Sel. Jan 20th, 2026

eabsen – Wujud Transformasi Madrasah Diniyah untuk Modern.

Cerita ini berawal dari sebuah kegelisahan yang sangat personal: rasa malas membawa absen dan jurnal fisik ke mana-mana. Siapa sangka, kegelisahan sederhana ini menjadi cikal bakal lahirnya aplikasi eabsen. Ini mungkin terdengar sepele, tetapi jika kita melihat sejarah, banyak startup besar di dunia juga tumbuh dari kegelisahan.

Ambil contoh Gojek. Nadiem Makarim merintis aplikasi ini karena susahnya mencari ojek di Jakarta. Lalu ada WhatsApp, yang diciptakan Jan Koum karena terganggu oleh biaya SMS yang mahal. Begitu pula Tokopedia, lahir dari kegelisahan William Tanuwijaya yang melihat kurangnya eksistensi e-commerce yang terpercaya di Indonesia. Mereka semua menemukan solusi dari masalah yang nyata.

Begitu pun saya. Hanya karena malas ribet, lahirlah presensi digital berlabel eabsen. Hei, jangan meremehkan pemalas! Bill Gates, pendiri Microsoft, bahkan pernah berujar kalau ia lebih tertarik bekerja dengan pemalas, karena mereka tahu cara menyingkat waktu. Ha-ha-ha! Meskipun terdengar seperti alibi, coba bandingkan betapa tidak praktisnya membawa tumpukan absen fisik dibanding hanya membawa smartphone?

Awalnya, eabsen hanyalah sistem absensi digital dan jurnal digital untuk kelas tempat saya mengajar. Namun, dari sana, ide ini terus berkembang. Kini, eabsen sudah dilengkapi dengan selusin fitur dan mulai digunakan oleh banyak guru madrasah diniyah.

Kami bahkan memiliki versi RDD (Rapor Digital Diniyah) sebagai jawaban kami untuk RDM (Rapor Digital Madrasah). Tentu saja, RDD tidak sekompleks RDM. Aplikasi kebanggaan Kemenag itu punya budget berjuta-juta, sementara RDD kami hanya modal “saebu-satengngah” — sebuah lelucon ala Pak Imam Rosadi yang berarti “saebu kaso-on, satengngah minta tolong” Ha-ha-ha! Meskipun terkesan sinis, kami bangga dengan fitur-fitur yang kami tawarkan, antara lain:

  • Presensi Siswa & Guru
  • Jurnal Guru
  • Bank Soal
  • Pangkalan Nilai
  • Laporan Kehadiran guru dan siswa (harian, mingguan, bulanan, semester)
  • Jadwal Harian dan Mingguan
  • e-Ijazah
  • e-Rapor
  • CBT (Computer Based Test) kami pun tak kalah canggih, memungkinkan 6 mata pelajaran dikerjakan dalam sekali duduk tanpa harus gonta-ganti sesi.
Tampilan CBT-NT

Tak berhenti di situ, kami terus berupaya membawa eabsen ke level yang lebih tinggi. Saat ini, eabsen sedang dalam progres integrasi dengan EMIS (Education Management Information System) dan RDM (Rapor Digital Madrasah). Ini adalah langkah krusial untuk memastikan data madrasah diniyah dapat tersinkronisasi dengan sistem nasional, mempermudah pelaporan dan pengelolaan data secara menyeluruh.

Selain itu, kami juga meningkatkan kenyamanan pengguna dengan fitur autentikasi menggunakan akun Google. Ini berarti guru dan pengelola madrasah bisa masuk ke eabsen dengan lebih mudah dan aman, tanpa perlu membuat akun baru yang terpisah. Berbagai pengembangan lain juga terus berjalan demi menciptakan ekosistem digital yang semakin lengkap dan intuitif untuk madrasah diniyah.

Namun, di balik semua kecanggihan teknologi ini, ada satu hal penting yang harus diingat: secanggih apa pun teknologi, tetap tidak akan bermakna jika tidak dimanfaatkan dengan semestinya. Ini bukan melulu tentang materi atau biaya, tetapi tentang seni memanfaatkan inovasi untuk memajukan pendidikan madrasah diniyah. eabsen adalah bukti bahwa dari kegelisahan sederhana, bisa lahir sebuah transformasi besar.

Selamat hari sabtu!

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses