudah banyakkah materi yang saya sampaikan?”, melainkan “Sudah pantaskah saya disebut sebagai guru bagi mereka?”

Menjadi guru yang Al-A’lam berarti kita tidak boleh berhenti belajar; karena saat guru berhenti belajar, ia berhenti menjadi guru. Namun, yang lebih berat adalah menjadi Al-Aura’. Guru dituntut menjadi teladan dalam menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik. Di fase ampunan ini, saya merefleksi diri: apakah lisan saya sudah terjaga? Apakah perilaku saya di luar kelas sudah selaras dengan nasihat-nasihat yang saya berikan di dalam kelas?

Saya teringat sebuah kalimat yang terpampang jelas di atas kantor MTs tempat saya mengabdi, dulu terpampang quote: “Jadilah guru yang baik atau tidak sama sekali.” Kalimat itu bukan sekadar hiasan dinding, melainkan sebuah peringatan keras. Pilihannya hanya dua: totalitas menjadi pelita, atau menyingkir sama sekali agar tidak menyesatkan anak didik. Menjadi guru “setengah-setengah” hanya akan melahirkan generasi yang kehilangan arah.

Dalam Ta’limul Muta’allim, keberhasilan seorang murid seringkali dikaitkan dengan rida dan kasih sayang gurunya. Guru yang pantas adalah ia yang memandang muridnya dengan tatapan kasih sayang, bukan sekadar objek pekerjaan. Jika kita mengajar hanya demi menggugurkan kewajiban atau mengejar jam tayang, maka keberkahan ilmu itu akan menguap. Guru yang baik adalah ia yang mendoakan muridnya di setiap sujudnya.

Refleksi di hari ke-16 ini membawa saya pada satu kesimpulan: kepantasan seorang guru tidak diukur dari gelar akademik yang berderet, tapi dari seberapa besar rasa takutnya kepada Allah saat ia memberikan ilmu. Kita bertanggung jawab atas setiap kata yang keluar dari lisan kita. Menjadi guru yang baik berarti berani mengakui kesalahan di depan murid dan terus memperbaiki kualitas batin agar layak menjadi “jembatan” hidayah bagi mereka.

Puasa seharusnya membuat kita lebih sensitif terhadap kekurangan diri. Jangan-jangan, hambatan belajar yang dialami murid-murid kita adalah akibat dari kurangnya keikhlasan kita sebagai pengajar. Syekh Az-Zarnuji menekankan bahwa ilmu itu cahaya, dan cahaya tidak akan masuk ke dalam hati yang kotor. Maka, tugas pertama seorang guru adalah mensucikan niatnya kembali agar cahaya ilmu itu bisa menembus relung hati para murid.

Mari kita jadikan sisa Ramadan ini sebagai momentum untuk “pulang” ke hakikat keguruan kita. Mari kita resapi kembali pesan di kantor MTs itu sebagai janji setia. Menjadi guru adalah jalan sunyi yang penuh tanggung jawab dunia hingga akhirat. Semoga Allah mengampuni segala kekhilafan kita dalam mendidik dan senantiasa membimbing kita agar menjadi guru yang tidak hanya mengajar, tapi juga menginspirasi dengan akhlak.

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses