Saya kaget bin heran ketika mendapati sebuah buku LKS Sejarah Kebudayaan Islam mencatat Imam Ghazali sebagai biang kemunduran Islam. Mengapa? Sebab, beliau membatasi pikiran muslim dalam konteks Teologi dan Filsafat untuk tidak terjerumus ke dalam pemahaman yang fatal dan dapat merusak Akidah. Meskipun langkah tersebut dapat membahayakan reputasi akademiknya, beliau nampak santai saja, bahkan secara terang-terangan menentang para filusuf muslim dengan argumentasi melalui kitab Tahafut Al-Falasifah miliknya.
Ahmad Zainul Hamdi, melalui bukunya, 7 Filsuf Muslim mengenalkan saya pada mereka, muslim yang memiliki ketajaman pikiran dalam beradu argumen seperti Al-Kindi, Ibnu Sina, Al-Farabi dan Ibnu Rusyd. Pemahaman yang mereka tawarkan dalam buku tersebut, memang berbeda jauh dengan materi dalam kitab Aqidatul Awam, Kifayatul Awam atau Jawahir Al-Kalamiyyah. Pembiaran akan kebebasan pemikiran dalam akidah dapat menjurus pada pemahaman yang keliru tentang Tuhan dan kebenaran mutlak. Indonesia pernah dihebohkan dengan JIL atau Jaringan Islam Liberal, mereka berani membahas sesuatu yang sudah termaktub dalam Kitab Suci dengan pikiran telanjang. Walau demikian pada akhirnya sang inisiator, Gus Ulil, kini mengajar Ihya’ Ulumuddin milik Imam Ghazali.
Sebagai seorang Nahdliyyin, saya melihat buku LKS SKI yang ada di kelas-kelas memang lebih Muhammadiyah-sentris, meskipun sebagai gantinya ada buku Aswaja tersendiri, wkwkwk. Terdengar lebih adil. Mereka lebih mengenal Muhammad Abduh, Albani dan Muhammad bin Abdulwahab, sosok yang menuding Imam Ghazali sebagai Konservatis atau Anti Inovasi. Padahal, sekali lagi beliau hanya membatasi konteks teologi dan akidah bukan anti kemajuan secara umum. Pola pikir Muhammad Abduh dan lain-lain yang di dalam buku SKI tersebut dianggap sebagai Mujadid, adalah yang dianut oleh warga Muhammadiyah saat ini. Bukan maksud anti-perbedaan, tapi kalangan kita sendiri saja tidak tahu bahwa yang menulis Amtsilatut-Tashrif adalah seorang matematikawan dan pakar astronomi, dan ulama-ulama dalam lingkungan kita tak dijabarkan seluas mereka hanya karena kurang “Reformis”.
Kembali pada topik tulisan. Saya mendapatkan judul ini karena terinspirasi dari buletin Sidogiri yang saya baca sekitar tahun 2010 silam. Hampir sama, Kurikulum Ihya’ Ulumuddin. Pendidikan Indonesia saat ini berada dalam persimpangan antara tuntutan global dan pencarian jati diri nasional. wkwkwk. Mengapa? Kurikulum satu belum tuntas, lahir kurikulum lainnya, sementara itu Kurikulum yang belum sepenuhnya diadopsi oleh sekolah di seluruh negeri, pemerintah pun menginisiasi Sekolah Rakyat dengan kurikulum yang lebih ramah digital. Setelah bersusah payah berganti kurikulum, pada akhirnya kembali pada kurikulum semula, kadang kala kurikulum berganti karena pejabatnya juga berganti.
Kelabilan kurikulum kita inilah yang membuat guru bingung tanpa pijakan rangka belajar dalam jangka panjang. Belum lagi instrumentasi belajar yang membuat guru mengeluh, capek bukan karena mengajar, tapi instrumen yang harus dikejar. Saat ini, bayangkan jika kita menggunakan Ihya’ Ulumuddin sebagai kurikulum pendidikan. Kenapa harus kitab? kenapa tidak. Kita sering mendengar, Indonesia tidak kekurangan orang pintar, namun orang yang jujur. Pendidikan Karakter yang digadang-gadang pun dicabik-cabik oleh kurcaci-kurcaci kementrian pendidikan sendiri dengan kasus korupsi Chromebook yang baru-baru ini mencuat ke publik.
Ihya’ Ulumuddin merupakan paket komplit untuk menjadi kurikulum agar manusia-manusia yang lahir dalam didikannya senantiasa menjadi manusia yang utuh. Tidak hanya pintar secara ilmu, namun juga iman dan amal yang seimbang, tentu ini yang diharapkan daripada siswa yang hanya sekedar lulus namun tidak dapat mengetahui arah hidupnya. Kitab ini berisi empat bagian, walau dalam beberapa terbitan menjadi 5 bagian.
Bagian pertama, Rubu-ul Ibadah, berisi tentang cara-cara beribadah dengan baik dan benar. Sebelum melangkah pada bagian-bagian lain dalam kehidupan, Imam Ghazali mengedepankan hubungan vertikal, relasi antara hamba dan penciptanya. Hal ini penting sebagai penguatan karakter religius pada siswa. Bagian kedua, Rubu-ul Muhlikat, beliau menekankan pada pendidikan karakter tentang pengendalian hawa nafsu dan penguatan hati nurani yang tentunya untuk menguatkan mental peserta didik. Bagian ketiga adalah pengembangan emosional dan moral spiritual yang dibahas dalam Rubu-ul Munjiyat serta diakhiri dengan Rubu-ul Adah, atau segala hal yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari seperti Pendidikan Sosial, Etika Profesi dan Kewarganegaraan.
Pendidikan kita telah terlalu lama sibuk mengejar angka, ranking, dan capaian administratif, seolah nilai manusia hanya dapat diukur lewat nilai rapor dan hasil ujian. Padahal, esensi pendidikan adalah membentuk manusia yang utuh: berilmu, beradab, dan mengenal Tuhannya.
Ihya Ulumuddin bukan sekadar kitab klasik, melainkan cetak biru pembentukan karakter—spiritual, moral, sosial—yang relevan lintas zaman. Ia menjawab kegamangan kurikulum kita yang sering berubah namun tak pernah benar-benar berakar. Ketika murid diajarkan cara salat yang benar, cara menjaga hati dari penyakit, cara berakhlak dalam hidup bermasyarakat, itulah kurikulum yang membumi sekaligus menjulang.
Mungkin yang kita butuhkan saat ini bukan sekadar kurikulum baru, melainkan arah baru. Dan Imam al-Ghazali telah menunjukkannya, jauh sebelum kurikulum kita sempat menyusun indikator dan format asesmennya.
bin Husein

