Jum. Apr 19th, 2024
NURUT TAQWA

Bertempat di Desa Tribung Cermee Bondowoso, pertemuan rutin alumni dengan para kiai Pondok Pesantren Nurut Taqwa kembali sukses di gelar (14/7). Sedikitnya 120 alumni hadir dalam acara tersebut. Kali ini majlis keluarga pesantren hanya diwakili oleh KH. Ma’shum Zainullah dan KH. Barri Sahlawi Zain, M.Si karena KH. Nawawy Ma’shum masih dalam perjalanan pulang dari agenda SAMAWI di Jakarta.

Kegiatan bertema “Nyambung Pangesto” diawali dengan tawasul dan pembacaan istigasah yang dipimpin oleh ketua alumni, H. Husni Mubarak. Dilanjut dengan pembacaan kitab Kifāyatul Atqiyā pada sub pembahasan manajemen waktu (hifdzu al-auqāt) oleh KH. Sahlawi. Sesi ini dilanjut dengan tanya-jawab seputar agama (masail al-diniyah).

Ada empat persoalan dari alumni, yakni: tips memelihara shalat, hukum mengganti salat saat haid, menjamak salat saat prosesi pernikahan dan melakukan jimak di masjid agar memiliki keturunan. KH. Sahlawi menjelaskan bahwa tips ampuh agar alumni istikamah mengerjakan salat lima waktu adalah dengan pembiasaan melakukan salat berjamaah dan memperteguh niat. Terkait niat, beliau juga menyampaikan bahwa kedudukannya sangat vital dan determinan dalam aktivitas sehari-hari. “Misalnya kita hendak tidur siang supaya bisa melek nonton bola, maka niatkanlah tidur tersebut untuk salat malam, dan salatlah. Sedangkan nonton bola urutkanlah pada nomor ke delapan belas!” tuturnya sambil tersenyum.

Mengenai persoalan mengganti salat saat haid, beliau menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak memerintahkan mengganti salat yang ditinggalkan saat haid. Tapi jika darah haid misalnya keluar beberapa saat setelah salat zuhur masuk waktu maka hukumnya wajib diganti. Jika sucinya terjadi di waktu salat asar maka dianjurkan meng-qadla’ salat sebelumnya (Zuhur). Demikian juga jika suci terjadi pada waktu salat isyak maka dianjurkan meng-qadla’ salat maghrib. Berbeda dengan ibadah puasa ramadan, perempuan harus menggantinya di waktu lain hingga hitungannya genap satu bulan.

Sementara pertanyaan ketiga diakuinya sebagai persoalan kekinian. Menurut alumni PP. Salafiyah Syafiiyah Sukorejo tersebut kitab klasik belum menyentuh persoalan prosesi pernikahan persis seperti yang ditanyakan, yakni make up dan acara adat yang memakan waktu berjam-jam sehingga sulit melaksanakan salat. Tetapi beliau menyarankan untuk tetap melaksanakan salat pada waktunya, terlebih faktor yang dibolehkan seseorang melakukan salat jamak hanya dua, yaitu perjalanan (safar) dan karena turunnya hujan bagi orang yang biasa salat jamaah di masjid.

Pertanyaan keempat mengundang gelak tawa. “Di daerah saya ada pasangan suami-istri yang tidak kunjung punya anak setelah lama menikah. Karena merasa kehabisan cara, akhirnya mereka berinisiatif melakukan jimak di tempat mustajab (masjid) dengan harapan segera punya anak. Dan ternyata usahanya berhasil. Apa hukumnya?” tanya Darmaji.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Lora Sahlawi (panggilan akrab beliau) menyampaikan bahwa fenomena di atas hanya mitos. Beliau juga berpesan agar masjid digunakan sebagaimana mestinya, seperti iktikaf, salat, pidato keagamaan dan semacamnya. “Itu hanya mitos. Jangan sampai suatu saat masjid beralih fungsi karena ada anggapan semacam itu. Gunakanlah masjid untuk iktikaf, bersujud, salat dan sebagainya,” tandasnya.

Sebelum menutup agenda dengan doa, KH. Ma’shum kembali menguatkan ikatan (samphungan; pangisto) antara alumni dengan pesantren dan majlis keluarga. Beliau menegaskan bahwa hubungan positif antar semua pihak akan membuahkan hasil yang manis bagi masa depan pesantren. (Anwari NH)

Catatan: Agenda pertemuan berikutnya akan dilaksanakan di Curah Tatal Situbondo.

Postingan terkait..

One thought on “GELAR PERTEMUAN RUTIN: NURUT TAQWA PERKUAT SOLIDARITAS ALUMNI”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.