مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى، لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا
“Barangsiapa yang bertambah ilmunya namun tidak bertambah hidayahnya (amal/takwanya), maka ia tidak bertambah apa-apa dari Allah kecuali kejauhan.”
Memasuki hari kelima belas Ramadan, kita perlu waspada terhadap jebakan intelektual. Seringkali kita merasa sudah “dekat” dengan Allah hanya karena sudah khatam sekian kitab atau sering menyimak kajian. Namun, Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah memberikan tamparan keras: ilmu yang hanya menumpuk di kepala tanpa mengubah perilaku justru hanya akan menambah jarak antara kita dan Tuhan.
Hidayah dalam konteks ini adalah kesadaran untuk mengamalkan ilmu dan kerendahhatian dalam bersikap. Jika semakin kita tahu hukum agama, semakin kita pandai mencari celah untuk melanggar, atau semakin kita tahu dalil, semakin kita tajam menghakimi orang lain, maka itulah tanda ilmu yang tidak berkah. Ilmu tersebut tidak menarik kita mendekat ke haribaan Allah, tapi justru melempar kita jauh ke lembah kesombongan.
Al-Ghazali menekankan bahwa ilmu seharusnya menjadi “lampu” untuk melihat aib diri sendiri, bukan “senter” untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Fenomena hari ini, banyak orang yang merasa sudah alim hanya karena fasih berdebat di media sosial, namun adabnya kepada sesama justru hancur lebur. Inilah yang dimaksud dengan “bertambah ilmu tapi hanya bertambah jauh dari Allah”.
Ilmu yang tidak membuahkan hidayah biasanya membuat pemiliknya merasa memiliki kedudukan spesial di hadapan manusia. Ia ingin dihormati, ingin pendapatnya selalu didengar, dan merasa paling benar dalam beragama. Padahal, tanda utama ilmu yang bermanfaat adalah semakin ia tahu, semakin ia merasa bodoh dan fakir di hadapan kemahabesaran Allah.
Puasa di hari ke-15 ini adalah momen untuk mengevaluasi diri. Apakah shalat kita semakin khusyuk seiring bertambahnya hafalan kita? Apakah lisan kita semakin terjaga seiring banyaknya kitab yang kita pelajari? Jika jawabannya tidak, maka kita sedang berada dalam bahaya besar; mengoleksi ilmu hanya untuk menjadi hamba yang semakin jauh dari rahmat-Nya.
Dalam fase ampunan ini, mari kita bertaubat dari sifat “rakus ilmu” yang hanya untuk kepentingan gengsi atau debat. Mintalah kepada Allah agar setiap huruf yang kita pelajari di bulan Ramadan ini menjadi pembimbing bagi hati kita untuk lebih takut dan cinta kepada-Nya. Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak yang kita tahu yang akan ditanya, tapi seberapa banyak yang kita amalkan dari apa yang kita tahu.
Semoga kita tidak termasuk golongan yang tertipu oleh kepintaran diri sendiri. Sebagaimana pesan Imam Al-Ghazali, ilmu tanpa hidayah adalah beban yang akan memberatkan kita di akhirat kelak. Mari jadikan sisa Ramadan ini sebagai sarana untuk menundukkan akal di bawah perintah hati yang bersih, agar setiap ilmu yang kita dapatkan benar-benar membawa kita semakin dekat ke pintu surga. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di edisi #Ngabubuwrite besok.

