Sen. Jan 19th, 2026

AI di Ruang Kelas: Berkah atau Bencana?

code projected over woman
Photo by ThisIsEngineering on <a href="https://www.pexels.com/photo/code-projected-over-woman-3861969/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Dunia pendidikan kita sedang berada di persimpangan jalan sejak hadirnya Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan. Di satu sisi, AI tampak seperti tongkat sihir yang bisa menjawab segala pertanyaan dalam hitungan detik. Namun di sisi lain, kehadirannya memicu kegelisahan mendalam: apakah kita sedang mendidik manusia yang berdaulat secara berpikir, ataukah sedang melatih robot yang hanya pandai menyalin jawaban?

Sebenarnya, tantangan “asal copas” ini bukanlah hal baru. Saya teringat kisah saat masih di Madrasah Aliyah (MA) dulu, ketika teknologi pencarian masih didominasi oleh Google konvensional. Saat itu, tim buletin IMANT pernah mengalami kejadian yang cukup fatal sekaligus menggelitik. Karena mengejar tenggat waktu dan kemudahan, satu tim secara membabi buta menyalin sebuah artikel dari Google untuk mengisi kolom buletin. Ironisnya, artikel yang dicomot ternyata isinya bertentangan dengan pemahaman Maulid Nabi yang secara umum dipahami di lingkungan pesantren kita. Bayangkan, sebuah buletin pesantren tapi isinya malah “menyerang” tradisi Maulid hanya karena penulisnya malas melakukan verifikasi dan terlalu percaya pada hasil pencarian teratas. Kisah IMANT ini adalah alarm keras: Jika di zaman Google saja kita bisa kecolongan karena malas membaca utuh, bayangkan risikonya di zaman AI yang bisa merangkai kata-kata salah dengan gaya bahasa yang sangat meyakinkan.

Di sisi lain, jika digunakan dengan benar, AI adalah berkah luar biasa untuk efisiensi. Guru bisa membuat rencana pembelajaran atau draf soal dalam sekejap, sehingga punya lebih banyak waktu untuk mendidik karakter dan akhlak murid, hal yang tidak dimiliki oleh algoritma mana pun. Bagi santri, AI adalah tutor pribadi 24 jam yang bisa membantu membedah konsep sulit, asalkan tetap diposisikan sebagai “teman diskusi”, bukan penentu keputusan akhir. Kiai Imdad (Waka Pesantren 1 PP. Nurul Jadid) memberikan perspektif yang sangat jernih mengenai hal ini. Beliau menyebut bahwa AI bisa menjadi anugerah besar bagi mereka yang terbiasa berpikir, namun sebaliknya, ia bisa menjadi musibah bagi mereka yang malas.

Bagi santri yang memiliki dasar logika kuat, AI akan menjadi akselerator dalam menggali ilmu. Namun bagi mereka yang malas melatih logika, AI justru akan mematikan daya kritis karena mereka hanya akan menjadi konsumen jawaban instan tanpa pernah merasakan proses riyadhah (latihan) berpikir. Pada akhirnya, AI hanyalah sebuah wadah. Teknologi boleh menyediakan data melimpah, namun otoritas kebenaran tetap ada pada verifikasi manusia. Peran kita hari ini telah bergeser: bukan lagi sekadar mencari informasi, melainkan menjadi penilai informasi tersebut. Jangan sampai tragedi buletin IMANT terulang kembali dalam bentuk yang lebih modern karena kita terlalu manja dengan kemudahan AI.

AI hanyalah sebuah alat, seperti pisau. Benarlah apa yang disiratkan oleh Kiai Imdad; AI tidak secara otomatis membuat kita pintar, ia hanya melipatgandakan apa yang sudah ada dalam diri kita. Di dunia pendidikan dan pesantren, teknologi harus tetap menjadi khidmah (pelayan) bagi ilmu, bukan pengganti dari proses thalabul ilmi itu sendiri.

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses