Jum. Apr 19th, 2024

Oleh : Idris Ahmadi

________________________________________________________________________________

“Sadhejena kabheghusen se bekna lakoni kodhu lillahi ta’ala, jereya se enyamai akhlak ka Allah SWT”

Begitulah dawuh sang murabi saat pengajian kitab berlangsung, marilah kita urai makna kalimat sederhana di atas bersama – sama.

Ketika sekilas kita membacanya, maka yang terlintas dalam benak kita adalah tentang akhlak kepada sang pencipta, akhlak kepada allah berbeda dengan akhlak kita kepada sesame manusia. Akhlak kepada allah mencakup pada peribadatan (penghambaan) makhluk kepada-NYA, sedangkan akhlak terhadap manusia meliputi hubungan sosial sesame manusia. Disamping itu, perlu kita ingat bersama, salah satu tujuan penciptaan manusia dan hanyalah untuk menyembah kepada allah swt.

وَمَا خَلَقْتُ اْلجِنَّ وَاْلاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنَ

“ Dan tidak kami ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembah kepada allah”.

Maka dari itu, tugas manusia menyembah dan menghambakan diri kepada sang kholik, menyembahnya harus disertai dengan pondasi iman yang kuat dan tidak mudah goyah, agar tidak terombang – ambing oleh zaman modern saat ini. Termasuk dari tata cara menghambakan diri kepada Allah adalah dengan hati yang ikhlas. Dan semata-mata hanya mengharap ridha Allah SWT, tidak disertai dengan embel-embel selain Allah SWT, karena hal tersebut hanya akan menjadi penghalang sampainya ibadah kita kepada Allah, Imam Ibnu Athaillah As- Syakandari dalam kitabnya mengatakan,

مَنْ عَبَدَهُ لِشَئٍ يَرْجُوهُ مِنْهُ اَوْلِيَدْفَعَ بِطَا عَتِهِ وَرُودُّالْعُقُوبَةِ عَنْهُ فَمَا قَامَ بِحَقٍّ اَوْ صَافِيْهِ

“Barang siapa menyembah Allah karena mengharap sesuatu yang lain, atau karena menolak bahaya yang akan menimpa dirinya, maka ia belum menunaikan tugasnya terhadap Allah SWT, Sesuai sifat-sifat yang dimiliki-NYA”

                Maksudnya adalah, dalam melaksanakan ibadah, manusia senantiasa berharap memperoleh cahaya dari sifat-sifat yang dimiliki tuhan, harapan seorang hamba kepada Allah, sesuai sifat-sifatnya yang semata-mata menjadi miliknya, seperti Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Pengampun, serta melalui sifat-sifat kesempurnaan Allah Robbul Izza lainnya.

            Harapan itu adalah ibadah, yang dengan ibadah itulah Allah berkenan member dan menampatkan sihamba pada keridhaannya. Tidaklah perlu melihat ibadah dari segi kuantitas, tapi lihatlah ibadah dari segi kualitas yang menjamin ketenangan diri dalam menjalani hidup.

 

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.