Sen. Jan 19th, 2026

Akhir Tahun dan Reboisasi Ruhani: Menanam Kembali di Bulan Rajab yang Mulia

Desember akhirnya tiba di penghujungnya. Secara administratif, kita sibuk menutup buku laporan dan menyusun rencana tahun depan. Namun, pergantian kalender masehi kali ini terasa lebih bermakna karena beriringan dengan masuknya bulan Rajab, salah satu dari bulan-bulan yang dimuliakan. Jika akhir tahun masehi adalah waktu untuk evaluasi lahiriah, maka Rajab adalah momentum untuk memulai reboisasi batiniah.

Tanpa kita sadari, setahun belakangan ini lahan amal di dalam hati kita mungkin mulai mengalami penggundulan. Rutinitas pekerjaan yang sekadar formalitas, tanggung jawab yang kehilangan ruh, hingga kesibukan duniawi yang tak habis-habisnya, perlahan-lahan mengikis kesadaran kita dalam beribadah. Amal yang gundul bukan berarti kita berhenti melakukannya, melainkan amal tersebut kehilangan pohon kemanfaatannya. Kita bergerak tapi hampa, kita berbicara tapi tak sampai ke hati. Maka, Rajab hadir sebagai kesempatan untuk memulihkan kembali ekosistem spiritual kita yang mulai gersang.

Para ulama seringkali memberikan tamsil yang sangat indah tentang posisi bulan ini sebagaimana yang masyhur dalam kitab-kitab klasik: “Bulan Rajab adalah bulan untuk menanam, bulan Sya’ban adalah bulan untuk menyiram, dan bulan Ramadhan adalah bulan untuk memanen.” Artinya, kemanisan iman yang kita dambakan saat Ramadhan nanti tidak akan pernah ada jika bibitnya tidak kita tanam hari ini, di bulan Rajab. Jika lahan amal kita hari ini masih gundul, maka jangan harap akan ada panen raya pahala dan keberkahan di hari raya nanti.

Menanam kembali amal yang gundul tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Di bulan Rajab ini, kita bisa memulai reboisasi kecil dimulai dari pupuk istighfar untuk membersihkan sisa-sisa kelalaian selama setahun terakhir. Kemudian menanam benih konsistensi dengan menghidupkan kembali semangat membaca Al-Quran yang sempat layu karena kesibukan. Terakhir adalah memberikan pagar niat yang murni karena Allah, agar amal kita tidak mati dimakan hama riya’ atau kering karena haus pujian manusia.

Mari menjadikan akhir tahun ini bukan sekadar ajang perayaan angka yang berganti, tapi sebagai titik tolak untuk kembali produktif dalam kebaikan. Jangan biarkan lahan amal kita tetap gersang. Seorang hamba yang berhenti menanam, sejatinya ia sedang menunggu kekeringan di masa depan. Rajab adalah undangan bagi kita untuk kembali bekerja di ladang kebaikan dengan ketulusan yang baru.

Hati yang gundul tidak butuh perayaan, ia butuh penanaman kembali. Rajab adalah hujan pertama bagi jiwa yang gersang, sebelum Ramadhan memanen hasilnya dalam kedamaian.

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses