Sel. Jan 20th, 2026

Merawat Nyala Digital: Pelajaran dari Pasang Surut Statistik nuruttaqwa.net

Membangun sebuah situs itu mudah, namun menjaganya agar tetap bermanfaat adalah ikhtiar kolektif yang tak ada habisnya. Bagi saya, nuruttaqwa.net adalah aset berharga yang perjalanannya penuh dinamika. Situs ini digagas oleh kakak kelas saya, kakak kelas sekian tingkat lebih tepatnya, Cak Anwari Nuril Huda, saat saya masih kuliah di Surabaya sekitar tahun 2016. Sejak awal, wadah ini diniatkan sebagai ruang silaturahmi gagasan antar alumni dan santri.

Namun, sebuah platform digital hanyalah infrastruktur kosong jika tidak dirawat bersama. Ada masa di mana sebuah situs bisa kehilangan denyutnya jika kekurangan kontribusi konten.

Jika melihat data statistik Jetpack yang terlampir, ada pemandangan menarik pada rentang tahun 2019 sampai 2020. Angka pembaca menunjukkan titik 0. Hal ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa tanpa adanya pembaruan tulisan, sebuah situs pesantren yang sudah dibangun dengan susah payah bisa mati suri begitu saja.

Melihat kondisi tersebut, pada tahun 2021 saya mencoba ikut menyumbangkan tulisan sederhana, sebuah tutorial teknis tentang cara pindah kontak saat restart HP. Langkah kecil ini tentu bukan faktor tunggal, namun seiring dengan mulai masuknya kembali berbagai kontribusi tulisan dari rekan-rekan lain, grafik situs ini perlahan mulai bergerak naik. Dari yang awalnya sunyi, kini di tahun 2024-2025 situs ini mulai ramai dikunjungi kembali oleh ribuan pembaca.

Grafik yang mulai menanjak ini seharusnya memicu renungan bagi kita, terutama bagi yang berkhidmat di dunia pendidikan. Saat ini, kita menghadapi tantangan besar terkait penurunan kreativitas di ruang kelas.

Seringkali, proses mengajar terjebak dalam rutinitas formalitas, sekadar menggugur kewajiban administratif, tanpa dibarengi gairah untuk memperbarui wawasan. Ketika minat membaca dan kemauan untuk menulis menurun di kalangan pengajar, maka transfer ilmu akan terasa gersang. Menulis sebenarnya adalah cara paling jujur untuk memaksa diri kita tetap membaca dan berpikir kreatif, agar kita tidak sekadar menjadi penyampai materi yang monoton.

Perjalanan grafik nuruttaqwa.net dari angka nol hingga kembali mendaki memberikan kita beberapa pelajaran penting:

  1. Ikhtiar Kolektif: Pertumbuhan statistik ini adalah hasil dari mulai aktifnya kembali distribusi gagasan. Situs ini milik bersama, dan keberlangsungannya bergantung pada seberapa banyak alumni dan santri yang mau meluangkan waktu untuk berbagi ilmu.
  2. Menjaga Marwah Digital: Jika bukan kita yang mengisi narasi tentang pesantren dan pemikiran kita, maka ruang digital ini akan diisi oleh narasi lain yang mungkin tidak sejalan.
  3. Kemanfaatan yang Panjang: Tulisan-tulisan sederhana yang kita buat hari ini bisa menjadi referensi yang terus dicari orang hingga bertahun-tahun mendatang. Ini adalah bentuk pengabdian yang melampaui sekat waktu.

Mengajar tanpa membaca adalah formalitas yang hampa, namun menulis tanpa membaca adalah kesia-siaan yang nyata. Mari menulis, agar kita tidak sekadar menjadi saksi zaman, melainkan penggerak perubahan.

Oleh santri yang tau bahwa dirinya tidak tau, Zaiwuwi

By Ibnu Husain

Santri Nurut Taqwa yang hobi ini dan itu.

Postingan terkait..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses