Dunia pendidikan, khususnya di lingkungan madrasah, hari ini berduka, telah berpulang ke Rahmatullah, guru, teladan, dan sosok penuh dedikasi, Almarhum Ustadz Ridwan Sutrisno pada Senin, 15 Desember 2025. Kepergian beliau meninggalkan warisan tak ternilai berupa ilmu, ketelatenan, dan semangat pengabdian yang mendalam.
Bagi kami para santri dan muridnya, Ustadz Ridwan Sutrisno adalah figur yang luar biasa, seorang pendidik sejati yang mengabdikan hidupnya tanpa kenal lelah untuk kemajuan madrasah dan santri-santrinya.
Salah satu jejak terpenting yang diukir oleh almarhum adalah ketelatenan dan kemandiriannya dalam menyusun kurikulum madrasah. Di saat banyak orang mengandalkan materi siap pakai, Ustadz Ridwan dengan gigih menyusun materi ajar secara mandiri.

Beliau melakukan kliping (kompilasi) materi dari berbagai kitab kuning untuk menghasilkan bahan ajar yang relevan dan mendalam. Tak hanya itu, hampir seluruh kelengkapan administrasi madrasah turut disusunnya sendiri, menunjukkan tingkat dedikasi yang langka.
Saat menjabat sebagai Kepala Madrasah Diniyah Ula, beliau sangat memfokuskan pengajaran pada hal-hal dasar yang menjadi pondasi ibadah dan akhlak, seperti hafalan doa-doa shalat, Asmaul Husnah, dan doa-doa keseharian.
Di jenjang Tsanawiyah, beliau berperan sebagai guru, dan inisiatif beliau semakin menonjol. Beliau secara mandiri menyusun materi Aswaja (Ahlussunnah wal Jama’ah) dan Ke-NU-an. Upaya ini menunjukkan visi beliau yang jauh ke depan untuk membentengi dan membekali santri dengan pemahaman akidah dan tradisi keagamaan yang kuat, sebuah hal yang tidak mudah dilakukan di era modern ini.
Penulis mengingat betul cara mengajarnya yang khas. Ustadz Ridwan memiliki kemampuan bercerita yang luar biasa. Cerita-cerita beliau bukan sekadar selingan, melainkan “obat santri agar tidak mengantuk di kelas.” Kisah-kisah tersebut selalu menarik, mengandung hikmah, dan kini menjadi kenangan manis yang tak terlupakan bagi setiap muridnya.
Semangat beliau sungguh menyala. Sebuah ungkapan yang selalu terngiang adalah kekagetan kita, para murid, akan hasil karya beliau yang begitu banyak, padahal beliau tidak mahir mengoperasikan komputer. Kliping dan buku-buku materi yang beliau hasilkan isinya sungguh luar biasa, seolah-olah disusun oleh seorang profesional yang fasih teknologi. Kerendahan hati beliau tercermin dalam ucapan lugas yang beliau sampaikan, “Atiya mun tao elakoni dibik,” (Saya kalau tahu [mengoperasikan komputer] pasti melakukannya sendiri).
Ungkapan ini adalah pengakuan atas keterbatasan teknis sekaligus penegasan atas semangat juang dan dedikasi total, keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya dan beramal.
Kini, Ustadz Ridwan telah menunaikan tugasnya di dunia. Ketelatenan, keteladanan, dan semangat tanpa batas yang beliau wariskan adalah legacy abadi bagi orang-orang yang pernah dibimbingnya, termasuk penulis.
Ya Allah, terima semua jasa kebaikan, ilmu yang bermanfaat, dan amal shalih Ustadz Ridwan Sutrisno untuk pesantren, masyarakat, dan bangsa. Ampuni segala kekhilafannya, lapangkan kuburnya, dan karuniakan tempat terbaik di sisi-Mu. Semoga beliau berpulang dalam keadaan Husnul Khatimah.
Al-Fatihah
Dari muridmu yang selalu mengenang,
Zainuri

