Sen. Jan 19th, 2026

Mengapa Kita Tak Pernah Terlalu Tua untuk Melek Teknologi

Saya teringat sebuah momen di tahun 2013. Teman saya, Zuhri, pernah membeli sebuah buku komputer di sebuah bazar. Isinya cukup mentereng pada masanya: daftar direktori situs-situs web populer di dunia. Namun, sebuah ironi terjadi bahkan sebelum sampul buku itu memudar. Di tahun yang sama saat buku itu dibeli, beberapa alamat web yang tercantum di dalamnya sudah tidak bisa diakses. Isinya kadaluarsa justru saat ia baru saja dibaca.

Kejadian serupa mungkin dialami banyak orang yang membeli buku panduan Microsoft Windows di tahun 2015. Jika hari ini buku itu dibuka kembali, instruksi di dalamnya mungkin sudah terasa seperti artefak sejarah. Hal ini memicu pertanyaan besar: masihkah esensial membeli buku-buku panduan fisik di era yang bergerak secepat kilat ini?

Lihat saja fenomena buku panduan CPNS yang setiap tahun laku keras. Orang-orang rela membayar mahal untuk buku setebal bantal, padahal isinya seringkali hanyalah daur ulang soal lama. Padahal, strategi pengerjaan soal hingga simulasi CAT semuanya tersaji secara gratis dan lebih update di internet. Kita sering terjebak pada, false sense of progress, merasa sudah belajar hanya karena telah memiliki buku fisik yang tebal, padahal ujiannya sudah digital namun cara belajarnya masih statis.

Faktanya, teknologi seharusnya tidak perlu masuk dalam daftar buku yang wajib dibeli. Perhatikan saja ketika kita membeli HP baru. Hampir tidak ada dari kita yang benar-benar serius membaca buku manual yang disertakan dalam kotak. Kita langsung menyalakan mesinnya dan mencoba setiap menunya. Bahkan, kita bisa melihat anak kecil yang baru melek teknologi dapat mengoperasikan HP secara “sat-set”. Mereka tidak pernah kursus, apalagi membaca buku panduan. Mereka belajar melalui sentuhan, trial and error, dan keberanian untuk “salah pencet”.

Seringkali, hal yang paling mengesankan dalam teknologi justru bukan fitur-fitur yang rumit, melainkan “sihir-sihir” kecil berupa shortcut yang membuat pekerjaan jadi jauh lebih mudah. Lucunya, saat kita baru mengetahuinya, kita sering berteriak, “Wow, ternyata bisa gitu ya?” atau “Baru tahu kalau ada tombol ini!”. Padahal, fitur itu sudah ada di sana sejak bertahun-tahun lalu, menunggu untuk ditemukan. Kita tidak butuh buku setebal 500 halaman untuk tahu rahasia itu; kita hanya butuh rasa ingin tahu untuk mengeksplorasi.

Alasan “saya sudah terlalu tua” atau “saya gaptek” hanyalah tameng untuk berhenti belajar. Hambatan terbesarnya bukan pada usia, melainkan pada kebiasaan kita yang masih mencari “buku panduan statis” di dunia yang sudah dinamis. Menjadi melek teknologi di masa sekarang adalah tentang cara berpikir. Jika sebuah buku direktori web bisa kadaluarsa dalam hitungan bulan, maka satu-satunya cara agar kita tidak ikut “kadaluarsa” adalah dengan terus mencoba.

Teknologi tidak butuh ruang di lemari buku, ia butuh ruang di kepala. Jangan habiskan energi untuk menghafal panduan yang akan basi, investasikan waktu untuk mencoba apa yang sudah tersedia gratis di depan mata.

Sumber gambar: Freepik

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses