Jum. Apr 19th, 2024

Alhamdulillah, saya diantara orang yang diberi kesempatan ikut mengalami bagaimana menjadi santri sekitar kurang lebih sekitar 12 tahun berada di lingkungan pondok pesantren. Pilihan menjadi santri tentu mempunyai konsekwensi sendiri sebagaimana menjadi apapun saja di hidup yang ada. Ada bahagianya juga ada susahnya. Saya tidak mau mengatakan ada positif ada negativnya. Tak semua bahagia positive begitu juga tak selamanya susah negative. Kadangkala bahagia menjadi postive, ketika kebahagian itu berhasil menciptakan kebahagian baru yang lebih universal dan maslahat.

Sebaliknya kebahagiaan itu negatif ketika kebahagian itu tak mampu dikendalikan tanpa melihat atau mengabaikan kesusahan yang ada.  Begitu juga dengan kesusahan tak selamanya negative. Kadang kesusahan menjadi postive ketika mampu menjadi energi bagaimana semakin memicu dan memacu diri untuk sabar dan semangat melahirkan kebaikan yang semakin baik. Jadi kalau bahasa pesantren yang disampaikan oleh Kiai. Bagaimana apapun yang ada barakah atau ziyadatul khair. Sehingga bahagia dan susah sama saja. Sama-sama mampu melahirkan kebaikan. Bersyukur kalau bahagia dan tabah ketika susah. Ini seharusnya isi keimanan dari seorang muslim seperti yang disampaikan Imam Al Ghazali.

Pertama kali menjadi santri meninggalkan kampung halaman, meninggalkan kedua orang tua dan orang tercinta demi cita-cita. Ada keantusiasan dan dukungan yang luar biasa. Baik keluarga, saudara bahkan tetangga. Ada rasa berat hati tak terhingga dengan perpisahan yang ada. Ada rasa haru luar biasa disaat pamitan banyak yang ikut mendoakan. Ada keyakinan kalau mendokan kebaikan adalah akan dibalas kebaikan.

Saya berangkat ke pesantren menjadi santri walaupun nanti sepulang nanti mau jadi apa. Saya berangkat tak punya cita-cita yang benar-benar dicita-citakan. Ketika masih berada di bangku sekolah dasar, siswa pandai diajarkan menentukan cita-cita sejak awal. Sayapun demikian punya cita-cita untuk apa saya sekolah tapi lupa karena selalu dikalahkan cita-cita cinta.

Sebelum berada di pesantren, saya sudah melihat di lingkungan masyarakat, lulusan pondok pesantren dengan berbagai profesi dan berkarier. Namun ada yang menarik menurut saya diantara yang ada. Profesi sebagai guru ngaji di kampung atau orang desa menyebutnya Keae langgeren. Setiap hari beliau senantiasa mendidik para santri yang ada dengan penuh ketekunan, ketabahan, dan keistiqomahan.

Pada biasanya beliau mengajari santrinya diantara waktu magrib dan isya’. Materi yang diajarkan tergolong sederhana namun kalau dikaji lebih dalam dengan kejujuran perasaan, apa yang dilakukan dan diajarkan sangat bernilai harganya. Para kiai tersebut biasanya mengajarkan alqur’an mulai dari mengenal huruf hijaiyah sampai nanti fasih dan hatam al qur’an. Selain juga mengajar beberapa dasar-dasar dan pokok-pokok agama.

Apa sesuatu yang menarik dari profesi itu? Bukankah profesi itu tak menjanjikan kesejahteraan hidup terutama kaitannya dengan ekonomi dan kenaikan pangkat atau jabatan?  Yang menarik dari profesi itu, diantaranya profesi itu sesuai dengan mottonya Departemen Agama “Ikhlas Beramal” yang benar-benar dibuktikan. Kiai-kiai kampung harus merelakan dirinya benar-benar mengabdikan diri mendidik sejak awal para santri yang usianya tergolong belia dan seringkali menguras pikiran dan menyesakkan hati. Tanpa ada bayaran dan gaji pasti sebagaimana pejabat pejabat pemerintah bahkan guru di lembaga pendidikan yang berada di naungan pemerintah.

Kadang kala ada oknum guru tertentu, semangat dan  sibuknya menyiapkan berkas untuk kenaikan gaji jauh lebih serius dibandingkan dengan bagaimana kesungguhan mengurusi anak didiknya. Bahkan ada yang tega-teganya di depan peserta didiknya menampilkan wajah garang sambil unjuk rasa berkaitan dengan kepentingan kesejahteran dirinya.

Disamping itu, mereka para pemangku jabatan di lingkungan pemerintah akrab dengan penghargaan atas jasa jasanya. Sementara guru ngaji atau kiai kampung hanya diam tanpa unjuk rasa dan bekerja serabutan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Mudah dilupakan jasanya dan diterlantarkan kesejahteraan hidupnya.  Ada pertanyaan siapa yang berhak dikatakan pahlawan tanpa tanda jasa?  Apakah para kiai kampung atau guru ngaji tersebut mengeluhkan nasibnya pada pemerintah? malah semua seperti sepakat tidak, beliau-beliau berharap kesejahteraan pada penentu kesejahteraan itu sendiri yaitu Allah SWT dengan tetap berusaha, berdoa, dan tidak putus asa dari rahmatNya.

Setelah berada di pondok pesantren, para santri diserahkan langsung kepada pengasuh pesantren atau Kiai sebelum menentukan asrama, lembaga pendidikan, dan melengkapi administrasi lainnya. Tak kalah pentingnya, para wali santri menyerahkan kepada kepala asrama yang menjadi orang tua asuh dan wakil dari pengasuh. Sebagai orang tua asuh, ketua kamar punya kewajiban mengurusi kebutuhan jasmani sebagai wakil pengasuh ketua kamar mengurusi kebutuhan ruhani. Pengasuh pesantren seringkali menyampaikan kalau tempatnya ketua kamar tidak boleh ditempati sembarangan oleh santri. Itu diantara pendidikan karakter yang ditanam sejak awal.

Contoh lain, sejak awal di pesantren sudah diajarkan hidup mandiri tanpa membeda-bedakan status darah. Entah darah biru atau darah warna lainnya sama saja. Pengasuh sempat menyampaikan dengan bahasa lokal. “Se anakna keae, panyangkek statusse  e lorong laok jek angguy lorana e pondug”  (kalau putranya Kiai letakkan statusnya di jalan selatan. Jangan dibawa ke pondok). Itu pesan sekaligus ajaran yang ditanamkan pada para santri agar tidak semena-mena berada di pondok pesantren dengan mengandalkan dan membangga-banggakan status sosialnya.

Hidup sederhana dan berjamah itu yang diutamakan atau bahasa yang lumrah terdengar yaitu senasib seperjuangan. Untuk itu, pondok pesantren mengatur gaya hidup para santri dengan segala keterbatasan yang bertujuan kemaslahatannya. Santri dilarang membawa hp misalnya karena memang untuk memberikan langkah preventif terhadap prilaku menyimpang yang dipicu oleh media sosial atau dunia maya. Santri dilarang merokok agar terbiasa hidup hemat.

WASIAT KIAI

Disamping mengacu pada Al Qur’an. hadist nabi, dan kitab-kitab dikarang para ulama yang mata rantai keilmuannya sampai kepada Nabi Muhammad SAW,   dawuh-dawuh Kiai bagi santri seperti azimat yang diyakini mampu menjadi perantara mendapatkan ilmu barakah. Biasanya dawuh-dawuh tersebut menjadi amaliah yang terus dipertahankan terutama oleh santrinya sendiri walaupun pada akhirnya juga menyebar ke khalayak.

Misalnya tentang  Khittah Pesantren. menurut KHR. As’ad Syamsul Arifin (Mediator Berdirinya NU), mengatakan bahwa khittah pesantren yaitu bagaimana pesantren bisa kembali kepada pesantren di masa Sunan Ampel yang berhasil mencetak para santrinya bermacam-macam. Ada yang menjadi fuqaha, seniman, negarawan, dan waliyullah.  Dari sana ada pelajaran bahwa pondok pesantren tidak membatasi para santri-santrinya agar semua mendalami satu bidang saja tapi dipersilahkan mengembangkan potensi yang menjadi fitrahnya.

Mengenai istilah Pesantren Salaf dan Pesantren Modern. K.H. Afifuddin Muhajir, Dosen Ma’had Aly (Situbondo) memberikan pandangan bahwa pesantren salaf dan modern tidak ada bedanya. Salaf itu hatinya modern pikirannya. Jadi bagaimana pikiran terus mengikuti perkembangan tidak menolak kemanjuan semisal perkembangan teknologi. Sedangkan hatinya, tetap mempertahankan tradisi Salafunas Shalih semisal prilaku dan gaya hidup sehari-hari. K.H. Mustafa Bisri atau yang akrab dipanggil Gusmus memberikan penjelasan bahwa santri bukan hanya orang yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlaq santri dialah santri.

Abdul Aziz Mansur (Lirboyo) berpesan kepada santri yang kembali ke tengah-tengah masyarakat, bagaimana ketika pulang ke masyarakat bisa menjadi paku yang bisa menyatukan lapisan masyarakat walau dianya sendiri tidak terlihat. KHR. Ahmad Fawaid As’ad (Situbondo) menegasakan bagaimana pondok pesantren sebagai tafaqquh fiddin mempunyai tiga kompetensi yang menjadi ciri khas dan identitas pesantren yaitu terus mengusahakan para santrinya agar bisa baca al qur’an dengan baik, bisa membaca kitab dengan benar, dan mempunyai akhlaqul karimah.

Ketika pemerintah meresmikan Hari Santri Nasional yang bersamaan dengan Resolusi Jihad NU yang dicetuskan K.H Hasyim Asy’ari. Ada kebanggan tersendiri bagi kalangan santri,. Meski ada juga yang menolak dengan alasan tertentu. Akan tetapi yang terpenting bagaimana saling menghargai antara yang menolak atau menerima adanya Hari Santri Nasional. Menjadikan perbedaan adalah rahmat. Itu akhlaq santri

Saya teringat dengan dawuh guru maziltu thaliban yang mempunyai arti Sampai kapanpun tetap santri. Bagaimana tetap mempertahankan ajaran ahlussunnah wal jamaah yang cinta tanah air sebagai salah satu ajaran di dalamnya hubbul wathan minal iman.

NURTAUFK

 

Postingan terkait..

One thought on “SELAMANYA SANTRI”
  1. sejatinya santri….diantaranya
    “Husnul Adab ‘Ma’a allahi wa “ma’a l Kholqi”.
    (dekat dengan Allah dan andeb ashor kpd semua mahluk Allah)
    santri harus berevolusioner,tp harus tetap eksis dan konsisten dalam perjuanganya membela Ahlus sunnah wal jamaah.
    merapatkan barisan …mantapkan Aqidah ditengah Globalisasi modern.
    siap menjadi santri yang bisa bersaing…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.